Jakarta–Walaupun ada penurunan kasus gizi buruk, Menteri Kesehatan Siti Fadilah Supari meminta semua kepala daerah aktif mencari kasus-kasus gizi buruk di daerah masing-masing, agar semua kasus dapat segera ditangani oleh petugas kesehatan.
"Sebagai kepala daerah, bupati bertanggung jawab untuk memastikan setiap kasus gizi buruk terdata dan segera memberikan pelayanan kesehatan. Jangan justru ditutup-tutupi karena kalau diketahui pers justru akan mencoreng wajah bupati," tutur Siti Fadilah kepada SH, Selasa (18/11) di Jakarta.
Menurut Menkes, mayoritas kepala daerah masih tidak peduli dengan kasus gizi buruk di daerahnya. Namun, ada beberapa daerah yang bupatinya turut aktif mencari pasien gizi buruk. "Ada seorang bupati yang memberikan insentif Rp 50.000 untuk setiap kasus gizi buruk yang dilaporkan. Kalau semua bupati melakukan hal ini, temuan gizi buruk semakin banyak dan cepat diatasi," jelasnya.
Di tengah krisis global saat ini, menurut Menkes, kaum miskin perkotaan adalah masyarakat yang paling rentan gizi karena terbelit kemiskinan dan kesulitan akses pangan. Oleh sebab itu, para wali kota seharusnya memantau secara ketat dampak kemiskinan terhadap kesehatan masyarakat. Jangan sampai ada orang miskin di perkotaan yang tidak bisa makan. Kalau ada gizi buruk, petugas kesehatan harus segera menangani.
Selain itu, masyarakat harus diaktifkan lewat desa-desa siaga dan posyandu untuk memantau kasus gizi dan gizi buruk yang ada di wilayah masing-masing. "Kasus gizi buruk saat ini banyak terekspos karena temuan masyarakat dan pencarian petugas kesehatan serta bantuan media massa. Ini sangat membantu dalam upaya penanganan. Semua kepala daerah harus mendukung ini, bukannya menghalangi," tegasnya.
Sementara itu, Direktur Bina Gizi Masyarakat Dr Ina Hernawati, MPH menjelaskan temuan gizi buruk telah menurun dari delapan persen tahun 2005 menjadi sekitar empat persen dari total balita pada tahun 2008. Nusa Tenggara Timur (NTT) masih menjadi daerah yang tertinggi temuan gizi buruknya karena kemiskinan dan faktor alam sehingga kesulitan akses pangan.
Selain itu, gizi buruk bisa juga disebabkan oleh pola makan yang buruk atau penyakit infeksi. "Bisa saja ibunya punya HP dan gelang emas, tetapi karena pola makan jelek, anak susah makan sehingga gizi anak menurun dan memburuk. Atau, bisa juga karena TBC yang membuat anak malas makan dan tubuhnya digerogoti penyakit," jelasnya lagi.
Ketua Dewan Kesehatan Rakyat (DKR) Labuan Batu Yurham Delamunte ketika dihubungi SH mengungkapkan kasus gizi buruk terdapat di sebuah penampungan pengungsian di Banda Aceh. Seorang balita dengan gizi buruk meninggal karena terlambat dirujuk oleh puskemas ke rumah sakit di Labuan Batu, Sumatera Utara. "Ini seharusnya tidak perlu ditutup-tutupi agar dapat segera ditangani. Namun, karena petugas kesehatan di puskesmas takut sama bupati, tidak segera dibawa ke rumah sakit," kata Yurham. (web warouw)