-->

Headlines

The Ecosoc News Monitor

19 December 2008

IOM: Jangan Tutup Pintu Buruh Migran!

18/12/2008 11:28 wib - Internasional Aktual
IOM: Jangan Tutup Pintu Buruh Migran!

Genewa, CyberNews. Organisasi Internasional untuk Migrasi (International Organization for Migration - IOM) mendesak negara-negara berkembang untuk lebih menghargai kontribusi positif seorang migran terhadap pertumbuhan dan pemulihan ekonomi.
 
Karena itu, IOM mendesak negara berkembang menahan dorongan untuk menutup pintu terhadap buruh migran saat-saat terjadi penurunan kondisi ekonomi seperti sekarang. "Walau krisis ekonomi masih berlanjut dan dampak penuhnya belum terlihat jelas, akan tidak produktif menutup pintu mereka terhadap migran. Banyak dari kelompok ini masih membutuhkan lapangan pekerjaan," kata Direktur Jenderal IOM William Lacy Swing.
Menurut William Lacy Swing kebutuhan struktural akan migran tersebut, yang memberikan wajah pada globalisasi, ditekankan oleh proyeksi demografis bahwa pada tahun 2050, dimana negara-negara tersebut akan mengalami kekurangan tenaga kerja diakibatkan oleh menurunnya tingkat kelahiran dan bertambah tuanya penduduk produktif. Hal ini mengakibatkan jumlah warga di atas 60 tahun dua kali lipat dibanding anak-anak. Migrasi telah menjadi titik tumpu globalisasi.
 
"Tidak bisa diragukan, menutup pintu akan mendorong migran untuk menggunakan jalur belakang yang bersifat eksploitatif, semena-mena dan membahayakan jiwa untuk pergi ke negara-negara tujuan yang ditawarkan oleh para penyelundup manusia dan pelaku perdagangan manusia (human traffickers). Reaksi seperti itu mengandung risiko turut mendorong kesenjangan sosial dan xenofobia terhadap para migran yang sudah menetap di negara-negara tersebut dengan memperbesar mitos bahwa migran adalah pencuri lapangan pekerjaan," kata Swing.
 
Ia menegaskan krisis ekonomi ini juga tidak sepatutnya dimanfaatkan untuk mengeksploitasi para migran di sektor informal melalui penurunan atau penghapusan gaji serta penganiayaan yang sangat kerap kali dirasakan oleh kelompok migran yang masuk secara tidak sah.
 
Menurut William kemampuan mereka untuk mengirim uang ke kampung halaman mereka adalah sangat penting untuk memerangi kemiskinan di negara asal migran, dimana para keluarga mereka seringkali bergantung pada uang tersebut untuk memenuhi kebutuhan pokok seperti makan, rumah, kesehatan dan pendidikan. Banyak keluarga di seluruh dunia sudah menderita akibat menurunnya pendapatan dan mereka menghadapi masa depan yang tidak menentu.
 
"Menutup pintu terhadap migran juga akan berdampak negatif terhadap peningkatan pengiriman uang (remittance) di negara berkembang yang telah terlihat dari tahun ke tahun, dan yang saat ini melebihi aliran bantuan pembangunan resmi (Official Development Assistance – ODA)," katanya.
 
Tingkat pertumbuhan ini, kata dia, sudah mengalami penurunan tajam dalam beberapa bulan terakhir ini, khususnya daerah sub-Sahara di Afrika, di mana pengiriman uang kemungkinan paling dibutuhkan. Bank Dunia saat ini memperkirakan pengiriman uang ke negara berkembang di tahun 2009 akan kurang dari total yang diperkirakan sebesar AS$ 283 milyar untuk tahun 2008.
 
"Adalah sangat penting untuk menjamin bahwa tingkat ODA saat ini tidak turun guna memastikan bahwa kemiskinan dan kesenjangan pembangunan tidak menjadi lebih parah sebagai akibat krisis ekonomi ini. Jika tingkat tersebut mengalami penurunan, maka tekanan pada orang-orang untuk bermigrasi melalui cara apapun akan terus meningkat," tambah Direktur Jenderal Swing.
 
Pada saat yang bersamaan, negara-negara pengirim migran memiliki tanggung jawab yang lebih besar untuk menginformasikan warga mereka mengenai realita migrasi yang sah maupun tidak sah dan menghadapi tantangan untuk bekerjasama secara lebih erat dengan para negara dan masyarakat tujuan dalam rangka menjamin sebuah situasi yang saling menguntungkan bagi semua pihak yang terlibat.
 
"Janganlah kita menciptakan sebuah krisis migran dari sebuah krisis ekonomi. Tetap memandang fakta bahwa migran merupakan bagian dari solusi bagi negara asal maupun tujuan dapat membantu keluar dari krisis secara lebih cepat," tutur Swing.
(MH Habib Shaleh /CN08)