-->

Headlines

The Ecosoc News Monitor

18 June 2008

Sebanyak 31.066 Anak Balita di Bekasi Kekurangan Gizi

Gizi Buruk
Sebanyak 31.066 Anak Balita di Bekasi Kekurangan Gizi
Selasa, 13 Mei 2008 | 00:43 WIB
 

Bekasi, Kompas - Sebanyak 15.066 anak berusia di bawah lima tahun atau balita di Kota Bekasi dan sedikitnya 16.000 anak balita di Kabupaten Bekasi, Jawa Barat, mengalami kekurangan gizi alias rawan gizi. Kasus anak balita rawan gizi itu ditemukan hampir di seluruh kecamatan di Kota Bekasi dan di Kabupaten Bekasi.

 

Berdasarkan data dari Dinas Kesehatan Kota Bekasi dan Dinkes Kabupaten Bekasi, dari 15.066 anak balita rawan gizi di Kota Bekasi itu terdapat 735 anak balita yang terindikasi menderita gizi buruk. Di Kabupaten Bekasi terdapat 57 anak balita mengalami gizi buruk dari 16.000 anak balita yang terdata rawan gizi.

 

Kepala Dinkes Kota Bekasi Wirda Saleh, Senin (12/5), mengatakan, dinasnya sudah menyiapkan program pemberian makanan tambahan (PMT) bagi 500 anak balita penderita gizi buruk. Program PMT diluncurkan Mei ini dan akan dilangsungkan selama 90 hari.

Dari jumlah anak balita rawan gizi di Kota Bekasi, jumlah terbanyak di Kecamatan Bekasi Utara dan Kecamatan Jatiasih. Di Kecamatan Bekasi Utara ada 156 anak balita rawan gizi, sementara di Kecamatan Jatiasih terdapat 107 anak balita rawan gizi.

 

Sementara itu di Kabupaten Bekasi, Kecamatan Tarumajaya dan Kecamatan Tambun, terpantau paling banyak ditemukan kasus anak balita gizi buruk.

 

Berat badan rendah

Kepala Pusat Kesehatan Masyarakat (Puskesmas) Seroja, Kecamatan Bekasi Utara, Huriyati Wahab mengatakan, pihaknya sedang menangani 54 anak balita yang terindikasi rawan gizi melalui PMT. Sejauh ini, belum ditemukan kasus anak balita yang sampai menderita busung lapar.

 

Salah satu anak balita penerima PMT di Kelurahan Harapan Jaya, Bekasi Utara, adalah Eka (18 bulan). Putri pasangan Ridar Priyanto-Asmaroh, warga Kaliabang Bungur, Harapan Jaya, itu dinyatakan mengalami gizi buruk dengan indikasi berat badannya terpantau di bawah garis merah dalam indikator kartu menuju sehat.

 

Menurut kader pos pelayanan terpadu (posyandu) setempat, Nyai Julaeha, Eka sudah mendapatkan susu instan untuk menambah berat badannya.

 

Gizi buruk di Depok

Di tempat terpisah, Kepala Dinkes Kota Depok Mien Hartati mengatakan, tren gizi buruk di wilayah Depok terus menurun. Penurunan jumlah gizi buruk ini karena adanya intervensi Pemkot Depok melalui berbagai program penanganan gizi buruk.

 

Berdasarkan kriteria soal gizi buruk, yakni perbandingan antara berat badan dan usia, maka tahun 2005 gizi buruk mencapai 1.135 anak. Tahun 2006 turun jadi 945 anak. Angka gizi buruk pada 2007 naik lagi menjadi 959 anak, tetapi pada Desember 2007 turun menjadi 529 anak.

 

Angka ini terus menurun pada Januari 2008, yakni 481 anak balita. Sampai Mei 2008, jumlahnya tinggal 453 anak balita. Namun, dari jumlah itu, ditemukan 10 anak balita gizi buruk yang kini dirawat di Puskemas Sukmajaya dan Puskemas Cimanggis.

 

Oleh sebab itu, dalam APBD 2008, Pemkot Depok menganggarkan dana Rp 5 miliar untuk berbagai kegiatan penanganan anak balita gizi buruk. Dari jumlah itu, Rp 300 juta dialokasikan untuk biaya perawatan gratis bagi anak balita gizi buruk yang dirawat di Puskesmas Sukmajayaya dan Puskemas Cimanggis.

 

"Kami akan terus memantau kondisi gizi balita di seluruh wilayah Depok. Kami juga meminta orangtua untuk merawat balita mereka yang bergizi buruk untuk dirawat secara gratis di puskesmas," ujar Mien. (cok/muk)

 

http://cetak.kompas.com/read/xml/2008/05/13/0043314/sebanyak.31.066.anak.balita.di.bekasi.kekurangan.gizi