
Rahul Tasilima, balita penderita gizi buruk.
Liputan6.com, Baa: Malang nian nasib Rahul Tasilima. Jangankan berlari dan bermain dengan teman sebaya, bocah berusia 2,5 tahun ini lebih sering digendong ibunya karena gizi buruk akut yang diidap sejak setahun lalu. Kini, kondisi bocah asal Dusun Kolobolon, Kabupaten Rote Ndao ini lemah, bahkan berat badannya hanya sembilan kilogram.
Menurut sang ibu Elisabeth, selama setahun ia hanya satu kali menerima bantuan dua kilogram kacang hijau dan uang Rp 8.000. Tak heran jika warga menilai pemerintah setempat tak peduli pada korban gizi buruk di wilayah mereka.
Ironisnya lagi, para orang tua korban tak tahu jika mereka berhak atas dana penanggulangan gizi buruk dari Pemerintah Kabupaten Rote Ndao sebesar Rp 10 ribu per hari. Dengan dana Rp 300 juta pada 2007 lalu, jumlah itu cukup bagi ratusan penderita gizi buruk selama tiga bulan. Namun Kepala Dinas Kesehatan Rote Ndao mengaku tak tahu adanya dana untuk menanggulangi gizi buruk.
Kini Pemkab Rote Ndao menetapkan kasus gizi buruk sebagai kejadian luar biasa karena dalam sebulan lima balita tewas akibat kelaparan. Sayangnya, anggaran 2008 untuk menangani kasus gizi buruk belum ditetapkan. Padahal anggaran pembangunan kantor bupati tahun ini mencapai Rp 3 miliar.
Karena tak punya pilihan, mayoritas balita korban gizi buruk terpaksa dirawat di rumah dengan kondisi seadanya. Warga enggan membawa anaknya ke rumah sakit karena perawatan yang didapat juga tak lebih baik. Warga berharap pemerintah pusat bisa segera turun tangan [baca: Penderita Gizi Buruk Dirawat di Rumah].(ADO/Didimus Payong Dore)
