-->

Headlines

The Ecosoc News Monitor

09 December 2008

Ribuan Anak Balita NTT Gizi Buruk

Ribuan Anak Balita NTT Gizi Buruk

Istimewa - Dr Louisa A Langi memangku balita gizi buruk di NTT.
Ribuan anak balita di Nusa Tenggara Timur (NTT) masih mengalami kekurangan gizi. Selama Januari-Juni 2008, 23 di antaranya meninggal dunia dan ini menunjukkan persoalan gizi buruk di provinsi miskin itu belum tuntas.
 
Ahli Gizi Masyarakat sekaligus dosen Fakultas Kedokteran Universitas Kristen Indonesia (UKI), Dr Louisa A Langi, dalam penelitiannya di beberapa wilayah di NTT baru-baru ini, menemukan kondisi gizi balita masih sangat memprihatinkan. Di Desa Billa, Kecamatan Oekam, Kabupaten Timor Tengah Selatan (TTS), misalnya, Louisa menemukan, dari 100 anak balita, sekitar 34 di antaranya kurang gizi (34 %), 16 gizi buruk (16 %), 42 gizi baik, dan 8 balita gizi lebih. Data lain menyebutkan, sejak Januari - Juni 2008 di NTT tercatat 23 balita meninggal karena gizi buruk, dan 12.818 balita yang mengalami gizi buruk, serta 72.067 balita gizi kurang. "Kalau saja semuanya diperiksa, maka pasti diperoleh jumlah masalah status gizi balita lebih tinggi," ujarnya.
Dr Louisa mengatakan, akar permasalahan gizi di NTT sangat kompleks. Secara nasional, persoalan gizi buruk karena krisis ekonomi, politik, dan sosial yang berdampak pada pengangguran, kemiskinan dan kekurangan pangan. Sedangkan secara lokal, kurangnya pemberdayaan wanita dan keluarga, kurangnya pemanfaatan sumber daya masyarakat karena pendidikan yang rendah serta pengetahuan dan keterampilan yang kurang, memicu bertambah buruknya asupan gizi untuk balita di daerah itu. "Dampaknya langsung pada anak-anak. Asupan makanan tidak seimbang, daya tahan tubuh rendah sehingga menyebabkan mereka mudah terkena penyakit infeksi, yang akhirnya menjadi gizi buruk dan kurang gizi," tuturnya.
 
Louisa juga menyebutkan, kasus gizi pada balita berkaitan erat dengan pendidikan dan pekerjaan orangtua. Berdasarkan analisis terhadap tingkat pendidikan ayah, ditemukan tamatan SD, yakni sebesar 75 persen. Jenis pekerjaan ayah rata-rata petani (92 persen). [DMF/L-8]

Last modified: 15/11/08