-->

Headlines

The Ecosoc News Monitor

16 April 2008

Anak Jalanan Kian Tersingkirkan

Pengantar Redaksi:
Anak jalanan tetap menghiasi jalan-jalan di Ibu Kota Jakarta. Selain mengamen, mereka juga kadang menjadi pengemis. Hingga kini Pemda Jakarta belum mampu mengatasinya. Yang ada mereka menjadi sasaran kekerasan aparat Tramtib di jalan. Berikut laporan khusus SH mengenai anak jalanan dan persoalannya. Laporan terkait juga tersaji di halaman 9 mengenai eksploitasi anak jalanan.

JAKARTA – Tak sulit mendapatkan pemandangan sosok anak jalanan di Ibu Kota. Jujur saja hampir seluruh perempatan jalan di Jakarta dikuasai mereka. Mulai dari pengemis, pengamen hingga hanya sekadar jasa membersihkan kaca mobil dengan kemoceng.
Tak jarang mereka terpaksa hanya bersandiwara dengan menuturkan air mata agar pengguna jalan sudi melemparkan recehannya ke anak jalanan tersebut terutama yang lebih memilih menjadi pengemis.

Kondisi itu SH temui di sejumlah titik lokasi beroperasinya anak jalanan seperti di Slipi Palmerah Jakarta Barat, Jalan Fatmawati Jakarta Selatan, perempatan Coca Cola, Harmoni, Pejompongan Jakarta Pusat, Prumpung serta UKI Cawang Jakarta Timur.

Tidak diketahui secara pasti jumlah anak jalanan di Jakarta. Namun, data Komisi Perlindungan Anak Indonesia mencatat jumlah anak jalanan di beberapa kota besar di Indonesia pada tahun 2005 adalah 150.000 anak. Dari jumlah tersebut, sekitar 30.000 anak jalanan berada di Jakarta. Jumlah ini belum termasuk jumlah anak dan balita telantar.
Di Slipi Jaya Jakarta Barat tanpa sungkan-sungkan seorang anak perempuan kecil sekitar usianya lima atau enam tahun, menyodorkan tangannya kepada SH yang sedang makan bubur di kawasan itu dan minta uang untuk makan. Tak lama jeda lima menit datang lagi anak lainnya yang kira-kira usianya sama. Dan, anak kecil ketiga datang lagi untuk terakhir kalinya ada pengemis kecil menemani sampai bubur di mangkuk habis.

Sempat dapat jawaban dari mereka setelah recehan seribu rupiah diterima mereka. Katanya, mereka mengaku paginya sekolah, dan duit itu buat biaya sekolah. Mereka bercerita pula kalau kembali pulang untuk tidurnya di daerah pinggiran jalan arah Tanah Abang. Entah tepatnya di mana itu, bisa saja di stasiun namun yang menarik adalah anak perempuan kecil yang pertama dengan kalimatnya menyebutkan, "Kata mama tidak boleh menjawab kalau ada yang bertanya."

Hal serupa ditemui di perempatan Jalan Fatmawati juga ada kelompok yang tak ubahnya di daerah Slipi. Mereka mengemis kepada pengendara mobil atau motor yang berhenti di lampu merah tersebut. Belasan anak di bawah umur delapan tahunan menyerbu setiap kendaraan yang berhenti. Di sudut lainnya, di bawah pohon pinggir-pingir jalan lampu merah tampak ibu atau kakak dari mereka memantau.

Anak jalanan terlihat menyemut di perempatan lampu merah di kawasan Senen, Jakarta Pusat. Sepertinya ini menjadi lapangan yang menarik bagi Ria (13) bukan nama sebenarnya. "Saya ngamen untuk tetap bisa hidup, dan menghidupi orang tua yang hanya buruh saja," ujarnya.

