Oleh
Odeodata H Julia
Jayapura-Pemda Papua melalui Wakil Gubernur Papua Alex Hesegem didampingi Kadinkes Papua dr Bagus Sukaswara mengakui bahwa Pemda Papua dalam hal ini Dinas Kesehatannya lambat dalam menangani kasus wabah kolera dan diare di Kabupaten Dogiyai, Papua, yang sudah berlangsung selama tiga bulan dan memakan puluhan korban jiwa.
Dalam jumpa pers Sabtu (9/8) siang di ruang kerjanya, Wagub Hesegem mengatakan kelambanan ini disebabkan akses menuju lokasi wabah sangat sulit dan hanya bisa melalui jalur udara. "Cuaca yang sering berubah membuat penanganannya agak sulit, padahal kami mempunyai cukup obat–obatan. Ada jalur darat, tetapi terputus akibat bencana tanah longsor," katanya.
Ia juga membantah bila dikatakan ada proses pembiaran dan genosida di wilayah ini, karena kejadian ini adalah benar–benar wabah dan menular. Ditambah lagi adat istiadat orang Papua, bila ada keluarganya meninggal, langsung melakukan kontak dengan memeluk si korban, sehingga orang yang semula sehat dan merawat korban bisa ikut terjangkit.
Hingga kini Lembah Kamuu, Kabupaten Dogiyai, Papua, masih diisolasi Dinas kesehatan Papua dan dinyatakan sebagai daerah tertutup, seiiring masih ada wabah kolera dan diare, walaupun Kejadian Luar Biasa (KLB) sudah menurun, namun karena penyakit ini menular maka masih diisolasi.
Namun, tidak tertutup kemungkinan warga yang tewas bisa bertambah.
Data resmi Pemprov Papua menyebutkan kasus KLB ini sudah 89 korban meninggal dengan 574 kasus penyakit dengan penyebaran di dua distrik Moanemani–Dogiyai dan Obano di Paniai di 17 kampung.
Data ini sangat berbeda jauh dengan Sinode KINGMI Papua yang menyebutkan jumlah korban meninggal sudah mencapai angka 200 lebih. Tim medis yang diturunkan ke lokasi wabah terdiri dari Dinkes Nabire, Paniai, dan juga lembaga LSM asing OKSPAM dengan membawa satu dokter tanpa batas waktu antarnegara dan juga dua orang dari MSF dan tim water sanitation.
Dari hasil sampel Sub Diare Dinkes pusat bersama WHO menyebutkan wabah bernama ekanus kolera.. Akibat sanitasi air yang sangat buruk menyebabkan wabah ini cepat menyebar, cara memasak air yang tidak mendidih serta kebiasaan tidak mencuci tangan sebelum masak dan juga cara memasak yang kurang bagus serta sirkulasi udara.
Ketakutan
Akibat wabah ini muncul berbagai isu dan kecurigaan di kalangan masyarakat soal isu genosida untuk membasmi orang Papua. Selain itu juga adanya kecurigaan dari penduduk pribumi kepada warga pendatang yang membuat situasi mudah panas.
Hal inilah yang membuat tim kesehatan kesulitan melakukan sosialisasi kolera kepada masyarakat serta menyebarkan serbuk kaporit di sungai dan kali yang terletak pada di dua distrik ini. Padahal Dinkes Papua telah menyediakan 75 kg kaporit untuk disebar.
"Jangan sampai warga mencurigai kami menyebarkan serbuk racun, padahal yang kami sebarkan ini adalah bubuk kaporit," kata Wagub Hesegem.. n
12 August 2008
Wabah Kolera di Dogiyai: Pemda Papua Akui Lambat, Lembah Kamuu Ditutup
Diunggah oleh
The Institute for Ecosoc Rights
di
Tuesday, August 12, 2008
