-->

Headlines

The Ecosoc News Monitor

02 December 2008

TKI Sering Telantar di Bandara Internasional (2)

Minggu, 30 2008 11:54 WIB
TKI Sering Telantar di Bandara Internasional
 
KUALA LUMPUR--MI: Banyak tenaga kerja Indonesia (TKI) telantar di bandara-bandara internasional, tidak bisa makan dan minum selama beberapa hari, karena PJTKI dan biro perjalanannya memilih paket penerbangan yang murah dan transit di banyak bandara internasional.

"Sering sekali saya jumpai, para TKI yang terlantar. Mereka tidak bisa makan dan minum karena tidak punya uang untuk membeli makanan dan minuman di ruang keberangkatan di Bandara KLIA yang sangat mahal bagi mereka," kata manager Garuda Indonesia di Kuala Lumpur International Airport (KLIA), Oemar, Minggu.

"Belum lama ini, saya menemui beberapa TKI yang ingin bekerja di negara Timur Tengah di KLIA. Mereka belum makan dan minum karena tidak punya uang sejak sehari sebelumnya."

Setelah ngobrol-ngobrol ternyata mereka harus transit ke Mumbai India baru sambung lagi ke negara Timur Tengah. Jika melihat tiket penerbangan mereka koneksitas penerbangan selanjutnya kadang-kadang harus menunggu satu hari. "Penerbangan dari KLIA ke Mumbai saja mereka harus transit di KLIA selama satu hari. Kadang-kadang juga transitnya di Dakha, Bangladesh," ungkapnya.

Menurut manager Garuda di KLIA itu, hampir tiap hari menemukan belasan atau puluhan TKI yang transit beberapa jam di KLIA tanpa makan dan minum karena tidak punya uang untuk membeli makanan dan minuman di terminal keberangkatan internasional.

Ditambah dengan peraturan penerbangan internasional yang melarang orang membawa minuman lebih dari 100 ml. Umumnya mereka juga tidak tahu bahwa mereka harus transit lama di Bandara-Bandara internasional. Pokoknya mereka terima tiket penerbangan. Begitu tiba di Bandara transit baru sadar bahwa penerbangan koneksitasnya ternyata esoknya, kata Oemar.

Banyaknya TKI yang terlantar di bandara-bandara internasional disebabkan karena PJTKI dan biro perjalanan memilih paket penerbangan paling murah dengan konsekuensi transit di banyak bandara internasional.

Dubes RI untuk Malaysia Da'i Bachtiar ketika mengurus 329 calon haji ONH Plus di KLIA beberapa waktu lalu juga menemukan belasan TKI yang telantar dan menunggu penerbangan koneksitasnya ke negara Timur Tengah esok harinya di KLIA.

"Mereka gabung dengan para calon haji yang telantar supaya dapat makan. Ya sudah sekalian saja pasok makanan untuk mereka. Kasihan juga mereka," kata Da'i.

Beberapa diplomat KBRI di Bangkok juga sering menemukan beberapa TKI terlantar di Bandara Suvarnabhumi, tidak bisa makan dan minum karena mahal, ketika menunggu koneksitas penerbangannya ke Timur Tengah. "Sering juga menemukan mereka telantar ketika menunggu koneksitas penerbangan," kata Bob Tobing, juru bicara KBRI Bangkok.

Para PJTKI dan biro perjalanan seharusnya memikirkan dan mengatur perjalanan mereka ke negara tujuan dengan tidak menyesengsarakan dan menelantarkan, paling tidak memberikan uang saku untuk makan dan minum di terminal keberangkatan internasional. (Ant/OL-03)