Korban Gizi Buruk BertambahSebelumnya, dua balita, Aco (4) dan Erna, bayi berusia tujuh bulan, meninggal dunia di RS Haji Makassar akibat gizi buruk. Dea terlahir dari keluarga miskin. Ayahnya hanyalah seorang sopir cadangan angkutan umum di Makassar yang berpenghasilan pas-pasan. Karena keterbatasan ekonomi, Dea hanya dirawat seadanya di rumah, padahal menurut ibunya, anak tersebut sudah berhari-hari mengalami demam, batuk-batuk, dan sesak napas, beberapa kali buang air besar disertai muntah dan keluar cacing. Pada saat kondisinya kritis, dengan segala upaya barulah dibawa ke rumah sakit. "Anak ini baru kami bawa ke rumah sakit, setelah meminjam uang dari ipar saya sebesar Rp 100.000, sampai di rumah sakit dimintai biaya administrasi sebesar Rp 75.000," ujar Fadillah sambil terisak tangis seusai pemakaman putrinya. Fatma Yusuf, petugas gizi di Pusat Kesehatan Masyarakat (Puskesmas) Kassi-kassi, Makassar mengatakan, sejak tahun lalu, Dea divonis menderita gizi buruk. Pos pelayanan terpadu (Posyandu) Dahlia dan Puskesmas Kassi-kassi sempat melakukan intervensi selama tiga bulan, dengan memberikan makanan tambahan, hingga kondisi korban membaik. Saat dilakukan penimbangan bayi di Posyandu Dahlia, pertengahan September lalu, berat badan Dea mencapai 7,5 kilogram (kg). "Anak tersebut terakhir menjalani kontrol di posyandu, September lalu dan kondisinya sudah cukup sehat," katanya. Kepala Dinas Kesehatan Kota Makassar, dr Aisyah Tun Azikin mengatakan, korban di bawah ke rumah sakit Rabu malam dalam kondisi yang sudah parah. Korban meninggal setelah menjalani pera-watan intensif selama tiga malam dua hari. Komplikasi Dea bukan hanya menderita gizi kurang, tetapi juga komplikasi penyakit lain. Saat dibawa ke rumah sakit, berat badan korban hanya sekitar 6 kg, padahal normalnya, berat badan anak usia dua tahun, sekitar 8 hingga 9 kg. "Dokter sudah berusaha menolong korban, namun kondisinya cukup parah. Saat masuk rumah sakit, korban menderita demam tinggi, batuk dan sesak napas atau pneumonia akut," jelasnya. Dea memang telah pergi, tetapi yang menambah pilu hati kedua orangtuanya, saat anaknya sudah tak bernyawa dan hendak di bawa pulang ke rumah, pihak rumah sakit tidak mengizinkan. Alasannya belum menyelesaikan biaya rumah sakit sebesar Rp 478.000. "Saya berusaha pinjam uang dan hanya punya Rp 200.000, karena belum cukup, terpaksa saya titipkan dua cincin emas pening- galan ibu saya di rumah sakit, sebagai jaminan, agar jenazah Dea, bisa saya bawa pulang ke rumah untuk dimakamkan," kata Fadillah. Naisyah membantah jika pihak rumah sakit menahan jazad korban. Menurutnya, orangtua korban hanya diminta untuk menyelesaikan administrasi, yakni surat keterangan miskin dari kelurahan, karena mereka tidak memiliki kartu tanda penduduk maupun kartu keluarga yang membuktikan mereka benar adalah warga Jalan Monumen Emmy Saelan, Makassar. Persyaratan administrasi dibutuhkan untuk bukti laporan bahwa pihak rumah sakit memang telah melakukan perawatan terhadap korban. "Sejak masuk rumah sakit keluarga korban sudah diminta mengurus surat keterangan miskin dari keluarahan, tapi hingga korban meninggal tidak dipenuhi. Akhirnya, pihak rumah sakit meminta jaminan. Setelah mereka menyerahkan surat keterangan dari kelurahan, seluruh biaya, termasuk cincin, sudah langsung dikembalikan," ujarnya. Kematian balita akibat kurang gizi, kembali menjadi tantangan bagi Pemerintah Kota Makassar yang telah memberlakukan program kesehatan gratis di daerah itu. Setiap warga Makassar, bisa berobat gratis di seluruh rumah sakit pemerintah di kota itu, cukup dengan memperlihatkan kartu jaminan kesehatan daerah atau kartu tanda penduduk dan kartu keluarga. [148] Last modified: 3/11/08 |
09 December 2008
Korban Gizi Buruk Bertambah
Diunggah oleh
The Institute for Ecosoc Rights
di
Tuesday, December 09, 2008
