-->

Headlines

The Ecosoc News Monitor

18 June 2008

Gizi Buruk Diduga Bakal Meningkat

Gizi Buruk Diduga Bakal Meningkat
Bantuan Pemberian Makanan Tambahan Diawasi Ketat
 
Kamis, 5 Juni 2008 | 11:02 WIB

WATES, KOMPAS - Jumlah anak penderita gizi buruk di Kulon Progo dikhawatirkan naik tahun ini. Kuat dugaan akan ada banyak keluarga miskin yang semakin sulit memenuhi asupan gizi bagi anak-anaknya, akibat melonjaknya harga kebutuhan pokok pascakenaikan harga bahan bakar minyak. Pernyataan tersebut disampaikan Kepala Seksi Pelayanan Kesehatan Dasar, Rujukan, dan Reproduksi Dinas Kesehatan Kulon Progo Wahyuni Indriastuti, di Wates, Rabu (4/6). Walau begitu, ia belum dapat memperkirakan berapa banyak penambahan jumlah anak penderita gizi buruk. Kami memang belum pernah melakukan studi mendalam. Akan tetapi, peningkatan jumlah anak penderita gizi buruk amat mungkin terjadi karena kondisi ekonomi keluarga sangat berpengaruh, ujar Wahyuni. Jumlah anak usia bawah lima tahun penderita gizi buruk di Kulon Progo hingga bulan Maret 2008 mencapai 295 orang. Dari jumlah tersebut, sebanyak 89,49 persen berasal dari keluarga yang sudah tergolong miskin sebelum kenaikan harga bahan bakar minyak. Sisanya memang berasal dari keluarga mampu, tetapi menderita gizi buruk akibat adanya penyakit penyerta, seperti tuberkulosis anak dan down syndrome.

 

Tidak efektif Sebagai antisipasi, program pemberian makanan tambahan (PMT) pemulihan terus diintensifkan. Pemerintah Kabupaten Kulon Progo memberikan bantuan PMT Rp 3.000 per hari, selama 90 hari. Ada pula dana dari Pemerintah Provinsi DIY yang akan diberikan mulai awal semester kedua 2008 sebesar Rp 3.500 per hari selama lebih kurang 100 hari. Saat ini kami mengupayakan agar dana bantuan PMT dari provinsi bisa ditingkatkan menjadi 180 hari, tutur Wahyuni. Di sisi lain, Wahyuni juga mengakui PMT tidak akan efektif tanpa adanya pengawasan yang ketat. Untuk itu, ia pun meminta peran aktif dari kader-kader gizi dan posyandu di tingkat kecamatan dan desa untuk benar-benar memonitor perkembangan gizi anak-anak di lingkungan sekitarnya. Seperti pernah ditambahkan Petugas Gizi di Puskesmas Samigaluh I Diah Nor, peran kader posyandu amat penting dalam membantu mengawasi pemenuhan gizi masyarakat. Apalagi di daerah terpencil seperti Samigaluh, di mana satu orang petugas gizi tidak akan mampu mengunjungi seluruh wilayah dalam waktu yang singkat secara terus- menerus. Samigaluh sendiri merupakan salah satu kecamatan yang menjadi kantong penderita gizi buruk.

 

Tercatat di awal tahun ini sudah sekitar 17 balita di Samigaluh yang positif menderita gizi buruk. Selain di Samigaluh, lokasi lain yang berada jauh dari pusat kegiatan ekonomi warga, seperti Kalibawang, Kokap, dan Girimulyo juga rawan penambahan balita penderita gizi buruk. (YOP