Pengantar Redaksi:
Kehadiran pedagang kali lima (PKL) menjadi momok menakutkan bagi pengelola kota termasuk Pemda Jakarta. Kesan jorok, semrawut dan merusak keindahan kota menjadi dasar penggusuran terhadap mereka. Namun, ketika krisis ekonomi melanda negeri 1997 lalu justru sektor inilah yang mampu bertahan hidup.
Berikut laporan khusus mengetengahkan problema PKL di Jakarta. Termasuk laporan terkait di halaman 9 tentang mereka yang sukses dari sektor informal ini.
JAKARTA Penyanyi Iwan Fals dalam sebuah tembangnya menyebutkan pedagang kaki lima (PKL) adalah bunga trotoar yang liar. Namun, bagi aparat Tramtib, PKL bukanlah bunga liar yang harus ditertibkan ketika pejabat akan melalui sebuah kawasan atau tamu yang sedang singgah di Ibu Kota dan akan "menari-nari" di jalan-jalan utama Jakarta. Tapi, PKL tetap dibiarkan hidup untuk kemudian dijadikan sapi perah.
Kehadiran pedagang kali lima (PKL) menjadi momok menakutkan bagi pengelola kota termasuk Pemda Jakarta. Kesan jorok, semrawut dan merusak keindahan kota menjadi dasar penggusuran terhadap mereka. Namun, ketika krisis ekonomi melanda negeri 1997 lalu justru sektor inilah yang mampu bertahan hidup.
Berikut laporan khusus mengetengahkan problema PKL di Jakarta. Termasuk laporan terkait di halaman 9 tentang mereka yang sukses dari sektor informal ini.
JAKARTA Penyanyi Iwan Fals dalam sebuah tembangnya menyebutkan pedagang kaki lima (PKL) adalah bunga trotoar yang liar. Namun, bagi aparat Tramtib, PKL bukanlah bunga liar yang harus ditertibkan ketika pejabat akan melalui sebuah kawasan atau tamu yang sedang singgah di Ibu Kota dan akan "menari-nari" di jalan-jalan utama Jakarta. Tapi, PKL tetap dibiarkan hidup untuk kemudian dijadikan sapi perah.
Karena itu, hingga kini Pemda Jakarta sulit menertibkan trotoar dari hiruk-pikuk PKL. Setidaknya itulah yang tampak di depan Kampus YAI dan Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo (RSCM) Jakarta Pusat persisnya di Jalan Pangeran Diponegoro.
Para PKL menjajakan barang dagangannya mulai dari makanan, baju, aksesori, kebutuhan perkuliahan hingga jual beli telepon genggam. Tak dapat dipungkiri kehadiran mereka di sana ibarat ladang gandum bagi sejumlah petugas penertiban.
Lokasi PKL di area ini memang terbilang sangat strategis, bukan saja anak kuliah yang menjadi target konsumen, tapi juga mereka yang bekerja ataupun sedang berkepentingan di RSCM.
Jum (28), pedagang perlengkapan kuliah dan aksesori telepon genggam yang telah lima tahun berdagang di sana mengakui, tidak ada bayaran sewa untuk bisa berdagang di sini. Yang ada katanya uang kebersihan yang ditarik aparat kelurahan setempat.
Omzet yang diterima Jum sebagai PKL pun tidak tentu. "Kalau lagi ramai ya ramai, tapi biasanya setiap hari keuntungan kotor Rp 50.000 sih dapet," ungkapnya.
Di trotoar depan RSCM hanya bisa dilalui satu orang, sebagian badan trotoar sudah terkuras meja-meja pedagang. Kemacetan tampaknya makin menjadi karena yang mejeng bukan hanya PKL, tapi juga ojek-ojek dan bajaj yang mencari penumpang.
Kondisi serupa tampak di kawasan Terminal Kampung Melayu, Jakarta Timur. Meski-pun kerap dilakukan razia oleh Tramtib, tapi tetap saja PKL tak jera. Sebut saja Yanti (38), pedagang minuman. Dia mengaku, jika muncul petugas Tramtib cepat-cepat mengamankan dagangan. Yanti, biasanya dibantu petugas busway dan teman-teman sopir untuk mengamankan dagangannya ke dalam mikrolet. Yanti mulai berdagang sejak pagi hari. Setiap harinya Yanti meraup untung Rp 30.000 dari rokok dan minuman yang dijualnya di sekitar terminal.
Kondisi serupa terlihat di perempatan Jalan Bulungan dan Mahakam. Keberadaannya telah dikenal banyak orang dengan sebutan "Gultik" dari singkatan Gule Tikungan. Letaknya strategis bisa dipandang dari empat penjuru. Sehingga mudah menemukannya, tepatnya di belakang Blok M Plaza (BP). Perempatannya ditandai bundaran empat penjuru, ke barat mengarah ke Jalan Mahakam, ke selatan mengarah ke Melawai, ke timur mengarah SMAN 6 atau terminal Blok M dan ke utara mengarah ke GOR Jakarta Selatan.
Sebut saja Didi (24), salah satu pedagang dari 10 pedagang gultik di tempat itu. Didi bercerita, pemilihan tempat strategis meski di trotoar itulah membuat gultik bertahan lebih dari 10 tahun.
Omzetnya satu kali shift, Didi memperoleh Rp 300.000 untuk setengah panci kuah gule, bila habis omzetnya mencapai Rp 500.000 per 12 jam. Namun, tambahnya, dirinya juga wajib membayar retribusi kepada Satuan Polisi Pamong Praja sebesar Rp 200.000 per bulan. "Ya harus bayar dagang di sini," tuturnya.
Nasib pedagang kaki lima memang susah. Dianggap merusak keindahan kota, tapi carikan solusi untuk berdagang. Malah dibina untuk selanjutnya dijadikan sapi perah petugas ketertiban kota.
(ninuk cucu suwanti/juliadi prananta/norman meoko
Be a better friend, newshound, and know-it-all with Yahoo! Mobile. Try it now.
