Selasa, 13 Januari 2009 | 03:00 WIB
Parepare, Kompas - Hari kedua musibah, 12 penumpang KM Teratai Prima 0 yang tenggelam Minggu (11/1) siang, ditemukan selamat di perairan Baturoro, Kabupaten Majene, Sulawesi Barat, Senin.
Satu penumpang yang belum jelas jatidirinya, kemarin, ditemukan tewas. Di luar itu, hingga pukul 20.26 semalam, polisi menerima laporan dari kerabat para korban, sedikitnya 45 nama penumpang ternyata tidak tercatat pada salinan manifes.
Ini berarti, hingga Senin malam, sedikitnya 232 korban belum ditemukan dan masih dicari keberadaannya. Dengan demikian, hingga Senin malam, total penumpang yang ditemukan selamat berjumlah 26 orang.
Namun, Senin kemarin, pencarian para korban di tengah laut terhalang cuaca buruk, dan kesulitan mendapat bahan bakar minyak bagi tim SAR (search and rescue).
Belum lagi kasus tenggelamnya KM Teratai Prima 0 terungkap, sebuah kapal cepat yang mengangkut 19 tenaga kerja Indonesia (TKI) secara ilegal dari Pasir Rengit, Malaysia, terbalik di sekitar perairan internasional. Dari 19 TKI, 15 berhasil diselamatkan kapal feri Indomas dan empat orang TKI diperkirakan hilang di laut.
Demikian dikemukakan Direktur Polisi Perairan Kepolisian Daerah Kepulauan Riau Ajun Komisaris Besar Yassin Kosasih di Batam, Senin
Laporan kerabat
Ratusan kerabat para korban kemarin memenuhi Kantor Administratur Pelabuhan Parepare, mencari keberadaan keluarga mereka.
Pos Polisi Cappa Ujung Kepolisian Resor Parepare menerima pengaduan dari para keluarga korban yang namanya tidak terdaftar di salinan manifes (daftar penumpang kapal) yang diumumkan Adpel Parepare.
Sepanjang Senin siang, empat korban diselamatkan perahu nelayan. Pada Senin malam, sebuah kapal cargo, MV CGL, menyelamatkan tujuh orang korban. Sementara KRI Untung Surapati menyelamatkan seorang korban lainnya, dan menemukan jenazah seorang wanita yang belum dikenali.
SAR Mission Coordinator pencarian korban KM Teratai Prima 0 Kolonel (P) Jaka Santosa menyatakan, tujuh korban yang ditemukan MV CGL langsung dievakuasi ke Makassar, Senin malam. Jaka menyatakan pencarian para korban masih dilakukan hingga Senin malam.
Cuaca buruk juga mengakibatkan KRI Samalona yang diberangkatkan dari Makassar Minggu malam, gagal mencapai perairan Majene. Senin pagi, KRI Samalona memutuskan berlabuh di Parepare.
"Pada pukul 12.00, kami kembali mencoba keluar dari Parepare. Tetapi cuaca kembali buruk, dan tinggi ombak mencapai 4 meter. Karena kapal kami tidak bisa menembus gelombang tinggi itu, kami memutuskan kembali ke Parepare," kata Komandan KRI Samalona Letda (P) Junaidi di Pelabuhan Parepare.
Kapal patroli Kesatuan Pengamanan Lepas Pantai (KPLP) Jakarta, KN Alugara, sepanjang Senin siang juga tertahan di Pelabuhan Parepare karena kesulitan mencari bahan bakar solar.
Komandan KN Alugara, Samsuh A Ilyas, di Pelabuhan Parepare mengatakan, untuk pengoperasian 12 jam per hari, kapal berawak 25 orang itu harus diisi 12.360 liter solar.
Kepala Bidang Hubungan Masyarakat Kepolisian Daerah Sulsel dan Barat Komisaris Besar Hery Subiansauri mengatakan, satu kapal Mabes Polri dari Kalimantan dan satu kapal lainnya dari Palu juga telah dikerahkan untuk ikut mencari. "Polda Sulselbar juga mendirikan Pos Disaster Victim Identification untuk membantu penanganan para korban," kata Hery.