Siang itu, Rabu (19/3), turun hujan deras, tubuh kecilnya merapatkan kedua belah telapak tangannya ke arah bibir. Dengan menggigil dia mengungkapkan keberadaannya di kawasan Senen sudah berlangsung selama tiga tahun. Setiap pagi, ia mengawali kreativitasnya sebagai pengemis yang mengamen bermodalkan bekas botol minuman mineral berisi beras.
"Saya dan beberapa teman, berbarengan berangkat dari Prumpung untuk ngamen di lampu merah," katanya. Namun, menurutnya aktivitas yang telah menjadi pekerjaan sehari-hari dilakukan dengan hati-hati. "Banyak Tramtib, Mbak yang suka nangkepin kita, jadi harus pinter-pinter kalau nggak bisa repot, kan nebusnya mahal kalau ketangkep," ujarnya.

Seks Bebas
Lain lagi di kawasan Slipi, saat gelap makin memeluk kesunyian aktivitas perkotaan, sepertinya menjadi awal bagi pengamen yang tergolong dewasa untuk memulai pesta. Diungkap Dayat, pengamen yang biasa mengamen di trayek Cawang-Grogol membawakan lagu The Beatles.

"Kalau di sini pengamennya udah parah-parah. Banyak yang cari uang dari hasil ngamen bukan untuk biaya hidup, tapi untuk beli minuman keras (miras) dan leksotan, yang lebih gila lagi di sini kerap terjadi seks bebas. Tunggu lebih malam lagi, Mbak, kalau mau lihat adegan syur itu, di bawah kolong jembatan ntar juga kelihatan yang esek-esek," katanya.
Belum berganti hari ketika SH melakukan pengamatan, potret yang mencengangkan terjadi. Apa yang diungkapkan Dayat, memang benar adanya. Nasib anak-anak yang terpinggirkan memang suram tergambar, perempuan yang usianya belum dewasa itu menikmati kemesraan dengan rekan sesama pengamen.

Di perempatan perbelanjaan kawasan Cililitan, Kamis (20/3), suara lantunan gitar berukuran besar dan kecil melengkapi suasana penumpang kendaraan yang menunggu lampu berganti hijau. Lagu-lagu terkini yang sedang tren pun dibawakannya bermaksud menghibur penumpang, sikap pengamen pun direspons penumpang simpati dengan memberikan lembaran ribuan maupun kepingan logam. Namun, tatapan sinis dari penumpang pun tak jarang ditemui pengamen.

Carlo, salah seorang pengamen menuturkan, mereka mengamen hanya untuk mendapatkan uang dan setelah itu senang-senang.

Menurut Carlo, solidaritas yang terbangun dengan teman-temannya cukup baik. "Kami hampir setiap malam berkumpul di sini," katanya.

Berbeda dengan Komprang, pengamen yang beroperasi antara Kalibata-Cililitan. "Saya mah ngamen buat cari uang untuk emak, sisanya sih kadang buat minum," ungkapnya.
Komprang dan beberapa rekannya seperti Sigit, Boneng merupakan anak jalanan yang tergabung di sebuah yayasan di daerah Kampung Melayu. Kerasnya hidup di jalan membuat mereka harus kuat-kuat dan tahan banting. "Kita sering ditangkap, Mbak, apalagi di Kalibata, Tramtib yang nangkep itu udah kaya nangkep maling ayam. Kami ditonjokin, ditendangin sama Tramtib terus dibawa ke Panti Kedoya," kata Boneng.

Pemerhati anak, Seto Mulyadi yang dihubungi SH, mengungkapkan kecemasan yang mendalam. Katanya, "Anak itu adalah individu yang masih lemah dan harus berkembang, bermain, belajar, bukan tenaga murah yang dipekerjakan untuk memancing belas kasihan orang."
 

Menurut Kak Seto, pembangunan rumah singgah bagi anak-anak kaum marginal per wilayah yang lebih manusiawi. (juliadi prananta/ninuk cucu suwanti/norman meoko)
 


Be a better friend, newshound, and know-it-all with Yahoo! Mobile. Try it now.