7 Agustus 2008 | 16:28 WIB
Dalam pidatonya di hadapan pimpinan program pascasarjana Perguruan Tinggi Negeri (PTN) se-Indonesia di Istana Negara,
"Ini juga harus kita perjuangkan, agar adil, sehingga petani kita dapat menikmati kenaikan harga pangan dunia," ujarnya.
Ekspor dan impor pangan, kata Presiden, pasti terjadi di negara mana pun termasuk
Pada pertemuan WTO di Jenewa, Swiss, pekan lalu, negara berkembang berseteru dengan negara maju soal subsidi pertanian yang diberikan negara maju di sektor pertanian. Negara berkembang juga memprotes larangan Uni Eropa yang tidak memperkenankan masuknya komoditi pertanian ke negara mereka.
Presiden Yudhoyono mengatakan pemerintah sudah memberikan subsidi benih dan pupuk kepada para petani agar mereka dapat menaikkan produktivitasnya.
Presiden mengklaim, pemerintahannya berhasil memimpin produktivitas pertanian hingga mencapai swasembada dengan angka dua juta ton yang merupakan nilai tertinggi selama 13 tahun terakhir. "Waktu saya canangkan swasembada beras di Departemen Pertanian pada 2006 lalu, banyak yang tidak yakin. Tetapi, ternyata bisa," ujarnya.
Presiden mengingatkan jumlah penduduk
Sebagai hasil pertemuan di
Di antaranya diversifikasi pangan serta konsolidasi kekuatan petani kecil dan buruh tani. Mereka juga mengusulkan perluasan akses petani terhadap layanan kredit.
Presiden Yudhoyono dalam sambutannya berharap pendidikan pascasarjana terus memperbaiki mutu pendidikannya sehingga dapat memberi solusi untuk berbagai masalah negara.
Serukan Nasionalisasi Energi
Pimpinan Program Pascasarjana Perguruan Tinggi Negeri (PTN) se-Indonesia menyerukan pemerintah untuk meninjau ulang kebijakan ekspor energi dan melakukan nasionalisasi energi.
Dalam sambutan ketika diterima Presiden Susilo Bambang Yudhoyono di Istana Negara, Jakarta, Kamis, Dekan Sekolah Pascasarjana Institut Pertanian Bogor (IPB) Khairil Anwar Notodiputro, menyatakan nasionalisasi energi mendesak dilakukan sebagai perwujudan amanat Pasal 33 UUD 1945.
"Untuk itu, kebijakan ekspor untuk sumber-sumber energi seyogyanya ditinjau ulang," katanya.
Ia juga menyerukan agar produksi sumber energi dioptimalkan untuk pemenuhan kebutuhan dalam negeri, terutama kebutuhan rakyat
Pimpinan Program Pascasarjana PTN se-Indonesia juga mendorong penggunaan energi berbasis lokal melalui sumber energi terbarukan berupa komoditi pertanian.
Pimpinan Program Pascasarjana PTN se-Indonesia bertemu di
Dalam pertemuan itu dibahas beberapa pokok masalah, yaitu pangan dan kedaulatan bangsa, ancaman krisis energi dan kedaulatan bangsa, dekonstruksi politik pertanian dan pedesaan dalam penanggulangan kemiskinan serta peningkatan akses, mutu, dan relevansi program pasca sarjana.
Dalam rekomendasinya, pimpinan program pascasarjana PTN se-Indonesia itu juga memberi beberapa solusi terkait ketahanan pangan, yaitu upaya diversifikasi pangan dan penguatan ekonomi pertanian.
Solusi mereka ajukan untuk menanggulangi kemiskinan wilayah pertanian dan pedesaan di antaranya mengubah paradigma pembangunan berorientasi sumber daya alam serta perluasan akses petani terhadap kredit.
Presiden Yudhoyono menyatakan nasionalisasi energi harus dimaknai secara hati-hati. Ia mengaku pernah menggelar diskusi dengan para menteri terkait tentang wacana nasionalisasi energi.
"Kalau saya hari ini dengan gagah berani mengeluarkan dekrit untuk mengambil semua aset asing di negeri ini, kira-kira apa yang terjadi," katanya.
Pemerintah akan menghadapi berbagai masalah muncul dari gugatan investor asing karena kontrak yang tiba-tiba dibatalkan. "Kalau nasionalisasi dimaknai mengambilalih aset negara lain yang ada sejak era Bung Karno tanpa proses apa pun, akan ada persoalan menyangkut kontrak," katanya..
Nasionalisasi, kata Presiden, harus dimaknai sebagai menjadi tuan rumah di negeri sendiri. Untuk itu, ia berjanji pemerintah akan mengupayakan keuntungan maksimal bagi negara dalam setiap kontrak kerjasama di masa mendatang.
Presiden berjanji menerima rekomendasi itu guna dibahas untuk menjadi bagian dalam kebijakan nasional.
Pertemuan dihadiri beberapa menteri Kabinet Indonesia Bersatu, yaitu Menteri Sekretaris Negara Hatta Radjasa, Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral Purnomo Yusgiantoro, Menteri Pertanian Anton Apriantono dan Menteri Negara Pemberdayaan Aparatur Negara Taufiq Effendy. (ant )
http://beritasore.com/2008/08/07/presiden-perjuangkan-produk-pertanian-indonesia-di-wto/