Membingungkan
Para kerabat korban yang ingin memperoleh informasi tentang nasib familinya, menjadi bingung karena salinan manifes KM Teratai Prima 0 yang ditempelkan di Kantor Adpel Parepare ternyata tidak mencantumkan banyak nama penumpang. "Suami saya berangkat bersama menantu dan cucu saya menuju Kalimantan. Menantu saya termasuk satu dari 18 orang yang ditemukan selamat, namanya Daeng Gassing. Akan tetapi nama suami saya, Daeng Sutte', dan nama cucu saya Irsan yang baru umur tujuh tahun tidak ada dalam daftar penumpang. Padahal mereka bertiga berangkat bersama," kata Ny Rosina Daeng Kinang (45).
Keluhan serupa datang dari Rudi Alfian (17), korban yang diselamatkan bersama Gassing, dan namanya tidak tercantum dalam manifes. Rudi naik kapal bersama ayah-ibunya, dan seorang adiknya dengan membeli tiket di atas kapal. "Saya terpisah dari ibu saya, Siti Aminah. Juga ayah saya Rais. Adik saya yang berumur sepuluh tahun, juga masih hilang," katanya.
Andi Cahaya (50) penumpang lain juga bingung mencari kabar adik bungsunya Andi Baso Usman (40), sebab di manifes yang tercatat nama Andi Aso (23).
Pemilik diperiksa
Kepolisian Kota Besar Samarinda, kemarin, memeriksa Muhammadong, pemilik KM Teratai Prima 0, yang berlayar dari Parepare (sulsel) ke pelabuhan Samarinda (Kaltim). "Muhammadong masih diperiksa dan bila diperlukan di Sulawesi, akan kami serahkan," kata Menurut Kepala Polda Kaltim Inspektur Jenderal Andi Masmiyat kepada kerabat korban di markas Kesatuan Pelaksana Pengamanan Pelabuhan (KP3) Samarinda, jika diperlukan untuk pemeriksaan Mohammadong akan dikirim ke Makassar.
Sedangkan Kepala Poltabes Samarinda Komisaris Besar Kamil Razak menambahkan, bedasarkan fotokopi Surat Laut dari Direktorat Perkapalan dan Kelautan Departemen Perhubungan di Jakarta, 24 Januari 2000, KM Teratai Prima dibuat di Samarinda tahun 1999. Kapal buatan CV Muji Rahayu itu berdimensi panjang 50,4 meter, lebar 9,36 meter, dan dalam 3,75 meter. Kapal bertonase kotor 747 GT dan bertonase bersih 225 GT. Kapal dari baja dengan dua baling-baling itu digerakkan mesin Yanmar berkekuatan 2 x 1.500 daya kuda. Namun, berdasarkan Sertifikat Keselamatan dari Kantor Administrator Pelabuhan (Adpel) Samarinda, 31 Maret 2008, kekuatan mesin penggerak kapal menjadi 2 x 520 daya kuda. Pemeriksaan mesin dilakukan pada 31 Maret 2008. Sertifikat berlaku hingga 28 Maret 2009.
Menurut Kepala Seksi Penjagaan dan Keselamatan Kantor Adpel Samarinda Helmin, diduga mesin kapal diganti oleh Muhammadong. Meski mesin diganti, kapal bisa dinyatakan laik berlayar bila memenuhi persyaratan teknis, nautis (sistem navigasi), dan keselamatan pelayaran. Namun, mesin yang berkekuatan rendah membuat laju kapal menjadi lamban.
Surat dari Direktorat Jenderal Perhubungan Laut pada 7 Oktober 2008 menyatakan, Teratai Prima berjenis kapal penumpang, berkapasitas angkut 500 penumpang, dan dimiliki PT Bunga Teratai.
Menteri Perhubungan Jusman Sjafi'i Djamal, Senin malam, di Makasar mengatakan, seluruh kekuatan SAR, dibantu TNI AD, AL, dan AU dikerahkan untuk melakukan pencarian. "Presiden sudah memerintahkan operasi SAR ini. Soal anggaran, pemerintah belum menentukan berapa yang disiapkan, tapi ada." (FER/ABK/BRO/ROW/REN/RYO)
Link: http://cetak.kompas.com/read/xml/2009/01/13/00181348/45.nama.tak.ada.di.manifes
