| http://regional.kompas.com/read/xml/2009/09/01/1947244/Sleman.Juga.Imbau.Warga.Tidak.Beri.Sedekah.ke.Pengemis Sleman Juga Imbau Warga Tidak Beri Sedekah ke Pengemis Selasa, 1 September 2009 | 19:47 WIB SLEMAN, KOMPAS.com — Setelah Jakarta melarang, Pemerintah Kabupaten Sleman kini mengimbau warganya untuk tidak memberikan uang kepada gelandangan dan pengemis yang saat ini marak beroperasi di jalan. "Dalam penanganan gelandangan dan pengemis, pemerintah mengharapkan peran aktif masyarakat. Antara lain tidak memberikan uang di jalan. Kalau ingin memberikan bantuan sebaiknya disalurkan melalui lembaga sosial," kata Kepala Bagian Humas Pemkab Sleman Endah Sri Widiastuti, Selasa (1/9). Menurut dia, selama Februari hingga Agustus 2009, Dinas Tenaga Kerja, Sosial, dan Keluarga Berencana (Nakersos KB) Kabupaten Sleman telah mengidentifikasi anak jalanan serta gelandangan dan pengemis hasil penertiban sebanyak 342 orang. "Dari jumlah tersebut, 71 orang berasal dari Sleman dan 271 orang lainnya berasal dari luar Sleman, terbanyak dari Jawa Tengah 161 orang," katanya. Menurut dia, dari jumlah tersebut, 63 orang merupakan wajah lama, dan 279 orang wajah baru. Setelah dirazia, anak jalanan, gelandangan, dan pengemis yang berasal dari luar Kabupaten Sleman dipulangkan ke daerah asal. "Mereka umumnya tidak mau diantar dan lebih memilih pulang sendiri. Dalam membina anak jalanan, gelandangan, dan pengemis kami bekerja sama dengan panti sosial dan rumah singgah di Sleman," katanya. Ia mengatakan, di Sleman saat ini terdapat tiga rumah singgah yang menampung anak jalanan hasil penertiban. Ketiga rumah singgah tersebut adalah Girlan Nusantara di Prambanan, Diponegoro di Depok, dan Pambudi di Gamping. "Di rumah singgah tersebut, mereka diberi keterampilan dan pembinaan mental spiritual sekaligus diberikan bantuan untuk usaha mandiri," katanya. Selama proses pembinaan tersebut, anak jalanan, gelandangan, dan pengemis diperlakukan dengan baik, mereka mendapat konsumsi yang anggarannya berasal dari APBD Sleman. "Untuk 2009, setiap orang diberi makan dan minum senilai Rp 10.000 per hari," katanya. Ia mengatakan, Dinas Nakersos KB akan membina dengan baik setiap gelandangan dan pengemis atau anak jalanan yang mau tinggal di rumah singgah atau panti sosial. Kalau mau pulang ke rumah orangtuanya, mereka akan diantarkan oleh petugas. "Anak jalanan yang mau dibina di rumah singgah umumnya tidak turun lagi di jalan. Yang muncul justru anak jalanan baru yang sebagian berasal dari luar Sleman, dan biasanya mobilitas mereka tinggi," katanya. |
02 September 2009
Sleman Juga Imbau Warga Tidak Beri Sedekah ke Pengemis
Diunggah oleh
The Institute for Ecosoc Rights
di
Wednesday, September 02, 2009
