Kesehatan Sabtu, 7 Juni 2008 | 01:07 WIB Jakarta, Kompas - Seiring menurunnya daya beli masyarakat sebagai dampak kenaikan harga bahan bakar minyak, kasus gizi kurang dan gizi buruk dikhawatirkan kembali merebak di sejumlah daerah. Jika tak segera diatasi, kondisi ini akan menurunkan kualitas sumber daya manusia pada masa mendatang.
"Masalah gizi kurang yang terlambat diatasi akan memunculkan generasi yang hilang (lost generation)," kata Prof Ali Khomsan dari Departemen Gizi Masyarakat Fakultas Ekologi Manusia Institut Pertanian Bogor (IPB), Jumat (6/6).
Ketua Departemen Gizi Masyarakat IPB Evy Damayanthi dalam makalahnya menyatakan, peningkatan harga BBM memengaruhi pola produksi, distribusi, dan konsumsi pangan. Peningkatan harga pangan akan menyebabkan akses keluarga miskin terhadap pangan menurun sehingga dikhawatirkan memperbesar jumlah penderita gizi kurang, khususnya pada rakyat miskin.
Kondisi ini akan berakibat pada perubahan pola konsumsi untuk mengatasi kesulitan memenuhi kebutuhan pangan. Hal ini ditandai menurunnya tingkat konsumsi beras sebagai sumber protein dan karbohidrat. Jika perubahan itu mengarah pada ketidakcukupan pangan yang dikonsumsi, akan berdampak kerawanan pangan. "Ini akan menurunkan status gizi dan kesehatan rumah tangga," ujarnya.
Rentan infeksi Ali Khomsan menjelaskan, kerugian akibat kurang gizi bisa berupa rendahnya kemampuan kognitif sumber daya manusia bangsa dan rendahnya produktivitas kerja. Anak balita yang kurang gizi juga rentan terserang berbagai penyakit infeksi karena daya tahan tubuhnya rendah, terutama pada penderita gizi buruk dengan komplikasi.
"Dengan kenaikan harga bahan bakar minyak, pemerintah harus segera memantau munculnya kasus gizi kurang di setiap daerah. Ini bisa dilihat dari penimbangan berat badan anak balita di posyandu," kata Ali Khomsan lebih lanjut. (EVY)
|
18 June 2008
Gizi Kurang Turunkan Kualitas Sumber Daya Manusia
Diunggah oleh
The Institute for Ecosoc Rights
di
Wednesday, June 18, 2008
