-->

Headlines

The Ecosoc News Monitor

30 October 2009

Kades Penggelap Raskin Divonis Lima Bulan Penjara

http://regional.kompas.com/read/xml/2009/10/29/1837173/Kades.Penggelap.Raskin.Divonis.Lima.Bulan.Penjara..

Kades Penggelap Raskin Divonis Lima Bulan Penjara
Kamis, 29 Oktober 2009 | 18:37 WIB
Laporan wartawan KOMPAS Alb. Hendriyo Widi Ismanto

BLORA, KOMPAS.com - Majelis hakim Pengadilan Negeri Blora menyatakan Sunarman, Kepala Desa Sambongrejo, Kecamatan Ngawen, Kabupaten Blora, terbukti menggelapkan beras untuk keluarga miskin. Majelis hakim memvonis dia lima bulan penjara .

Vonis itu dibacakan Ketua Majelis Hakim Adi Sutrisno dan hakim anggota Aminuddin dan Dzulkarnain dalam persidangan di Pengadilan Negeri Blora, Kamis (29/10). Persidangan itu dihadiri jaksa penuntut umum Kejaksaan Negeri Blora Yeni Astuti dan tim penasihat hukum Sunarman yang dipimpin Zainudin.

Adi Sutrisno mengatakan Sunarman terbukti melan ggar Pasal 374 Kitab Undang-undang Hukum Pidana (KHUP) juncto Pasal 64 Ayat 1 KUHP tentang penggelapan dalam jabatan. Sebagai kades, Sunarman telah menggelapkan 15,3 ton beras yang seharusnya dibagikan kepada 255 keluarga miskin pada Maret 2008 Maret 2009.

Sunarman menggelapkan beras itu dengan cara menyimpan kelebihan raskin, 1. 275 kilogram per bulan, di gudang milik Ny Sarisih, lantaran balai desa tidak muat lagi. Kelebihan raskin itu berasal dari penambahan jatah raskin dari 2.550 kilogram per bulan menjadi 3.825 kilogram per bulan.

Khawatir beras rusak karena tersimpan terlalu lama, Ny Sarisih melapor ke Sunarman. Kemudian, Sunarman meminta beras itu dijual, kata Adi .  

Menurut Adi, beras bagi keluarga raskin itu belum laku semua tetapi Sunarman keburu dilaporkan polisi. Uang hasil penjualan raskin, Rp 36,720 juta, disita polisi sebagai barang bukti.   

Jika putusan sudah berkekuatan hukum tetap, majelis hakim meminta uang bukti itu dikembalikan kepada penerima raskin melalui perangkat desa atau pejabat sementara kepala desa, kata dia.

Seusai mendengar vonis itu, Sunarman dan jaksa penuntut umum Yeni Astuti menyatakan pikir-pikir. Majelis hakim memberi waktu mereka selama satu minggu. Jika dalam satu minggu tidak ada jawaban, secara otomatis majelis menganggap keputusan itu sudah berkekuatan hukum tetap.

Ratusan warga Desa Sambongrejo, baik yang pro maupun kontra Sunarman, bedhol desa menghadiri sidang itu. Mereka memadati ruang sidang dan pelataran lobi Pengadilan Negeri Blora.

Ketua Badan Perwakilan Desa Sambongrejo Sukandar meminta Bupati Blora Yudhi Sancoyo segera menindaklanjuti putusan majelis hakim itu. Bupati harus mencopot jabatan Sunarman sebagai kepala desa.


Editor: Abd

 



Read More...

3 Strategi Menko Kesra Turunkan Angka Kemiskinan

http://www.detiknews.com/read/2009/10/30/093047/1231532/10/3-strategi-menko-kesra-turunkan-angka-kemiskinan

Jumat, 30/10/2009 09:30 WIB
3 Strategi Menko Kesra Turunkan Angka Kemiskinan
Didi Syafirdi - detikNews

Jakarta - Kemiskinan masih menjadi salah satu persoalan utama di Indonesia. Untuk mengatasinya, Menko Kesra Agung Laksono akan menerapkan 3 langkah utama.

"Banyak masalah kesehatan, tapi intinya kita fokus bagaimana soal penanggulangan terhadap kemiskinan, karena itu yang diharapkan publik agar angka kemiskinan dapat diturunkan," kata Agung sebelum acara National Summit di Hotel Ritz Carlton, Jakarta, Jumat (30/10/2009).

