-->

Headlines

The Ecosoc News Monitor

14 October 2009

PKL Lorong 104 Minta Pertemuan Segitiga

http://www.beritakota.co.id/berita/kota/16884-pkl-lorong-104-minta-pertemuan-segitiga.html

PKL Lorong 104 Minta Pertemuan Segitiga
Rabu, 14 Oktober 2009 03:08
JAKARTA, BK
Ratusan pedagang kakilima (PKL) Lorong 104, Rawabadak Utara, Koja, meminta Walikota Jakarta Utara Bambang Sugiyono menggelar pertemuan segitiga. Yakni, antara pedagang, pemkot, serta DPRD dan Komnas HAM. Langkah itu dimaksudkan untuk melindungi semua kepentingan sehingga pedagang tidak hanya menjadi sebagai tumbal kebijakan.

"Saat ini Pemkot Jakut gencar merencanakan relokasi pedagang. Namun pedagang belum sepakat sebelum digelar pertemuan segitiga," kata Sekretaris Umum Sentra Usaha Kecil Permai (SUKP), Betrizal, kepada Berita Kota, Selasa (13/10).

Sejauh ini, kata Betrizal, Pemkot Jakut belum menggelar sosialisasi terkait relokasi pedagang. Agar salah satu pihak tidak dirugikan, para pedagang berharap Walikota segera menggelar pertemuan segitiga. "Para pedagang berharap Walikota bersedia memenuhi keinginan mereka. Jika sudah ada titik temu kami bersedia direlokasi. Jika tidak, kami akan tetap bertahan," tukasnya.

Dia menambahkan, pertemuan segitiga sesuai anjuran anggota DPRD yang disampaikan kepada pedagang dan Walikota. Namun, sejauh ini tidak ada tanda-tanda Pemkot Jakut bakal menggelar pertemuan.

Soal perkembangan para pedagang dan kondisi di Lorong 104, kata Betrizal, tidak satu pun pedagang yang bersedia menandatangani rencana relokasi. Padahal waktu pendaftaran sudah diberikan pada 11-14 September dan 5-10 Oktober. "Tidak satu pedagang pun yang bersedia direlokasi. Mereka akan tetap bertahan di lokasi yang sudah puluhan tahun mereka tempati," katanya.

Puluhan pedagang Blok D di belakang Terminal Pasarminggu juga menolak ditertibkan. Mereka sudah menerima surat perintah bongkar (SPB) dari Walikota Jakarta Selatan No 1133/1.824.24 per 9 Oktober yang memerintahkan pedagang membongkar usahanya. Soalnya, kawasan itu bakal ditata menjadi lokasi binaan (lokbin).

"Enak saja main gusur. Sejak 2003 lalu kami sudah berdagang di sini. Kami yang menjaga lokbin ini biar tidak kosong dan berantakan. Kenapa tiba-tiba mau digusur?" ujar Riki Aruan, perwakilan pedagang, Selasa (13/10).

Sementara aparat Kecamatan Kemayoran, Jakarta Pusat menertibkan 17 PKL di Jl Garuda, Jl Bungur Raya, Jl Tembaga. Menurut Camat Kemayoran Marhayadi, kemacetan yang acap terjadi di kawasan itu umumnya dipicu beberapa PKL yang bercokol di trotoar, badan jalan, jalur hijau, saluran, dan sebagainya. "Penertiban berjalan lancar, tak ada perlawanan," katanya. O dra/brn/amh