JAKARTA Siapa bilang menjadi pedagang kaki lima (PKL) tidak bisa mendulang sukses? Modalnya cuma satu, yakni ulet! Urusan modal duit bisa menjadi urutan modal nomor kesekian. Kastono, pedagang buah dan Suratmi, pedagang bakso ceker, telah membuktikan itu.
Lapak berukuran 2x4 meter di badan trotoar tepat di depan bangunan pabrik pembuatan Stop Map Bambi agaknya menjadi singgasana paling menarik bagi Kastono (51). Aktivitas kesehariannya dilakukan Kastono di tempat itu adalah berdagang buah-buahan.
Berbekal keinginannya melihat anak-anaknya sekolah hingga perguruan tinggi, Kastono hijrah dari Semarang 13 tahun lalu. "Saya masih ingat betapa pilu hati ini, ketika mau sekolah saya tidak punya alas kaki dan sepatu," ungkapnya getir.
Kisah kelu di masa lalu itulah yang akhirnya membawa ayah dari lima orang anak ini hijrah ke Jakarta.
Beratapkan terpal yang mulai lusuh dan bolong, tak putus waktu Kastono berdagang buah-buahan di daerah Pasar Rebo. "Saya berjualan setiap hari 24 jam penuh, bergantian dengan anak saya," katanya. Anak Kastono memang ikut membantunya berdagang buah-buahan, namun menjelang sore hari Ali Arifin harus "cabut" karena harus kuliah.
Ketika SH menyambangi lapak dagang Kastono, lapak yang dibuat ruang terlihat buku-buku pelajaran berjajar rapi di atas lemari pakaian. Ali yang saat itu tidak melayani pembeli pun terlihat asyik membaca buku. Boleh jadi keberadaan PKL memang mengganggu keindahan lalu lintas. Namun, bagi Ali mahasiswa Fakultas Keguruan dan Pendidikan di Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatulah, Ciputat itu keberadaan ayahnya di atas trotoar adalah bentuk kasih yang indah.
Ketika mengawali usahanya berdagang di area lampu merah Pasar Rebo, Kastono membeli lahan dari pedagang yang sebelumnya menempati areal tersebut. "Saya membeli lahan ini Rp 7 juta," katanya. Berada di lokasi untuk berdagang buah tidak ada pungutan yang harus dibayar. "Paling-paling cuma uang kebersihan yang ditarikin pihak Kecamatan Rp 2.000 setiap harinya," jawabnya.
Dengan modal awal dagangan Rp 1 juta, tempat dagang Kastono sudah penuh disesaki buah-buahan.
Meskipun membayar mahal untuk lahan berdagang, Kastono masih kerap menghadapi perilaku petugas Tramtib yang melarang PKL berdagang. "Saya pernah mengalami perilaku yang tidak baik dari petugas Tramtib ketika fly over ini dibangun," katanya.
Meskipun rela menghadapi kehidupan yang getir di kota besar, untung telah berhasil diraih pria yang kerap disapa Pak Kumis ini. Dia mampu membangun sebuah rumah yang tergolong mewah untuk ukuran rumah di kampungnya. Bukan hanya rumah, Kastono juga memiliki enam sepeda motor mulai dari keluaran lama hingga terbaru yang ada di Semarang.
Namun, baginya yang terpenting dari jerih payah yang dilakukannya adalah memberikan bekal pendidikan bagi kelima anaknya. "Saya sangat ingin melihat anak-anak tumbuh menjadi orang yang mapan, dengan pendidikan yang cukup," harapnya.
Separuh harapannya memang telah terwujud, anak-anaknya bisa mengenyam pendidikan hingga perguruan tinggi. "Setiap hari keuntungan dari berdagang buah, saya gunakan untuk biaya sekolah dan menabung," tuturnya.
Harapan Kastono kini ingin segera melihat anak-anaknya segera lulus kuliah. "Kalau anak-anak udah menjadi sarjana berarti mereka harus mampu melanjutkan hidupnya dengan mandiri. Tinggal saya dan istri menyiapkan diri untuk pergi beribadah haji," katanya.
Bakso Ceker
Nasib baik pun menaungi PKL asal Wonogiri Jawa Tengah, Suratmi. Berdiri tepat di depan bangunan milik orang lain yang berhadapan dengan Pasar Blora Jakarta Pusat, setiap harinya Suratmi dibantu dua pegawainya membuka usaha bakso ceker. Bukan tanpa maksud tentunya Suratmi dan suaminya hijrah ke Jakarta dari Wonogiri. "Sebagai orang tua saya ingin memberikan yang terbaik bagi anak-anak saya," katanya.
Warung bakso ceker Suratmi sudah berdiri 28 tahun. Ketika SH menyambangi warung bakso itu tampak selalu dipadati pembeli, padahal tempatnya sangat sederhana. "Konsumen saya mayoritas pegawai di sekitar sini, tapi ada juga yang dari tempat lain," katanya. Setiap harinya Suratmi memulai aktivitas dagangnya pukul 11.00 dan biasanya dagangan habis pukul 16.00 WIB.
Suratmi menghabiskan 10 kilogram ceker setiap harinya untuk kurang lebih 150 mangkok dengan harga per porsi Rp 8.000. "Awalnya sih coba-coba buat bakso ceker, karena ceker yang kami pakai untuk kuah menghasilkan rasa yang gurih. Sekarang kami tambahkan ceker pada hidangan bakso," ungkapnya.
Dia memulai usahanya dengan modal awal Rp 150.000. Ketika itu bahan-bahan masih murah sehingga harga bakso ceker pun hanya sekitar Rp 3.000 per mangkok. Sekarang dengan modal setiap harinya Rp 550.000, Suratmi mengantongi keuntungan Rp 200.000 per hari.
Keuntungan yang paling membekas bagi Suratmi adalah ketika dirinya berhasil memberikan pendidikan hingga bergelar sarjana pada anaknya. "Anak saya sudah sarjana. Saya juga punya rumah di kampung karena usaha bakso ceker ini," tuturnya.
Namun, di balik apa yang telah dituai, Suratmi masih berharap punya kios untuk dagangan bakso cekernya. "Saya nggak mungkin numpang terus di sini. Maunya sih buka kios sendiri, tapi cari tempat di Jakarta 'kan susah," katanya.
Kastono dan Suratmi adalah satu dari sekian banyak PKL yang sukses di Ibu Kota Jakarta yang dilukiskan pelawak Ateng lebih kejam dari Ibu Tiri. Keduanya telah menjadi pemenang sejati karena keuletannya.
(ninuk cucu suwanti/nor)
Be a better friend, newshound, and know-it-all with Yahoo! Mobile. Try it now.
