-->

Headlines

The Ecosoc News Monitor

02 December 2008

NTT Siapkan Layanan Satu Atap untuk TKI

15 2008 16:19 WIB
NTT Siapkan Layanan Satu Atap untuk TKI
 
MATARAM--MI: Provinsi Nusa Tenggara Barat (NTB) saat ini sedang mempersiapkan bentuk pelayanan satu atap terhadap calon Tenaga Kerja Indonesia dan ini akan dijadikan pilot projek nasional.

Kepala Badan Nasional Penempatan dan Perlindungan Tenaga Kerja Indonesia (BNP2TKI) Moh. Jumhur Hidayat mengatakan hal itu kepada wartawan seusai bertemu Gubernur NTB KH.M Zainul Majdi, Sabtu (15/11), di Mataram.

Ini merupakan salah satu upaya yang kita lakukan untuk meningkatkan pelayanan terhadap TKI kita," kata Jumhur.

Sementara itu, Gubernur NTB Zainul Majdi menyambut baik rencana dijadikan NTB sebagai pilot projek pelayanan satu atap apalagi selama ini kerap kali TKI kita bersingungan dengan premanisme, "Ke depan kita harapkan tidak ada lagi, karena itu sejak awal kita menimalisir," katanya.

Menurut Zainul, selain pelayanan satu atap bagi calon TKI juga akan dibuka pos pelayanan khusus di Bandara Selaparang terhadap TKI yang pulang dari luar negeri.

Pos yang sama juga rencana akan dipersiapakan di Bandara Internasional Lombok (BIL). "Akan kita siapkan fasilitas secara lebih baik, lebih sungguh-sungguh dan lebih awal," katanya. Pelayanan satu atap antara lain meliputi unsure Dinas Tenaga Kerja, Dinas Kesehatan, Kantor Imigrasi serta serta melibatkan sejumlah instansi atau lembaga terkait lainnya dan itu rencana akan dilaunching pada 17 Desember mendatang bertepatan dengan HUT NTB.

Sebagaimana diketahui salah satu pertimbangan NTB dijadikan pilot projek karena daerah tersebut merupakan salah satu basis TKI di Indonesia.

Jumlah TKI asalah NTB tidak kurang dari 500 ribu dari 4,2 juta penduduk NTB dengan tingkat pergerakan antara yang berangkat dan pulang rata-rata sekitar 300 orang perhari. Karenanya tidak kurang Rp2 miliar perhari devisa yang masuk atas keberadaan TKI NTB di luar negeri.

Secara nasional devisa yang masuk dengan adanya buruh migran mencapai Rp110 triliun dan pada tahun ini diperkirakan melonjak menjadi Rp130 triliun. (YR/OL-02)