-->

Headlines

The Ecosoc News Monitor

01 October 2009

Penggusuran Memang Mematikan Rezeki, tapi Bagaimana Lagi?

http://megapolitan.kompas.com/read/xml/2009/09/30/17004011/Penggusuran.Memang.Mematikan.Rezeki..tapi.Bagaimana.Lagi

Penggusuran Memang Mematikan Rezeki, tapi Bagaimana Lagi?
Bagian belakang rumah salah seorang warga Grogol, Andre (36), dibongkar karena dibangun tepat diatas saluran air yang melintas menuju waduk Grogol, Jakarta, Rabu (30/9).

Rabu, 30 September 2009 | 17:00 WIB

KOMPAS.com — Peringatan pemerintah guna melakukan pembongkaran bangunan yang berada tepat di atas saluran air di daerah Grogol, Jakarta Barat, mengakibatkan sejumlah pelaku usaha merugi.

Toni (35), warga Grogol yang mempunyai warung Padang di Jalan Muwardi Raya, ini terpaksa memindahkan warungnya ke Jalan Muwardi I lantaran bangunan yang ditempati akan dibongkar. Sore ini, Toni dibantu dua pegawainya tampak sibuk menyiapkan kepindahan warung mereka.

Toni mengaku bangunan seluas 90 meter yang ditempatinya itu bukan miliknya. Sudah tujuh tahun dirinya mengontrak bangunan yang kemudian dijadikan warung tersebut.

"Ini ngontrak, totalnya sudah tujuh tahun di sini. Tetapi kalau di wilayah sini, saya sudah buka usaha sejak 15 tahun lalu. Dulu warungnya di situ, selang tiga rumah dari sini," kata Toni, Rabu (30/9).

Bangunan yang ditempati Toni juga sudah permanen karena sudah dibangun dengan semen layaknya kios umumnya. Jika disisir agak ke belakang, bangunan tersebut berdiri di atas saluran air yang membentang selebar tiga meter.

Seluruh permukaan saluran air sudah ditutup dengan permukaan cor semen. Jika harus dibongkar tepat di atas saluran air tersebut maka bangunan ini harus dibelah menjadi dua. Hal ini akan memakan biaya perbaikan yang cukup besar yang harus ditanggung Toni jika masih menempati bangunan ini.

"Keberatan, biayanya gede. nanti kalau tetap di sini pasti yang punya rumah juga meminta agar biaya perbaikannya ditanggung," ujarnya kesal.

Padahal, tambah Toni, warungnya juga membutuhkan modal untuk membuka cabang baru dan membayar gaji karyawan. Untuk dua tahun kontrak, Toni harus merogoh kocek sebesar Rp 20 juta. Jumlah ini memang lebih murah dibandingkan tawaran awal pemilik rumah yang meminta uang kontrak sebesar Rp 30 juta untuk tahun tinggal.

Namun, Toni mengaku merugi karena uang sebesar Rp 20 juta itu telah dibayarkan kepada pemilik rumah sejak tahun lalu. Kontrakan tersebut akan habis masanya pada akhir tahun ini. "Jelaslah mengurangi rezeki. Kalau kayak gini kan warungnya tutup. Terus kontrakannya baru habis akhir tahun ini. Rugilah," tandasnya.

Kendati demikian, Toni yang warga Jalan Banjir Kanal, Grogol, ini tetap optimistis warungnya akan tetap ramai. Untuk tahun-tahun mendatang, dirinya berencana ingin mencari lokasi yang strategis dan aman dari ancaman pembongkaran.

"Ya untuk selanjutnya cari tempat lainlah. Kalau di sini-sini (Jalan Muwardi) saja kan nanti juga sepertinya akan habis dibongkar semua. Tapi tempatnya di mana belum tahu," tuturnya. ANI