-->

Headlines

The Ecosoc News Monitor

02 September 2009

Gelandangan di Sleman Dijatah Rp 10 Ribu per Hari

http://www.tempointeraktif.com/hg/nusa/2009/09/02/brk,20090902-195687,id.html

Gelandangan di Sleman Dijatah Rp 10 Ribu per Hari  

Rabu, 02 September 2009 | 07:21 WIB

TEMPO Interaktif, Sleman - Pemerintah Kabupaten Sleman, melalui Dinas Tenaga Kerja, Sosial, dan Keluarga Berencana, menganggarkan uang makan dan minum bagi anak jalanan, gelandangan, dan pengemis sebesar Rp 10 ribu per orang, per hari, ke dalam APBD Sleman 2009.

Uang makan itu diberikan kepada mereka yang terjaring operasi selama mengikuti masa pembinaan. "Ini bukan untuk membuat mereka manja, melainkan sebagai bentuk penertiban tanpa kekerasan," kata Kriswanto, kepala dinas itu

Menurut Kriswanto, penertiban akan dilakukan satu sampai dua kali seminggu. Setelah melakukan penertiban, dinas melakukan identifikasi, pendataan, dan pemotretan. Mereka dikumpulkan di tempat penampungan sementara, diberi pengarahan dan sosialisasi tentang aturan-aturan kependudukan dan ketertiban umum. "Kita arahkan, mau tinggal di rumah singgah atau pulang," kata Kriswanto.

Di Sleman, ada tiga rumah singgah, yakni Rumah Singgah Girlan Nusantara di Prambanan, Rumah Singgah Diponegoro di Depok, dan Rumah Singgah Pambudi di Gamping. Jika mereka memilih pulang, ada petugas yang mengantarkan. Tapi rata-rata mereka memilih pulang sendiri. Hal itu sering menimbulkan masalah baru, yakni bertambahnya anak jalanan di tempat lain.

Selama Februari-Agustus 2009, dinas terkait mencatat jumlah anak jalanan, pengemis, dan gelandangan yang ditertibkan dan diidentifikasi sebanyak 342 orang. Dari jumlah itu, sebanyak 71 orang berasal dari Sleman dan 271 orang dari luar Sleman. Terbanyak dari Jawa Tengah, sebanyak 161 orang. Menurut Kriswanto, dari 342 orang itu, 63 orang di antaranya wajah lama dan 279 orang wajah baru. "Biar tidak bertambah, jangan berikan bantuan di jalan," kata Kriswanto.

Terpisah, Staf Bagian Pengembangan dan Pengelolaan Jaringan untuk Anak Jalanan, Pengemis, dan Gelandangan DIY, Bagus Wicaksana, menegaskan sampai saat ini tidak ada pendataan yang valid. Pasalnya, pola hidup mereka berpindah-pindah sehingga dimungkinkan seorang anak jalanan bisa hidup di banyak tempat yang berbeda. Agar valid, mereka harus dilibatkan. Kini, pihaknya melibatkan 18 orang relawan basis jaringan yang tersebar di DIY.

PITO AGUSTIN RUDIANA