-->

Headlines

The Ecosoc News Monitor

30 July 2009

Pembongkaran Gubuk di TPU Tegal Alur Ricuh

http://www.beritakota.co.id/berita/berita-utama/11067-pembongkaran-gubuk-di-tpu-tegal-alur-ricuh.html


Pembongkaran Gubuk di TPU Tegal Alur Ricuh
Kamis, 30 Juli 2009 00:33
JAKARTA, BK
Pembongkaran bangunan liar di areal Tempat Pemakaman Umum (TPU) Tegal Alur, Kalideres, Jakarta Barat, Rabu (29/7) kemarin berlangsung ricuh. Sekitar 100 pemilik bangunan berusaha menghalang-halangi aksi pembongkaran dengan melempari petugas.

Kendati tidak ada korban luka, petugas Satpol PP Jakarta Barat dibantu Polsek Kalideres mengamankan dua warga yang diduga provokator. Seorang di antaranya kedapatan membawa senjata tajam dan satu lagi membawa barang tumpul seperti balok dan bambu saat menghadang petugas.

Penertiban hunian liar ini sudah dijadwalkan Pemkot Jakbar pekan kedua Juli lalu. Namun tertunda lantaran warga menyatakan akan menghadapi kedatangan petugas. "Kami tinggal di areal ini sah, karena telah membeli lahan. Jadi jangan seenaknya main bongkar," ujar warga sembari mengacungkan-acungkan golok, bambu, dan membentuk barisan un_tuk menghalau petugas.

Perlawanan para pemilik bangunan liar akhirnya lumpuh setelah 800 aparat gabungan Satpol PP, polisi, dan TNI merangsek masuk. "Ada sejumlah warga yang berupaya bertahan dan melakukan perlawanan. Tapi sudah ditangani dengan baik," kata Tri Kurniadi, Asisten Tata Pemerintahan Jakarta Barat.

Sebelum dilakukan pembongkaran, kata Tri, pihak kecamatan dan kelurahan sudah memberikan sosialisasi kepada para penghuni. Namun sampai batas waktu yang ditetapkan, warga tetap bertahan. "Sosialisasi dan peringatan sudah kita lakukan melalui kecamatan dan kelurahan. Penertiban ini sudah sesuai prosedur dan kita tidak memberikan uang kerokhiman apalagi ganti rugi," tuturnya.

Dari 52 hektar lahan TPU Tegal Alur, 15 hektar di antaranya dimanfaatkan penghuni liar dengan mendirikan bangunan semipermanen. Diperkirakan jumlah warga yang tinggal di kawasan tersebut mencapai 1.012 KK.

Camat Kalideres Ruslan menambahkan, pembongkaran terhadap 447 bangunan liar akan dituntaskan. Selama pembongkaran petugas Polsek Kalideres akan melakukan penjagaan. Setelah pembongkaran selesai, selama sepekan bekas bongkaran akan dijaga ketat. "Dalam satu minggu kita akan amankan lokasi bekas pembongkaran. Saya berharap UPT Pemakaman segera menutup akses masuk agar lokasi ini tidak lagi ditempati," ungkap Ruslan.

Para penghuni resah, karena harus mencari lokasi lain untuk tempat tinggal. "Saya pikir tidak jadi dibongkar, karena itu saya masih tinggal di sini. Tidak tahunya hari ini dibongkar," ungkap Asnawi (51).

Asnawi dan ribuan warga lainnya hanya bisa menatap pasrah setelah empat unit alat berat berupa ekskavator mengobrak-abrik rumahnya. "Beginilah nasib orang kecil, mau punya tempat tinggal saja sulit. Saya nggak tahu besok mau tinggal di mana?" ujar Asnawi dengan wajah bingung.

Sementara Juhiro (42), warga lainnya tak bisa berkata-kata. Dia hanya duduk sambil mendekap anaknya yang menangis di antara karung barang-barang bekas. "Nggak tahu, tanya saja sama mereka yang membongkar rumah kami," tuturnya sedih.

Di tempat terpisah, ratusan gubuk serta bangunan liar di sepanjang jalur tengah lintasan KA Stasiun Tanjungpriok, Jakarta Utara juga dibongkar petugas kemarin. Pembongkaran yang melibatkan sekitar 600 personel berlangsung tertib. Para pemilik bangunan pasrah meratapi huniannya rata dengan tanah.

Humas PT KAI Sugeng Priyanto mengatakan, pembongkaran bangunan tersebut sudah lama direncanakan. Surat imbauan perintah bongkar sudah diberikan kepada penghuni dan jatuh tempo pada Selasa (28/7). "Bangunan liar yang berdiri di sisi rel masih banyak. Padahal bangunan itu sangat mengganggu laju kereta api," tukas Sugeng. Penertiban ini merupakan kali kedua. Awal Maret lalu pihaknya sudah membongkar 1.600 bangunan liar.

Ditambahkan Sugeng, jalur tengah lintasan KA akan di perbaiki dan difungsikan kembali setelah lima tahun sesuai program. "Rencana pihak KA akan membenahi rel yang rusak dari stasiun Tanjungpriok menuju Senen, Kemayoran, dan Stasiun Kota. Warga tidak diberikan uang kerokhiman atas pembongkaran tersebut. Namun diberikan tiket gratis pulang ke kampung halaman masing-masing.

Jarwo Jakaria (53) mengaku pasrah saat huniannya dibongkar. Ia mengerti lahan tempat tinggalnya bukan miliknya. "Tidak masalah, namanya juga wong cilik, tapi kalau bisa PT KAI memberikan tempat tinggal untuk kami," pintanya. O oan/dra