12/08/2008 05:36 TKI
Liputan6.com, Gowa: Kekerasan terhadap tenaga kerja Indonesia di luar negeri terus terjadi. Kali ini menimpa Syaiful, TKI asal Kabupaten Gowa, Sulawesi Selatan. Sekujur tubuh Syaiful dipenuhi bekas luka. Kaki dan lengan kirinya patah, kedua telinganya cacat, bahkan kuku diseluruh jari-jarinya rusak serta beberapa gigi depan patah. Inilah yang didapat Syaiful selama bekerja menjadi anak buah kapal di Singapura.
Syaiful menceritakan, penyiksaan terhadap dia dan teman-temannya dialami sejak naik kapal sebagai ABK. Siksaan dari nakhoda sudah menjadi makanan sehari-hari. Selama empat bulan mengalami penyiksaan, Syaiful akhirnya berhasil melarikan diri saat kapal sedang bersandar di pelabuhan Mauritius. Oleh petugas, Syaiful kemudian dibawa ke Kedutaan Besar Indonesia di Afrika dalam kondisi luka parah.
Syaiful tidak tahu agen penyalur tenaga kerja yang ia gunakan legal atau tidak. Yang jelas, dirinya disalurkan menjadi ABK kapal ikan oleh perusahaan Step Up Marine Enterprise setelah menyetor Rp 12 juta. Ia berharap pemerintah Indonesia mau membantu mencari keadilan dengan menuntut agen penyalur tenaga kerja.(ADO/Iwan Taruna)
Liputan6.com, Gowa: Kekerasan terhadap tenaga kerja Indonesia di luar negeri terus terjadi. Kali ini menimpa Syaiful, TKI asal Kabupaten Gowa, Sulawesi Selatan. Sekujur tubuh Syaiful dipenuhi bekas luka. Kaki dan lengan kirinya patah, kedua telinganya cacat, bahkan kuku diseluruh jari-jarinya rusak serta beberapa gigi depan patah. Inilah yang didapat Syaiful selama bekerja menjadi anak buah kapal di Singapura.
Syaiful menceritakan, penyiksaan terhadap dia dan teman-temannya dialami sejak naik kapal sebagai ABK. Siksaan dari nakhoda sudah menjadi makanan sehari-hari. Selama empat bulan mengalami penyiksaan, Syaiful akhirnya berhasil melarikan diri saat kapal sedang bersandar di pelabuhan Mauritius. Oleh petugas, Syaiful kemudian dibawa ke Kedutaan Besar Indonesia di Afrika dalam kondisi luka parah.
Syaiful tidak tahu agen penyalur tenaga kerja yang ia gunakan legal atau tidak. Yang jelas, dirinya disalurkan menjadi ABK kapal ikan oleh perusahaan Step Up Marine Enterprise setelah menyetor Rp 12 juta. Ia berharap pemerintah Indonesia mau membantu mencari keadilan dengan menuntut agen penyalur tenaga kerja.(ADO/Iwan Taruna)
