-->

Headlines

The Ecosoc News Monitor

19 January 2009

Ada Mafia dalam Pengiriman TKW

Oleh
Stevani Elisabeth

Jakarta – Menteri Negara Pemberdayaan Perempuan (Menneg PP) Meutia Hatta mengakui ada jaringan mafia dalam pengiriman tenaga kerja wanita (TKW) ke luar negeri. Sindikat tenaga kerja itu bukan hanya terjadi di Indonesia atau melibatkan orang Indonesia, tetapi juga di luar negeri.


"Waktu saya meninjau buruh migran di Hong Kong, ternyata ada jaringan mafia tenaga kerja dari Thailand dan Filipina," ungkap Meutia, Rabu (14/1), saat meninjau Keni, TKW yang menjadi korban penyiksaan majikan di Arab Saudi. Keni sudah tiga bulan dirawat di RS Polri, Kramat Jati, Jakarta.


Oleh karena itu Menneg PP mengingatkan bahwa di Indonesia harus ada yang memantau TKW mulai dari berangkat ke luar negeri sampai kembali lagi ke kampung halamannya. Ia juga mengemukakan banyaknya TKW yang menjadi korban kekerasan oleh majikan di Arab Saudi disebabkan belum adanya perjanjian G to G antara Pemerintah Indonesia dengan Arab Saudi soal ketenagakerjaan, sehingga proses hukum tidak dapat menyentuh majikan yang menjadi pelaku kejahatan.


Selain itu, budaya di Arab Saudi sangat tertutup, dan kaum perempuan tidak boleh sembarangan ke luar rumah. Di masa depan, dia berharap ada suatu sistem yang dapat mendata majikan yang sering menganiaya pembantu rumah tangga (PRT) di Arab Saudi dan memasukkannya dalam daftar hitam (black list).


Di lain sisi, Chairul Hadi dari Serikat Buruh Migran Indonesia (SBMI) yang juga menjadi kuasa hukum Keni, mengaku kecewa dengan pemerintah yang kurang tanggap dalam menangani TKW yang menjadi korban majikan. Sebab Keni sudah tiga bulan berada di RS Polri, namun belum ada tindakan yang konkret dari Pemerintah Indonesia.


"Kunjungan-kunjungan pemerintah ke sini hanya tebar pesona saja. Kami tidak perlu itu, tapi langkah konkretnya. Selama tiga bulan di sini, Keni hanya mendapat pengobatan biasa, padahal dia harus dioperasi di Singapura," tegas Chairul Hadi dengan nada kesal. Keni (28), asal Desa Losari, Brebes bekerja di rumah Chalik Al Abdul Quraivi, sebagai anggota staf kepolisian, dan Wafa (45), calon dokter. Pasangan yang sudah dikaruniai enam anak ini tinggal di Madinah.


Kepada SH, Keni menceritakan bahwa dirinya sering dijadikan "kelinci percobaan" oleh majikan perempuan yang calon dokter tersebut. "Pertama, tangan saya diseterika, lalu dia kasih obat. Hari berikutnya tangan saya yang satu lagi juga diseterika dan dikasih obat lagi," paparnya. Ternyata bukan hanya tangan, bagian punggungnya juga tak luput diseterika oleh Wafa, bahkan lidahnya disayat dan empat giginya dicabut, lalu Keni disuruh menelan keempat gigi itu.


Akhirnya Keni berhasil kabur dari rumah majikannya dan melapor ke SBMI. Dia sudah empat kali bekerja di Arab Saudi dengan upah Rp 2 juta per bulan.

Rumah Terbuka
Sementara itu, Konsulat Jenderal (Konjen) RI di Indonesia di Jeddah telah melakukan kerja sama dengan Matab Jaliat, lembaga yang sangat kuat pengaruh dan dananya di Arab Saudi, untuk memerintahkan majikan agar memberikan izin bagi PRT asal Indonesia untuk mengikuti pengajian.


"Hal ini merupakan salah satu upaya kami untuk membuka rumah-rumah majikan di Arab. Dengan adanya pertemuan tersebut, kita dapat mengetahui masalah yang dihadapi TKW kita dan ini akan menjadi sarana untuk saling tukar informasi," tutur Safrudin Setiabudi, Asisten Deputi III Urusan Tenaga Kerja Perempuan, Kementerian Negara Pemberdayaan Perempuan.


Link: http://www.sinarharapan.co.id/berita/0901/15/kesra01.html