-->

Headlines

The Ecosoc News Monitor

16 April 2008

Keringat Anak demi “Dapur Ngebul”


JAKARTA – Atas nama ekonomi pas-pasan, banyak keluarga yang menyulap anak mereka menjadi anak jalanan. Mereka dicetak sebagai mesin penghasil uang agar dapur tetap ngebul. Anenya, kondisi itu terjadi di Ibu Kota Jakarta ini.

Wanto (11) yang bersama adiknya, Ulis (2), memasang wajah memelas. Tangannya menengadah pada setiap orang yang melintas di jembatan busway Cililitan, Jakarta Timur. "Bagi duit dong. Belum makan nih," rintihnya.

Di lapaknya Wanto sengaja menggelar kain panjang untuk tempat Ulis bermain. Orang yang melintas, tidak jarang memberi lembaran rupiah dan kepingan logam di gelas plastik. Pakaian keduanya lusuh, kumal dan tanpa alas kaki.

"Saya di sini dari jam satu siang sampai delapan malam," ungkap Wanto kepada SH. Ia mengaku tidak bersekolah lagi karena biaya mahal. "Saya anak pertama. Adik saya empat orang, ibu saya berdagang dan ayah saya buruh," ungkapnya. Baginya, yang terpenting setiap hari bisa mendapatkan uang untuk disetor kepada ibunya yang berdagang tidak jauh dari tempatnya beroperasi.

Setiap harinya, Wanto menyetor Rp 50.000 ke ibunya. Mujur jika datang hari libur karena pendapatannya selama separuh hari sebagai pengemis bisa bertambah. "Kan yang ngasih nggak cuma penumpang busway, yang mau masuk ke PGC (Pusat Grosir Cililitan-red) juga suka ada yang ngasih," katanya.

Jembatan busway memang berhubungan dengan sebuah lantai pertokoan mal praktis menjadi lahan strategis bagi Wanto dan Ulis mendulang rupiah.

Pengamatan SH, Kamis (20/3) malam, di perempatan Cililitan begitu ramai anak bocah. Lebih dari 50 anak menyeruak di ruas jalan raya malam itu. Dengan modal kecrekan mereka mendendangkan lagu-lagu di mikrolet-mikrolet yang parkir sesaat di ruas jalan raya. Terlihat tingkah pola mereka sesekali bercanda dengan teman sebaya. Ada juga yang tidur-tiduran di trotoar dan sebagiannya lagi sibuk menghitung uang receh.

Dari kejauhan si ibu yang anaknya sedang mengamen terlihat memperhatikan, dan memberikan instruksi untuk mencari tempat yang macet. "Akbar... Akbar ke sono gih, di tempat macet aja jangan bercanda terus," teriak Rohani (45), sang ibu sambil menunjukkan tangannya ke suatu tempat.

Rohani, warga Kampung Tengah bukan tak sadar telah mempekerjakan anaknya sebagai pengamen. "Saya iba dan ngenes Mbak sebenarnya, tapi mau bagaimana lagi hidup kami memang sulit," ujarnya.

Akbar telah dua tahun menjadi pengamen jalanan di daerah Cililitan. Sebelumnya, dia mengamen di lampu merah Pasar Rebo dan Cijantung, Jakarta Timur. "Di sini baru karena lebih ramai," katanya.

Dia memulai operasinya pukul 16.30 WIB dari rumahnya di Kampung Tengah. Hal itu dilakukan karena selain masih sekolah Akbar juga menghindari razia petugas tramtib. "Kalau udah sore tramtib enggak ada, jadi aman deh untuk ngamen," katanya.

Rohani mengaku, setiap harinya kerap mengawasi Akbar mengamen. "Soalnya dia itu kalau nggak diawasi suka bercanda, kan repot kalau ketabrak mobil lagi," katanya. Akbar memang pernah mengalami kecelakaan saat mengamen, tubuh kecilnya terjatuh dari mobil angkutan.

Rohani mengungkapkan dirinya tinggal ngontrak di rumah petak. Sehari-hari keluarganya jika mau buang air dan mandi harus membayar. Kesehariannya Rohani bekerja sebagai buruh kupas bawang di Pasar Induk, sementara suaminya bekerja sebagai kuli di tempat yang sama. "Penghasilan saya hanya Rp 10.000. Bapaknya belum tentu dapat, kalau Akbar ngamen lumayan bisa nambahin pemasukan Rp 25.000," katanya.

Bocah cilik yang kulitnya legam, lusuh dengan senjata ngamen yang terbuat dari botol minuman mineral diisi beras menghampiri tempat kami melakukan perbincangan. "Mak, ni dapat Rp 4.500, ni Akbar bagi gopek ya Mak mau beli minum," katanya polos.
Bocah cilik yang pandai bernyanyi di angkutan itu pernah tidak naik kelas, akibat tidak dapat membaca. "Kayanya sih si Akbar nggak naik kelas lagi nih Mbak, orang dia mah bodoh nggak bisa baca," katanya.

Kendati anaknya diprediksi tidak naik kelas, Rohani tetap menginginkan anaknya sekolah. "Saya pengen anak Akbar tidak susah kaya saya," katanya.

Malam semakin larut, tapi bocah-bocah ini tak kunjung menyudahi pertempuran di jalan raya. Satu per satu ibu-ibu datang duduk tak jauh dari SH berbincang dengan Rohani. "Mereka ini mau jemput anaknya yang ngamen juga," tutur Rohani.

Betul saja, pukul 23.00 satu per satu bocah itu pergi. Hanya ada beberapa bocah yang masih mangkal di situ seperti halnya Dadan (8). Ketika ditanya mengapa dia tidak pulang, Dadan dengan ketus menjawab, "Ngapain pulang emak cerai ama bapak, males, saya udah lima hari nggak pulang."

Lain lagi dengan Hasnah (14). Impiannya sebagai seorang dokter terpaksa dikuburnya dalam-dalam. "Saya harus mengamen, kalau tidak bagaimana saya, kakak dan ibu saya makan," katanya.

Miskin membuat segalanya berubah: anak pun diubah menjadi mesin uang dengan mengemis. Tragisnya lagi kondisi itu muncul di jalan-jalan di Jakarta yang kerap dilalui mobil-mobil mewah berharga ratusan juta rupiah bahkan semiliar rupiah.
(ninuk cucu suwanti/nor)
 


Be a better friend, newshound, and know-it-all with Yahoo! Mobile. Try it now.