| http://koran.kompas.com/read/xml/2009/08/11/02540345/anak.miskin.tak.boleh.tenggelam... WAWANCARA KHUSUS Anak Miskin Tak Boleh "Tenggelam"... Selasa, 11 Agustus 2009 | 02:54 WIB Wartawan harian Kompas Apa yang mendasari program SMA Negeri Sumsel? Pemerintah daerah harus turun tangan untuk mengeluarkan keluarga miskin dari rantai kemiskinan. Pemda bisa bekerja sama dengan pihak lain, contohnya Sampoerna Foundation. Falsafahnya adalah keadilan bagi kita semua, artinya anak dari keluarga miskin juga berhak menikmati pendidikan di sekolah internasional. Apa saja persyaratan calon siswa? Menurut Ade Karyana, para calon siswa yang diterima di SMA Negeri Sumsel benar-benar dari keluarga miskin dengan kriteria berpenghasilan rendah. Tim seleksi melakukan survei sampai ke rumah calon siswa. Hasilnya, dari 900 calon siswa, hanya diterima 70 siswa dari Sumsel dan 15 siswa dari luar Sumsel. Alex Noerdin menambahkan, para siswa yang lolos seleksi tidak cuma pintar, tetapi miskin. Mereka harus punya jiwa kepemimpinan karena mereka adalah calon pemimpin, 10 tahun ke depan mereka akan memimpin Sumsel. Alex Noerdin memastikan seleksi berlangsung dengan transparan dan tidak ada yang bisa mengintervensi, termasuk gubernur. Bagaimana persiapan guru-gurunya? Guru harus diprioritaskan lebih dulu. Untuk membuat sekolah unggulan, gurunya juga harus unggul. Maka, para guru untuk sekolah ini adalah guru- guru terbaik dari berbagai daerah di Sumsel. Selain itu, para guru di SMA Negeri Sumsel mendapat gaji yang baik. Jadi, guru tidak akan terpikir untuk macam-macam, kalau macam-macam bisa dicopot. Kita harus adil karena sekolah ini dibiayai dengan uang rakyat. Dari mana biaya untuk program ini? Program SMA Negeri Sumsel dibiayai APBD provinsi dan APBD kabupaten/kota. Dana APBD provinsi yang disiapkan mencapai Rp 100 miliar yang dicairkan dalam beberapa tahap untuk pembangunan fisik sekolah. Sampoerna Foundation bertindak sebagai fasilitator, sedangkan perusahaan-perusahaan swasta di Sumsel juga membantu memberi beasiswa. APBD kabupaten/kota untuk membiayai siswa besarnya Rp 50 juta per anak per tahun, atau sekitar Rp 8 miliar untuk setiap kabupaten/kota per tahun. Apakah sekolah ini tidak menimbulkan kesenjangan? Hidup ini kompetisi, siswa terbaik akan mendapatkan yang terbaik. Bagi guru dan siswa yang tidak bisa bergabung di sekolah ini harus berusaha untuk jadi yang terbaik. Tidak mungkin semua guru dan siswa diakomodasi, munculnya perasaan iri memang tidak bisa dihindarkan. Bagaimana masa depan para lulusan? Sekolah ini memakai kurikulum dari Cambridge. Bahasa sehari-hari adalah bahasa Inggris. Dengan ijazah dari sekolah yang menggunakan kurikulum Cambridge, mereka bisa diterima kuliah di mana-mana. Setelah mereka lulus dan bekerja, mereka boleh bekerja di mana saja. Di akhir wawancara, Alex Noerdin mengatakan, SMA Negeri Sumsel merupakan upaya pemda agar anak-anak pintar dari keluarga miskin tidak tenggelam begitu saja. Menurut dia, anak keluarga miskin harus bisa bersekolah di sekolah berkualitas seperti anak-anak dari keluarga kaya. (WAD)
|
11 August 2009
Anak Miskin Tak Boleh "Tenggelam"...
Diunggah oleh
The Institute for Ecosoc Rights
di
Tuesday, August 11, 2009
