Saling dorong pagar antara pedagang kaki lima dan satuan pengamanan kampus Universitas Gadjah Mada yang berseragam biru hitam, Senin (12/1) siang, tak terhindarkan. Didukung beberapa mahasiswa dan pendamping dari lembaga swadaya masyarakat, sekitar 30 PKL yang bermaksud menyampaikan aspirasi ke kantor Rektorat itu hanya tertahan sampai di tenggara lapangan Grha Sabha Pramana.
Untuk kesekian kali, para PKL yang menempati bulevar kampus itu berunjuk rasa menentang rencana pihak kampus merelokasi mereka ke tempat baru. Mereka beranggapan, relokasi bukan solusi terbaik untuk menata keberadaan PKL yang sudah belasan bahkan puluhan tahun menetap di tempat itu.
Ada beberapa alasan mengapa para PKL ini menolak relokasi ke tempat baru. Pertama, mereka khawatir rezeki di tempat baru tidak bisa mengalir selancar di bulevar. Maklum lokasi Food Court Plaza yang dibangun di antara gedung BNI 46 Jalan Kaliurang dan Gelanggang Mahasiswa tidak berada pada jalur utama kendaraan.
Alasan kedua, PKL menilai Food Court Plaza tidak mampu menampung pedagang dalam jumlah besar. Area itu, menurut perhitungan PKL, hanya mampu menampung sekitar 30 pedagang dengan ukuran stan yang agak longgar. Padahal, sejauh ini jumlah PKL yang menghuni bulevar mencapai 56 orang. Itu hanya pedagang yang masuk dalam paguyuban. PKL yang tidak masuk paguyuban diperkirakan mencapai 40 orang.
"Pertimbangan lainnya, pengalaman relokasi yang dilakukan UGM sering kali gagal dan tidak menjadikan PKL lebih baik. Pengalaman inilah yang seharusnya menjadi dasar untuk menata PKL bulevar," kata Koordinator Aliansi PKL UGM, Suprihono.
Meski tidak berhasil menerobos hingga gedung Rektorat, aksi yang tidak diikuti semua pedagang karena sebagian harus berjualan untuk menyambung hidup itu telah menggagalkan pertemuan yang dijadwalkan sebelumnya. Seharusnya, siang itu para PKL bertemu satu meja dengan pihak PT Gama Multi Usaha Mandiri, badan usaha milik UGM selaku pengelola Food Court Plaza guna membicarakan teknis relokasi.
"Kami tidak ingin mengikuti pertemuan kali ini. Pernyataan pihak kampus bahwa relokasi ke Food Court Plaza akan semakin menyejahterakan pedagang yang kami nilai masih berupa angan-angan," ujar Suprihono.
Kekhawatiran PKL bahwa pendapatan mereka akan berkurang di tempat yang baru memang beralasan. Selama ini, bulevar kampus memberi mereka banyak rezeki. Ny Ngadimin (60), misalnya, pedagang sup buah yang telah belasan tahun berjualan itu bisa mengantongi Rp 30.000-Rp 100.000 per hari. Besarnya pendapatan tentu dipengaruhi situasi terutama cuaca.
Heri Citra B, salah seorang pendamping PKL, mengatakan, relokasi hendaknya tidak menjadi keharusan. "Bagi PKL yang pendapatannya sedikit, silakan kalau mau dipindah. Namun, jika ada yang enggan pindah maka biarkan saja. Apabila Food Court Plaza nantinya ramai, kami yakin PKL dengan sendirinya akan pindah ke sana," katanya.
Sebetulnya antara PKL dan UGM sempat beberapa kali mencari solusi bersama, termasuk melalui perundingan yang difasilitasi DPRD Sleman, Jumat pekan lalu. Namun, pertemuan yang dihadiri oleh Direktur Pengelolaan dan Pemeliharaan Aset dan pejabat PT Gama Multi Usaha Mandiri itu menemui jalan buntu karena kedua pihak bersikeras dengan pendirian masing-masing.
Menanggapi aksi unjuk rasa Senin siang, Kepala Humas dan Keprotokolan UGM Suryo Baskoro dalam pesan singkatnya kepada Kompas mengatakan, relokasi tetap dijalankan sesuai rencana jangka panjang UGM. Konsep UGM tentang PKL adalah bebas biaya sewa di tempat milik UGM. Selain itu, lokasi baru bertujuan untuk pendampingan, pembelajaran, dan menjadi pedagang semakin meningkat.
"Dengan relokasi tersebut, UGM ingin menjadikan para PKL menjadi pedagang yang tangguh. Di lokasi relokasi, selama tiga bulan pertama, tidak ada biaya apa pun. Setelah itu, ada biaya bersama yang relatif kecil," katanya.
Memang kekerasan hati kedua belah pihak sampai kini masih jauh dari solusi. Sesama penghuni kampus biru itu seolah menemui jalan buntu.... (IRE/WER)
Link: http://cetak.kompas.com/read/xml/2009/01/13/14262277/jalan.buntu.di.kampus.biru
