".. kemiskinan memiliki wajah perempuan. Fokus terbesar dari Millenium Development Goals adalah memberi perhatian yang lebih pada perempuan, karena berbagai persoalan seperti kemiskinan dan kelaparan, ketidaksetaraan gender dalam pendidikan, tingkat kematian ibu dan bayi yang masih tinggi, tingkat kesehatan perempuan yang masih sangat rendah dan rentan."
SALATIGA - Tenaga kerja Indonesia (TKI) asal Dukuh Tetep Wates RT 02/ VI, Kelurahan Kumpulrejo, Kecamatan Argomulyo, Salatiga, Mujiroh (25), pulang ke tanah air dengan kondisi memprihatinkan.
Dia mengalami depresi dan di bagian tangan serta kakinya terdapat luka memar dan bekas goresan benda tajam. Selama dua tahun terakhir, Mujiroh bekerja sebagai pembantu rumah tangga (PRT) di Oman. Sejak pulang ke rumahnya pada akhir April lalu, sampai sekarang ibu satu anak ini masih mengalami depresi berat dan sulit menemui orang yang belum dikenalinya.
Kepada wartawan di kediamannya kemarin, suami Mujiroh, Aris Susanto (27) menuturkan, istrinya pulang bersama dua temannya sesama TKI dengan menumpang travel dari Jakarta. Begitu sampai di rumah, Mujiroh langsung berteriak-teriak histeris seperti orang ketakutan. Aris mengungkapkan, saat itu di tangan kiri Mujiroh terdapat luka bekas goresan benda tajam.
Sedangkan, kedua kakinya terdapat belasan luka bekas sundutan rokok. Mujiroh hanya membawa satu koper yang berisi pakaian dan sejumlah uang. Sewaktu pulang tangan dan kakinya masih luka.
"Kata istri saya setelah setahun bekerja, majikannya menjadi sangat kejam dan sering menyiksanya," ujar Aris. Ketika Aris bertanya kepada dua teman Mujiroh, mereka mengaku tidak tahu menahu.
Sebab, kedua TKI itu bertemu Mujiroh saat di Jakarta dan selama perjalanan pulang dari Jakarta, Mujiroh lebih banya diam. Jadi, tidak banyak keterangan yang diperoleh temannya yang berasal dari Sragen dan Ngawi, Jatim,itu.
Saat wartawan ke rumahnya, Mujiroh belum bisa diajak bicara, pandangan matanya kosong dan sering menangis histeris. Dia juga acuh jika ada orang asing yang belum dikenalnya.
Keluarganya mengaku pernah membawa Mujiroh berobat ke RSJ Magelang,namun berdasarkan diagnosa dokter tidak ada kelainan secara kejiwaan. Akhirnya, Mujiroh hanya menjalani rawat jalan.
"Karena tidak kunjung sembuh, kami juga pernah membawanya mencari pengobatan alternatif dengan mendatangi sejumlah paranormal di Salatiga dan sekitarnya. Kalau dihitung sudah 10 lebih paranormal yang saya datangi. Akan tetapi, hasil tidak maksimal dan istri saya masih seperti ini," ujar Aris yang kesehariannya bekerja sebagai buruh serabutan ini.
Menurut Trimo (55), ayah Mujiroh, anaknya berangkat ke Oman pada Agustus 2006 lalu melalui seorang calo yang tinggal di Pabelan, Kabupaten Semarang. Pada awal dia bekerja di Oman, Mujiroh tidak ada keluhan dan dia juga sering menghubungi pihak keluarga melalui telepon.
"Setahun pertama tidak ada masalah. Akan tetapi setelah itu dia mengatakan kalau majikannya berubah menjadi kejam," kata Trimo.
Baik Trimo maupun anggota keluarga lainnya merasa yakin jika depresi yang dialami Mujiroh itu akibat perlakuan kejam majikannya. Dugaan ini diperkuat adanya bukti luka di tangan dan keduanya kakinya sewaktu pulang. (sindo//pie)
Blog ini berisi kumpulan berbagai berita yang terkait dengan hak-hak ekonomi, sosial dan budaya (ekosob). Blog ini tidak berupaya menyebarluaskan lagi berita-berita yang kami pilih menjadi sorotan di sini, tapi melulu untuk pelayanan informasi hak-hak dasar manusia. Dalam blog ini tidak kami aktifkan fungsi-fungsi komunikasi virtual yang terbuka seperti ping, trackback, social bookmarking, dsb. Berita-berita ini berasal dari berbagai media dan bentuk-bentuk komunikasi lain tepercaya yang diharapkan membantu Anda untuk mendapatkan gambaran perkembangan keadaan pemenuhan hak-hak tersebut. Ada tiga pokok yang menjadi sorotan di sini: Pertama, keadaan pemenuhan hak-hak pangan, kedua, keadaan buruh migran Indonesia, dan ketiga, tentang kaum miskin kota.