SUARA PEMBARUAN DAILY Krisis Memperburuk Status Gizi Masyarakat[JAKARTA] Krisis finansial memperburuk status gizi masyarakat yang dalam jangka panjang akan memengaruhi angka kematian bayi dan ibu. Hal tersebut terungkap dalam diskusi "Dampak Krisis Ekonomi Global Terhadap Pembangunan Kesehatan" yang diselenggarakan Ikatan Ahli Kesehatan Masyarakat (IAKMI) di Jakarta, Jumat (14/11). Pembicara dalam diskusi itu Dr Owais Parray dari UNDP, Dr Halim Alamsyah dari BI dan Prastuti Soewondo PhD dari Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Indonesia. Menurut Ketua Umum IAKMI Adang Bachtiar, krisis tahun 1998 membuktikan bahwa sektor kesehatan terkena dampak lebih rentan dibanding sektor pendidikan. Hal yang sama juga akan terjadi pada krisis saat ini, dan status gizi merupakan sektor yang paling terguncang. Pasalnya, menurut Prastuti, sekitar 80 persen penghasilan keluarga miskin dan hampir miskin untuk makanan. Pemutusan hubungan kerja (PHK) akibat krisis menurunkan penghasilan, dan berdampak pada penurunan daya beli masyarakat. Alhasil, masyarakat cenderung mengkonsumsi makanan bergizi rendah, makanan siap saji, yang pada akhirnya menimbulkan ancaman rawan gizi. Hal ini akan meningkatkan kesakitan dan kematian, juga penderita gangguan jiwa pun meningkat. Selain status gizi, harga pelayanan kesehatan, termasuk obat naik karena bahan bakunya sebagian besar diimpor. [N-4] Last modified: 15/11/08 |
09 December 2008
Krisis Memperburuk Status Gizi Masyarakat
Diunggah oleh
The Institute for Ecosoc Rights
di
Tuesday, December 09, 2008
