Kebakaran di Muara Baru 600 Rumah LudesSP/Ruht Semiono Bocah berdiri di antara reruntuhan puing bangunan akibat kebakaran yang melenyapkan kawasan permukiman semipermanen padat penduduk di Muara Baru, Jakarta Utara, Senin (13/10). Kebakaran disebabkan kompor yang meledak dan menghanguskan 442.792 rumah semipermanen dan 2.446 warga kehilangan tempat tinggal. [JAKARTA] Sekitar 600 unit rumah di RT 16, 17, dan 19, RW 17 Muara Baru, Kelurahan Penjaringan, Kecamatan Penjaringan, Jakarta Utara, terbakar, Minggu (12/10) malam. Kebakaran diduga akibat hubungan arus pendek listrik di kawasan pemukiman padat penduduk itu. "Dugaan sementara karena korsleting listrik. Jumlah rumah yang terbakar sekitar 600 unit," ujar Lurah Penjaringan Budi Santoso kepada SP Senin pagi. Dikatakan, tidak ada korban jiwa, namun kerugian ditaksir ratusan juta rupiah. Dari pemantauan, ratusan korban kebakaran tampak mengais sisa-sa barang yang masih bisa diselamatkan. Sejumlah rumah panggung dan rumah permanen persis di tepi waduk Pluit hangus. Sebagian rumah hanya terbakar bagian belakangnya. Yohana (37), seorang warga yang rumahnya ludes terbakar menuturkan, kebakaran terjadi sekitar pukul 23.00 WIB di salah satu rumah berjarak sekitar 50 meter dari tempat tinggalnya. "Saat warga baru terlelap, tiba-tiba ada teriakan kebakaran. Api dengan cepat menjalar. Warga berlarian keluar rumah menyelamatkan diri," ujar Yohana yang lahir di Makassar, Sulawesi Selatan. Yohana hanya sempat menyelamatkan dua anaknya yang sedang tidur di kamar. Sementara, barang-barang berupa televisi, pakaian, dan lainnya ludes dilalap api. Hal senada dikatakan Tarmidi (34). Rumahnya yang persis di bibir waduk Pluit, kini tinggal puing. Tarmidi tidak sempat menyelamatkan satu pun perabotan rumahnya. Dia menyesalkan lambatnya petugas pemadam kebakaran tiba di lokasi. ''Selang mobil pemadam juga pendek sehingga tidak bisa menjangkau rumah di tepi waduk. Untung hujan datang sekitar pukul 02.30 WIB yang membuat api padam,'' tuturnya. Buruh angkut di pelelangan ikan Muara Baru itu pun terlihat bingung merenungi nasibnya. Dua anaknya yang masih di bangku SD kelas I dan Kelas III kini tidak bisa bersekolah karena semua pakaian dan buku berubah jadi abu. ''Anak-anak tidak bisa sekolah lagi,'' ucapnya lirih. Sejumlah korban kebakaran lainnya tampak kebingungan. Sejumlah ibu-ibu terlihat menangis di puing-puing rumah mereka. Hingga berita ini diturunkan sekitar Pukul 10.00 WIB, warga belum mendapatkan bantuan sama sekali. Petugas kepolisian masih menyelidiki penyebab kebakaran. Menurut seorang sumber SP yang tidak mau disebutkan namanya menduga, kebakaran itu disengaja. ''Rencananya pemukiman padat penduduk ini mau digusur. Surat edaran rencana penggusuran rumah dari Pemprov DKI Jakarta sudah ada di tangan sejumlah warga,'' katanya. Berdasarkan catatan SP, sejak Januari 2008 wilayah itu sudah tiga kali mengalami kebakaran. Sebelumnya, Pemprov DKI sudah akan menggusur permukiman yang dinilai liar di sekitar waduk. Wilayah itu akan digunakan untuk kawasan ruang terbuka hijau. Korban Kebakaran Sunter Sementara itu, sebanyak 35 keluarga dari 44 keluarga korban kebakaran di RW 11 Jl Pulo Besar, Kelurahan Sunter Jaya, Jakarta Utara, hingga Senin (13/10) masih mengungsi di penampungan. Mereka belum dapat membangun rumahnya kembali karena kesulitan dana. Penampungan itu berupa bengkel dan tenda yang dibangun pengurus RW setempat. Pengurus RW juga membentuk posko bantuan bagi warga korban kebakaran yang terjadi Selasa (2/10) lalu itu. "Memang sudah ada beberapa warga yang menyumbang seperti penyanyi pop Jawa Ronny Tanuwijaya yang tinggal tak jauh dari lokasi kebakaran, juga warga beberapa RT di RW 11, dan sejumlah parpol. Tetapi, kami masih menunggu kebaikan pihak lainnya," ujar Sudirman, Sekretaris RW 11 yang juga Bendahara Posko, Minggu siang. [HTS/Y-4] Last modified: 12/10/08 |
09 December 2008
Kebakaran di Muara Baru
Diunggah oleh
The Institute for Ecosoc Rights
di
Tuesday, December 09, 2008
