-->

Headlines

The Ecosoc News Monitor

30 September 2009

Tak Ada Biaya, Balita Gizi Buruk Dibawa Pulang dari RS

http://surabaya.detik.com/read/2009/09/29/182052/1211355/475/tak-ada-biaya-balita-gizi-buruk-dibawa-pulang-dari-rs

Selasa, 29/09/2009 18:20 WIB
Tak Ada Biaya, Balita Gizi Buruk Dibawa Pulang dari RS
Tamam Mubarok - detikSurabaya



Foto: Tamam Mubarrok
Mojokerto - Seorang balita penderita gizi buruk, Beni Prastiyo berusia 13 bulan, dibawa pulang orang tuanya dari rumah sakit karena tidak ada biaya.

Meski menggunakan kartu jaminan kesehatan masyarakat (jamkesmas), keluarga itu tetap membeli obat dengan biaya sendiri.

"Saat di RSUD Mojosari maupun Gedeg, kami memang tidak dipungut biaya rawat inap. Tapi untuk obat, kami harus beli dengan biaya sendiri," kata Sumarni (33), ibu kandung Beni kepada detiksurabaya.com di rumah kakaknya, Desa Wringin Rejo, Kecamatan Sooko, Mojokerto, Selasa (29/9/2009).

Beni sempat dirawat di RSUD Prof Dr Soekandar di Kecamatan Mojosari dan RSUD Ahmad Basuni di Kecamatan Gedeg. Kedua rumah sakit itu milik Pemkab Mojokerto. Namun menurut Sumarni, pelayanan di 2 rumah sakit itu, tidak seperti pasien
umum. "Kami jarang ditinjau dokter," ungkapnya.

Karena tidak ada biaya untuk membeli obat, keluarga lalu membawa pulang Beni dari rumah sakit. Menurut Sumarni, anaknya dinyatakan menderita gizi buruk.

"Biaya hidup saat menunggu juga banyak. Karena tidak ada biaya, lebih baik saya bawa pulang saja," tuturnya.

Sumarni bercerita saat lahir Beni memiliki berat badan 3,7 Kg. Berat badan itu kategori normal.. Namun selanjutnya, Beni sering sakit. Beni sering muntah dan buang air besar. Karena sakit yang diderita berat badannya tidak sebanding dengan usianya.

Usia 13 bulan ini, berat badan Beni kurang dari 5 Kg. Padahal seusia Beni, berat badan ideal seharusnya 9 kilogram. Meski dirawat di rumah, Beni juga tidak mendapat asupan gizi yang cukup. Karena tidak mau mengonsumsi ASI, Beni terpaksa minum air putih dan air tajin atau sari beras yang dimasak.

Bekerja serabutan dan lebih sering menganggur, Sutaji maupun Sumarni tak bisa memberi asupan gizi yang ideal buat anaknya. Keluarga miskin ini berharap ada bantuan dari Pemkab Mojokerto atau pihak lain, guna menunjang asupan gizi anaknya itu.

(wln/wln)