-->

Headlines

The Ecosoc News Monitor

28 August 2007

Gus Dur: Perbuatan Binatang Jauh Lebih Baik

Gusdur.net

Tentang Empat TKW Dianiaya di Arab Saudi

Jakarta, gusdur.net — Perlakuan tidak manusiawai kembali dialami Tenaga Kerja Wanita (TKW) Indonesia di Arab Saudi. Susmiyati, Siti Tarwiyah, Tari binti Tarsim dan Ruminih, pada 3-4 Agustus 2007, dianiaya 7 warga Arab Saudi. Susmiyati dan Siti Tarwiyah bahkan meninggal dunia seketika. Sedang Tari binti Tarsim dan Ruminih mengalami luka parah dan kini dirawat di RS Medical Complex di Riyadh.

Selama 22 hari paska kejadian, keluarga korban terus mencari keadilan. Namun hingga detik ini, baik pemerintah RI maupun keluarga majikan korban di Arab Saudi, tak memberikan jawaban apapun. Karenanya, didampingi Rieke Diah Pitaloka dan aktivis Migrant Care, mereka mengadukan masalahnya pada mantan Presiden RI KH. Abdurrahman Wahid (Gus Dur) di Gedung PBNU Jakarta, Jum’at (24/08/2007) sore.

Satu persatu keluarga korban menyampaikan harapannya kepada Ketua Dewan Syura DPP PKB itu. “Kami sangat memohon pada Gus Dur untuk melakukan terobosan ke Raja Fahd. Pemerintah Indonesia, Deplu, dan KBRI, belum memberikan jawaban yang pasti,” pinta suami almarhumah Siti Tarwiyah, Hamid (36 tahun).

“Saya tidak akan memaafkan orang yang menganiaya isteri saya sampai meninggal,” imbuh pria dari Ngawi Jawa Timur ini.

“Saya mohon, supaya jenazah kakakku dipulangkan ke Indonesia,” ujar adik kandung almarhumah Susmiyati, Supomo (26 tahun), yang asli Pati Jawa Tengah.

Sedang suami Tari binti Tarsim Deden Eka Sundar meminta bantuan Gus Dur untuk mencari keberadaan istrinya, yang kabarnya diculik dari rumah sakit tempatnya dirawat. “Saya minta pelaku dihukum setimpalnya,” ujar pria Karawang Jawa Barat ini.

Carumi (33 tahun), kakak kandung Ruminih berharap adiknya segera dipulangkan. “Saya mohon doa dan dukungan Gus Dur, mudah-mudahan masalah ini cepat selesai, sehingga adik saya segera dipulangkan ke Indonesia dengan selamat,” ujarnya lirih.

Menanggapi pengaduan itu, Gus Dur menyatakan, dirinya mendukung perjuangan mereka. “Kita juga sudah banyak berbuat, tapi diam-diam. Kalau diumumkan, Kedutaan Saudi Arabia akan marah. Tapi dengan seperti itu tetap tidak menyelesaikan masalah. Ya sudah, kita bawa ke umum saja sekarang,” imbuhnya.

Menurut Gus Dur, problem tenaga kerja di luar negri akan terus terjadi . “Wong di sini nggak ada pertumbuhan ekonomi sama sekali,” kritiknya.

Menjawab pertanyaan wartawan tentang lambannya pemerintah menagani TKI sedang masalah penculikan Raisya begitu reaktif, Gus Dur menjawab, “Presidennya penakut. Nggak berani berhadapan dengan Saudi Arabia. Dia takut reaksinya di luar negeri. Ya sudah, nggak berani ngomong,” sentilnya.

Selain itu, untuk menyelesaikan persoalan ini, juga diperlukan kepemimpinan yang jujur. “Laporan ke KBRI percuma kalau mereka nggak jujur,” katanya.

Kenapa kejadian tragis seperti ini terus berulang? “Pandangan mereka (orang Arab Saudi, red.) tentang kita, orang luar, itu rendah sekali. Saya lama tinggal di sana, sehingga tahu hal ini,” ujarnya.

Karena itu, untuk mengatasi masalaah ini, Gus Dur mengajak semua komponen bangsa peduli terhadap nasib TKI. “Mari bersama-sama memperjuangkan nasib mereka di sana. Memang untuk sementara belum berhasil, tapi harus terus dilakukan,” pesannya.

“Ini perjuangan jangka panjang. Nggak bisa selesai cepat,” sambungnya.

Gus Dur juga berharap agar keluarga korban tidak memaafkan pelakunya. Karena jika dimaafkan, pelakunya hanya dikenakan membayar diyat oleh Pemerintah Arab Saudi dan tidak dihukum mati. “Karena perbuatan binatang jauh lebih baik dari mereka,” tegasnya.

Di akhir pengaduan, mereka yang tergabung dalam Koalisi Masyarakat untuk Keadilan Buruh Migran Indonesia membacakan tuntutan, baik kepada pemerintah Republik Indonesia maupun kepada pihak Pemerintah Arab Saudi.

Isi tuntutan itu:

Pertama , segera pulangkan jenazah Susmiyati dan Siti Tarwiyah disertai dengan hak-hak korban selama mereka menjadi buruh migran di Saudi Arabia.

Kedua , berikan akses kepada KBRI di Riyadh dan lawyer yang menangani kasus ini untuk mendampingi Tari selama proses memberikan keterangan sebagai saksi serta penuhi kebutuhan rehabilitasi medis dan psikis secara utuh kepada Tari dan Ruminih.

Ketiga, usut tuntas kasus penganiayaan secara keji ini dan jatuhkan hukuman yang seberat-beratnya kepada para pelaku.

Keempat , pemerintah Saudi Arabia harus meminta maaf secara resmi kepada keluarga korban serta seluruh masyarakat Indonesia atas terjadinya insiden penganiayaan secara keji tersebut.

Sedang kepada pemerintah Indonesia, mereka menuntut:

Pertama, BNP2TKI dan Depnakertrans RI harus segera mengusut dan menindak tegas PJTKI yang memberangkatkan keempat korban penyiksaan, yaitu PT Amri Margatama (Ruminih dan Siti Tarwiyah), PT Alfindo Mas Buana (Susmiyati) serta PT Arya Duta Bersama (Tari bint Tarsim).

Kedua , Deplu RI harus memanggil Duta Besar Saudi Arabia untuk RI agar bertanggungjawab secara penuh untuk menuntaskan kasus ini.[]