-->

Headlines

The Ecosoc News Monitor

04 December 2008

KBRI Malaysia Minta Tambahan TPS

KBRI Malaysia Minta Tambahan TPS

Senin, 24 November 2008 | 14:50 WIB

TEMPO Interaktif, Jakarta:Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) untuk Malaysia mengusulkan penambahan tempat pemungutan suara (TPS) pada Pemilihan Umum 2009 di negara jiran itu. KBRI akan menempatkan sejumlah kotak suara di beberapa pusat berkumpulnya warga negara Indonesia di Malaysia. "Kami akan melihat berdasarkan konsentrasi mereka," ujar Duta Besar Indonesia untuk Malaysia, Da'i Bachtiar, di sela rapat dengan Deputi Sekretaris Wakil Presiden bidang Kesejahteraan Rakyat di kantor Wakil Presiden, Senin (24/11).

Menurut dia, jumlah pemilih tetap di Malaysia mencapai 900 ribu orang. Sejumlah 450 ribu pemilih tinggal di Kuala Lumpur. Sedangkan, sisanya tersebar di berbagai wilayah seperti di Penang, Johor, Sarawak, dan Sabah. Jumlah TPS di Kuala Lumpur, kata dia, hanya empat. "Kami mengusulkan untuk bisa membuat TPS di luar premis Indonesia. Kami sedang memproses untuk diusulkan ke KPU," ujarnya.

KBRI, dia melanjutkan, tengah mengkaji jumlah TPS ideal tersebut. Perwakilan pemerintah Indonesia di Malaysia mengirimkan surat kepada pemilih terdata melalui pos. Pemilih memberikan suara di tempat tinggalnya masing-masing. Selanjutnya, pemilih mengirimkan kembali surat suara tersebut melalui jasa pos ke KBRI.

Selain itu, KBRI mengusulkan pengadaan kotak suara di berbagai tempat berkumpulnya warga negara Indonesia. Misalnya, di sebuah pabrik yang mempekerjakan 3.000 WNI. Pengawas akan dikirimkan ke sejumlah daerah yang ditempatkan kotak-kotak suara. "Nah disiapkan kotak-kotak di tempat itu sehingga WNI tidak perlu mengirimkan lewat pos," katanya.

Pembukaan dan penghitungan suara dilakukan di kantor KBRI dengan dihadiri sejumlah saksi. Menurut dia, mobilisasi khusus untuk WNI memberikan suara tidak perlu dilakukan. Alasannya, pemilih proaktif mendaftarkan diri saat penyusunan daftar pemilih. Sehingga, KBRI memastikan tingkat partisipasi pemilih di Malaysia cukup tinggi. "Kalau tidak masuk dalam daftar pemilih, tentu tidak bisa memilih," ujarnya.

Kurniasih Budi