Oleh
Philip Matias Giri/Didit Ernanto
Kupang-Empat Kabupaten di NTT yakni,Alor, Lembata, Rote Ndao, dan Sumba Barat Daya (SBD) rawan pangan. Ketersediaan pangan di empat kabupaten itu sangat kurang.
Hal itu disampaikan Kepala Badan Bimas Ketahanan Pangan (P2KP) NTT Petrus Langoday yang dihubungi SH, Selasa (10/6) siang.
"Kami sudah survei ke daerah dan empat kabupaten ini menjadi potensi rawan pangan. Ada beberapa yang menjadi penyebabnya seperti panen kurang, dan produksi pangan tidak mencukupi serta berdasarkan Sistem Kewaspadaan Pangan dan Gizi (SKPG),"ujar Petrus.
Kepala Dinas Pertanian dan Tanaman Pangan NTT Piet Muga mengatakan sesuai UU No.7 Tahun 1996 tentang Ketahanan Pangan terpenuhi bagi rumah tangga yang tercermin dari tersedianya pangan bagi jumlah, mutu, dan terjangkau. "Kalau yang kami ketahui kurang tersedianya beras di NTT terutama empat kabupaten ini jadi rawan beras, padahal ada beberapa Daerah sementara bersiap-siap untuk panen karena curah hujan tahun ini lebih dan cukup bagus," kata Piet Muga kepada SH yang dihubungi di rumahnya.
Sementara itu, lebih dari 25.000 ha sawah di Jabar mulai terancam kekeringan. Areal lahan pertanian yang terancam kekeringan ini berada di 12 daerah di Jabar. Kepala Dinas Pertanian dan Tanaman Pangan Jabar Lucky R Djunaedi, mengakui mulai adanya areal pertanian yang mengalami kekeringan. "Kekeringan hampir merata di seluruh daerah di Jabar," kata Lucky di Bandung,
Saat ini saja luas lahan yang mengalami kekeringan 2.766 ha. Kondisi kerusakan akibat kekeringan beragam mulai dari rusak berat, sedang hingga kerusakan ringan. Areal yang mengalami kekeringan terluas terjadi di Sukabumi, yaitu 1.604 ha. Areal yang terancam kekeringan terluas ada di Indramayu seluas 12.751 ha.
Tahun lalu lahan pertanian di Jabar yang mengalami kekeringan luasnya mencapai 98.345 ha. Lahan yang puso seluas 35.861 ha. Sedangkan saat ini disebutkan Lucky sudah ada lahan yang mengalami puso. "Tapi tidak terlalu luas,"ujarnya.
Tetap Optimistis
Lucky memperkirakan lahan yang mengalami puso hanya sekitar 1 persen saja. Lucky tetap optimistis target produksi sebanyak 10 juta ton gabah kering giling (GKG) tahun ini tetap dapat terpenuhi. Saat ini saja areal yang sudah mulai ditanami mencapai 550.190 ha. Lahan yang mengalami kekeringan merupakan lahan tadah hujan. Sedangkan lahan yang memperoleh air dari irigasi teknis masih dapat ditanami.
Kebutuhan pupuk urea di Jabar masih bisa dipenuhi. Kebutuhan pupuk urea di Jabar setiap tahun mencapai 800 ribu ton. "Stok pupuk urea mencukupi. Tidak ditemukan adanya stok pupuk yang merembes ke Jatim dan Jateng," kata Lucky. Selain itu petani di Jabar banyak menggunakan pupuk organik sehingga mengurangi ketergantungan kepada pupuk urea.n
http://www.sinarharapan.co.id/berita/0806/11/nus01.html