-->

Headlines

The Ecosoc News Monitor

04 December 2008

Tangis Keluarga Warnai Kedatangan Jenazah TKI

Tangis Keluarga Warnai Kedatangan Jenazah TKI

Rabu, 22 Oktober 2008 | 13:50 WIB

TEMPO Interaktif, Surabaya:Isak tangis mengiringi kedatangan jenazah Nanang Budianto, 29 tahun, Rabu (22/10) dini hari. Tenaga Kerja Indonesia (TKI) asal Desa Jatisari RT 17 Rw 4 Kecamatan Geger Kabupaten Madiun meninggal di Malaysia. Tangis anggota keluarga memecah, saat kedatangan jenazah ke rumah duka.

Hartono, orang tua Nanang meminta peti jenazah dibuka untuk mengetahui wajah dan kondisi anaknya. Hartono bersama keluarga bergantian melihat isi peti jenazah.

Menurut keterangan Hartono, keluarga hanya mengetahui jika Nanang meninggal karena sakit demam. Hingga kini, pihak keluarga tidak mengetahui secara pasti penyakit yang diderita Nanang. Nanang meninggal dunia Senin (20/10) setelah sebelumnya menjalani perawatan di poliklinik di Johor Malaysia.

Hartono menuntut agar pengerah jasa tenaga kerja yang menyalurkan Nanang memberikan laporan medis mengenai penyakit yang dideritanya. Anggota keluarga tidak mempercayai Nanang meninggal hanya karena sakit demam, padahal selama ini tidak ada riwayat penyakit berbahaya yang diderita Nanang.

"Saya meminta kronologis kematian Nanang," katanya. Nanang bekerja menjadi TKI di Johor Malaysia sejak 5 tahun silam, ia bekerja di sektor properti. Selama bekerja di Malaysia, Nanang hanya dua kali pulang namun ia secara rutin menghubungi keluarganya untuk mengabakar kondisinya.

Koordinator divisi advokasi pusat studi dan advokasi rakyat (pulsar) Handry Wahyu Wijaya meminta Pemerintah Kabupaten Madiun membantu untuk memperoleh laporan medis untuk mengetahui penyebab kematian Nanang, serta membantu biaya pemulangan jenasah, sebab biaya pemulangan berasal dari patungan teman-temannya di Malaysia. Perusahaan yang menyalurkan Nanang tidak memberikan bantuan biaya pemulangan maupun perawatan selama sakit.

"Pemerintah harus bertanggungjawab, karena secara tidak langsung mereka membantu proses pembanguan di daerah," katanya. Selama dua tahun terakhir, Pulsar Madiun menangani sebanyak 344 perkara yang dialami buruh migran di luar negeri. Diantaranya perkara perdagangan manusia, penganiayaan hingga kematian.  

Berdasarkan data Dinas Tenaga Kerja dan Transmigrasi Kabupaten Madiun, jumlah TKI yang berangkat ke luar negeri terus meningkat. Tahun 2005 diberangkat TKI sebanyak 1.954 orang, tahun 2006 sebanyak 2.478, tahun 2007 tercatat 2.453 dan hingga Agustus 2008 mencapai 1.534 orang. Sebagian  besar TKI bekerja di Malaysia sebanyak  1.072 orang dan Hongkong menjadi negara tujuan kedua.

Sejumlah 1.026 atau sekitar 60 TKI asal Madiun, bekerja di sektor non formal yakni tata laksana rumah tangga. Hanya sebanyak 508 TKI atau 37 persen yang bekerja di sektor formal seperti operator produksi pabrik elektronika di Malaysia dan Korea. Selain itu, juga pekerja kontruksi bangunan. Kantung TKI terbesar berada di wilayah selatan Madiun, yakni Kecamatan Geger, Kebonsari, Dagangan dan Dolopo. Faktor kemiskinan yang menyebabkan mereka nekat mengadu nasib di negara orang. EKO WIDIANTO

 

http://www.tempointeraktif.com/hg/nusa/2008/10/22/brk,20081022-141498,id.html