Kamis, 08 Januari 2009 11:07 WIB
Penulis : Palce Amalo
KUPANG--MI: Sebanyak 27 balita penderit gizi buruk di Nusa Tenggara Timur (NTT) meninggal selama Januari-Desember 2008.
Data yang diperoleh dari Dinas Kesehatan (Dinkes) NTT, Kamis (8/1), menyebutkan korban terbanyak berasal dari Sumba Tengah yang berjumlah sembilan orang dan Kota Kupang sebanyak tujuh orang.
"Satu orang di antaranya meninggal karena dipulangkan paksa oleh orangtuanya dari tempat perawatan di rumah sakit," tutur Kepala Dinkes NTT Stefanus Bria dalam laporan tertulis perkembangan kejadian luar biasa gizi buruk yang diperoleh Media Indonesia.
Empat pasien lainnya meninggal di Kabupaten Rote Ndao, dua orang masing-masing meninggal di Timor Tengah Selatan, Flores Timur, dan Ngada. Satu orang meninggal di Kabupaten Sumba Barat Daya.
Umumnya pasien gizi buruk meninggal karena mengidap penyakit pneumonia, malaria, infeksi saluran pernapasan atas (ISPA), diare, TBC, dan kelainan sejak lahir seperti malaria cerebral. "Penanganan yang dilakukan adalah dirujuk dan dirawat di rumah sakit," katanya.
Dinkes juga mencatat sampai Januari 2009, masih terdapat 67.648 balita yang mengalami gizi kurang, 12.324 pasien gizi buruk tanpa kelainan, dan 103 orang lainnya menderita gizi buruk dengan kelainan marasmus, kwashiorkor, dan marasmus-kwashiorkor.
Dari jumlah tersebut, hanya dua pasien marasmus dan kwashiorkor, berasal dari Kabupaten Sumba Barat Daya dan Sumba Tengah. Sisanya 88 pasien marasmus, dan 13 pasien kwashiorkor. Para pasien di rawat di rumah sakit berbeda di Kupang dan di ibu kota kabupaten. (PO/OL-01)
Link: http://mediaindonesia.com/index.php?ar_id=NTQ5MzE=
Penulis : Palce Amalo
KUPANG--MI: Sebanyak 27 balita penderit gizi buruk di Nusa Tenggara Timur (NTT) meninggal selama Januari-Desember 2008.
Data yang diperoleh dari Dinas Kesehatan (Dinkes) NTT, Kamis (8/1), menyebutkan korban terbanyak berasal dari Sumba Tengah yang berjumlah sembilan orang dan Kota Kupang sebanyak tujuh orang.
"Satu orang di antaranya meninggal karena dipulangkan paksa oleh orangtuanya dari tempat perawatan di rumah sakit," tutur Kepala Dinkes NTT Stefanus Bria dalam laporan tertulis perkembangan kejadian luar biasa gizi buruk yang diperoleh Media Indonesia.
Empat pasien lainnya meninggal di Kabupaten Rote Ndao, dua orang masing-masing meninggal di Timor Tengah Selatan, Flores Timur, dan Ngada. Satu orang meninggal di Kabupaten Sumba Barat Daya.
Umumnya pasien gizi buruk meninggal karena mengidap penyakit pneumonia, malaria, infeksi saluran pernapasan atas (ISPA), diare, TBC, dan kelainan sejak lahir seperti malaria cerebral. "Penanganan yang dilakukan adalah dirujuk dan dirawat di rumah sakit," katanya.
Dinkes juga mencatat sampai Januari 2009, masih terdapat 67.648 balita yang mengalami gizi kurang, 12.324 pasien gizi buruk tanpa kelainan, dan 103 orang lainnya menderita gizi buruk dengan kelainan marasmus, kwashiorkor, dan marasmus-kwashiorkor.
Dari jumlah tersebut, hanya dua pasien marasmus dan kwashiorkor, berasal dari Kabupaten Sumba Barat Daya dan Sumba Tengah. Sisanya 88 pasien marasmus, dan 13 pasien kwashiorkor. Para pasien di rawat di rumah sakit berbeda di Kupang dan di ibu kota kabupaten. (PO/OL-01)
Link: http://mediaindonesia.com/index.php?ar_id=NTQ5MzE=
