-->

Headlines

The Ecosoc News Monitor

04 September 2009

Siang Bantu Ibu, Sore Mengais Rezeki

http://www.beritakota.co.id/berita/berita-utama/14050-siang-bantu-ibu-sore-mengais-rezeki.html


Siang Bantu Ibu, Sore Mengais Rezeki
Jum'at, 04 September 2009 00:11
MENGINTIP AKTIVITAS ANAK JALANAN DI BULAN RAMADAN (5)
OLEH: MUHAMMAD NOR

JALANAN kerap menjadi pelabuhan terakhir bagi sejumlah anak-anak di Ibukota ketika keluarga mereka terhimpit masalah ekonomi. Di jalanan, anak-anak yang seharusnya menikmati masa-masa sekolah, menggantungkan sebuah harapan untuk meringankan beban ekonomi keluarga. Meski pendapatan yang diperoleh jauh dari yang diinginkan, toh semangat mereka untuk membantu orangtua tidak pernah luntur.

BK/MOHAMMAD NOR
NGAMEN SORE: Tiga pengamen wanita ini baru saja turun dari bus di Terminal Kampungmelayu, Jakarta Timur, Kamis (3/9) petang.

Tengoklah apa yang dilakoni tiga pengamen bernama Bia (16), Irma (16), dan Yuni (15). Persoalan gender bukanlah penghalang utama bagi ketiga Anak Baru Gede (ABG) ini dalam mencari nafkah di jalanan, meski kerasnya kehidupan di jalanan adalah sebuah konsekuensi yang harus dihadapi.  

Memang, tidak terbersit secuil pun keinginan mereka untuk menjadi pengamen jalanan. "Tapi keadaan ekonomilah yang memaksa kami harus begini. Kami pun tidak ingin selamanya menjadi pengamen dan pasti mengharapkan kehidupan yang berbeda layaknya orang lain," ujar Bia kepada Berita Kota saat ditemui di Terminal Kampungmelayu, Jakarta Timur, Kamis (3/4) petang.  

Bermodalkan gitar kecil, Bia, Irma, dan Yuni bermandi peluh mengamen dari satu bus kota ke bus kota lain. Alunan-alunan suara mereka dendangkan di hadapan para penumpang. Ada penumpang yang memberi uang, tapi tidak sedikit pula yang mengacuhkan keberadaan mereka. Bagi Bia dan dua temanya, hal itu bukanlah kali pertama yang mereka hadapi. "Terkadang, hanya satu sampai dua penumpang yang ngasih. Tapi kami tidak berkecil hati karena itu adalah risiko," tutur Bia.

Di bulan Ramadan ini, harapan akan memeroleh pendapatan lebih pun digantungkan. Meski mengamen, mereka mengaku tetap menjalankan ibadah puasa. Bagi ketiga gadis pengamen ini, berpuasa tidak menghalangi seseorang untuk beraktivitas.

Berpuasa sembari mengamen memang diakui Bia, Yuni dan Irma adalah sesuatu yang berat. Apalagi, usia mereka terbilang masih belia. "Makanya kami bersiasat untuk tidak mengamen di siang hari. Terlebih cuaca sekarang sangat panas," ucap Bia, pengamen yang pernah bercita-cita menjadi seorang dokter.

Trio pengamen ini memilih mengamen pada sore hari. Selain sambil menunggu berbuka, bus kota kerap dipadati penumpang pada waktu sore. "Sebagai seorang anak perempuan, pekerjaan rumahtangga juga menjadi kewajiban kami. Sebelum berangkat, kami terlebih dahulu membantu pekerjaan ibu di rumah," tuturnya.

Dari kediaman di kawasan Prumpung, Jatinegara, Bia dan dua temannya-temannya berangkat menuju Terminal Kampungmelayu, kira-kira pukul 15.00. Di sana, mereka mengamen di atas bus kota yang sedang menunggu penumpang. Meski hanya mengamen pada sore hari, Bia mengakui jika pendapatannya masih stabil selama bulan Ramadan. "Masih berkisar antara Rp20 hingga Rp25 ribu," ujarnya, sembari tidak berhenti berharap kehidupan keluarganya kelak bisa berubah. O bersambung