-->

Headlines

The Ecosoc News Monitor

16 September 2008

Buktikan Cinta, Pasutri Pilih Mati

Buktikan Cinta, Pasutri Pilih Mati
Kediri – Surya, Untuk membuktikan tidak adanya selingkuh dan masih saling cinta di antara keduanya, sepasang suami istri (pasutri) sepakat mengakhiri hidup bersama dengan cara bunuh diri di sebuah bendungan yang pernah menjadi saksi perjalanan cinta mereka.

Aksi nekat itu dilakukan Ismail, 35, dan Siti Barokah, 33, warga Dusun Nggrompol, Desa Ngebrak, Kecamatan Gampengrejo, Kabupaten Kediri. Keduanya ditemukan tewas di kawasan tempat wisata Bendungan Gerak, Gampengrejo, Minggu (14/9) siang, diduga setelah minum racun tikus secara bersama.

Dugaan minum racun diperkuat dengan ditemukannnya dua bungkus Timex dan dua botol racun bertuliskan Tiodan, serta kaleng minuman Fanta. Di lokasi juga tergeletak sebungkus kacang sanghai merek Sukro yang masih tersisa.

Kedua mayat ditemukan di sebelah utara bendungan utama. Namun posisinya agak berjauhan. Mayat Barokah, tenaga kerja wanita (TKW) di Malaysia yang sedang pulang kampung, itu membujur kaku di atas tangkis atau plengsengan utara.

Sedangkan Ismail yang sehari-hari bekerja mencari pasir di Kali Brantas ini tubuhnya terperosok ke bawah tangkis dengan kedalaman sekitar 10 meter.


Petugas Bendungan dan warga sekitar menduga keduanya tewas dalam waktu hampir bersamaan. Hanya saja, Barokah yang relatif lemah, begitu menenggak minuman beracun, langsung tewas seketika. Sedangkan Ismail kemungkinan sekarat terlebih dulu dan berontak sehingga tubuhnya terperosok ke bawah tangkis.

Menurut warga Nggrompol yang ditemui di TKP, semasa hidup, apalagi saat pacaran, Ismail dan Barokah seringkali berjalan-jalan di tempat wisata bendungan tersebut. "Baru setelah Barokah bekerja sebagai TKI di Malaysia, hanya Ismail yang sering ke tangkis itu," kata seorang warga.

Mayat pasutri yang meninggalkan seorang anak berusia TK ini ditemukan pertama kali oleh Joko. Salah satu petugas Bendungan Gerak ini melihat sosok perempuan tergeletak di atas tangkis sekitar pukul 13.00 WIB.

Joko kemudian melaporkan ke Bunadi, seorang Satpam Bendungan Gerak. Setelah kembali ke lokasi penemuan mayat, mereka kembali dikejutkan dengan mayat laki-laki yang berada di kedalaman tangkis. "Kami langsung lapor polisi," kata Bunadi.

Teman kerja Ismail, Supriyanto, 27, mengaku sekitar pukul 09.00 WIB masih melihat Ismail bersama istrinya yang ketika itu pamit hendak jalan-jalan ke Bendungan Gerak. "Mereka sempat datang berdua saat kami ndisel mencari pasir," ucap Supriyanto ditemani Kepala Desa (Kades) Ngebrak, Samsuri.

Beberapa petugas Bendungan Gerak juga mengaku melihat kedua lawan jenis tersebut berjalan menyusuri tangkis ke arah utara sambil menenteng tas kresek. "Mereka terlihat terus menyusuri tangkis bendungan," kata seorang petugas bendungan.

Sementara itu, petugas Polres Kediri juga memastikan mereka tewas setekah minum racun tikus. Namun mengenai motif keduanya nekat bunuh diri, Kasat Rerkrim Polres Kediri AKP Didit Prihantoro mengaku masih menyelidikinya. "Yang jelas, ini dilatarbelakangi persoalan rumah tangga," ucap Didit.


Saling Curiga
Beberapa keterangan yang dihimpun Surya menyebutkan, dugaan problem keluaga juga dilontarkan Kades Samsuri saat ditemui di RS Bhayangkara Kediri. Samsuri menuturkan bahwa selama satu tahun menjadi TKW di Malaysia, Ismail mencurigai Barokah tidak setia lagi.

Sebaliknya, Barokah yang baru pulang dari Negeri Jiran sekitar tiga minggu lalu, itu juga mendengar kabar bahwa suaminya sudah kawin siri dengan perempuan lain. Kabar yang beredar, Ismail memilih kawin siri dengan wanita lain karena kesal dengan Barokah. Beberapa bulan lalu saat menelepon ke Malaysia melalui handphone (HP), ternyata seorang laki-laki yang menerima telepon tersebut.

Tapi bagaimana mungkin keduanya memilih bunuh diri? Berkembang pembicaraan di kalangan warga bahwa keduanya memilih mati bersama untuk menunjukkan bahwa keduanya masih saling cinta.

Kasat Reskrim Didit Prihantoro saat dikonfirmasi semalam mengungkapkan, berdasarkan sejumlah saksi, Minggu pagi pukul 08.30 WIB, kedua korban membeli racun tikus di sebuah toko pertanian. "Saat ditanya penjual yang kenal Ismail, untuk apa. Dijawab katanya mau meracun tikus di sawah dekat Bendungan Gerak," ujar Didit menirukan jawaban Ismail ketika ditanya penjual di toko tersebut.

Menurut Didit, para saksi juga mengungkapkan selama berumah tangga sekitar tujuh tahun, keduanya baik-baik saja. Mereka belum lama ini mengontrak rumah di Desa Turus. Namun sebelum bunuh diri itu, keduanya menitipkan kunci rumah kontrakan kepada orang tuanya.

Dari penyelidikan, kata Didit, Ismail diketahui memang sempat menjalin asmara dengan perempuan lain di Wates. Bahkan sudah kawin siri. Namun belakangan saat hampir satu bulan istri yang dicintainya pulang dari Malaysia, Ismail ternyata masih cinta Barokah.

"Memang tidak ada surat cinta atau apa pun yang ditinggalkan. Tapi selama satu bulan ini mereka selalu berduaan. Sementara wanita yang di Wates ditinggalkan," terang Didit.

Sementara itu di rumah Barokah, di Dusun Nggrompol, seluruh kerabat Barokah diselimuti duka. Tangisan menghiasi rumah yang berada persis di belakang Bendungan Gerak ini. Ayah Barokah, Lasmijan, saat ditemui Surya mengakui masih melihat anaknya bersama Ismail berangkat dari rumah. "Mereka pamit sekitar pukul 08.00 WIB. Malah Barokah membawa tas segala," ucap Lasmijan. k2