Tiga langkah yang akan diambil Agung itu adalah pemberian bantuan kepada golongan sangat miskin, adanya pembelajaran untuk kerja mandiri untuk masyarakat dan infrastruktur, dan kredit usaha rakyat (KUR).

"Kalau ketiga ini sudah dapat dikooordinasikan dengan mantap dan sudah dijalankan oleh institusi masing-masing, Menko Kesra hanya akan mendorong agar koordinasi dapat berjalan optimal," kata Agung.

Selain itu, lanjut Agung, penciptaan lapangan kerja juga akan menjadi fokus perhatian. Dengan adanya lapangan kerja, kemiskinan akan dapat dikurangi. "Pengangguran berbanding lurus dengan kemiskinan," kata mantan Ketua DPR ini.

Mengenai National Summit sendiri, Agung percaya acara ini penting untuk diselenggarakan meski ada yang beranggapan acara itu sekadar sebagai wahana koordinasi tanpa implementasi. "Koordinasi penting, sebab tanpa koordinasi itu bisa melemahkan implementasi. Itu bisa merugikan, dan kinerja tidak akan optimal," kata Agung.

Dengan koordinasi di National Summit ini, Agung percaya program kerja pemerintah akan jadi lebih baik. Sebab pemerintah melibatkan berbagai kalangan masyarakat serupa Kadin, ormas-ormas, dan lain-lain.

"Ini langkah baik walaupun saya akui memang masih ada kekurangan," tutup Agung.

(sho/iy)



Read More...

Pemerintah Upayakan Pengentasan Kemiskinan

http://suaramerdeka.com/v1/index.php/read/news/2009/10/30/39103

30 Oktober 2009 | 10:26 wib | Nasional

Pemerintah Upayakan Pengentasan Kemiskinan

Jakarta, Cybernews. Menteri Koordinator Kesejahteraan Rakyat (Menko Kesra) Agung Laksono mengatakan salah satu fokus pemerintah ke depan adalah mendorong penciptaan lapangan kerja baru untuk mengurangi jumlah pengangguran di Indonesia.

"Penciptaan lapangan kerja menjadi salah satu fokus karena dengan adanya pembukaan lapangan kerja terjadi pengurangan pengangguran," katanya yang ditemui sebelum sidang Komisi Bidang Kesejahteraan Masyarakat dalam Temu Nasional (National Summit) 2009, di Jakarta, Jumat (30/10).

Dengan berkurangnya jumlah pengangguran maka diharapkan terjadi peningkatan kesejahteraan masyarakat yang berimbas pada pengurangan kemiskinan.

Program yang akan dilaksanakan pemerintah untuk mengentaskan kemiskinan terdiri atas tiga kegiatan, pertama adalah pemberian bantuan sosial terpadu bagi masyarakat miskin. Bantuan sosial terapadu ini seperti bantuan operasional sekolah (BOS), jaminan kesehatan masyarakat (Jamkesmas), dan program keluarga harapan (PKH).

Kegiatan kedua yaitu pemberian bantuan bagi masyarakat yang mulai mandiri melalui Program Nasional Pemberdayaan Masyarakat (PNPM) Mandiri.

Selanjutnya kegiatan ketiga yaitu pemberian bantuan untuk mendukung masyarakat yang mulai mandiri dan mampu membuka usaha sendiri, melalui kredit usaha rakyat (KUR).

"Untuk melaksanakan ketiga pilar ini butuh koordinasi yang mantap, sinkronisasi sehingga kalau ada hambatan misalnya soal KUR bisa kita dorong sehingga alokasi bisa maksimal," katanya.

Menurut Agung, pemerintah menyediakan sekitar Rp100 triliun untuk KUR. Jika pemberian kredit usaha bagi rakyat ini dapat dimaksimalkan penggunaannya, maka akan terbuka lapangan-lapangan kerja baru diikuti dengan penyerapan tenaga kerja.

( Ant / CN12 )



Read More...

Pemerintah Siapkan 3 Progam Atasi Kemiskinan

http://economy.okezone.com/index.php/ReadStory/2009/10/30/20/270697/pemerintah-siapkan-3-progam-atasi-kemiskinan

Pemerintah Siapkan 3 Progam Atasi Kemiskinan

Jum'at, 30 Oktober 2009 - 11:21 wib  
Taufik Hidayat - Okezone
Foto: Koran SI

JAKARTA - Pemerintah menyiapkan tiga program unggulan guna pengentasan kemiskinan. Hal tersebut menjadi agenda utama dalam pembahasan National Summit di hari kedua ini.

"Intinya membicarakan tentang penanggulangan kemiskinan, diharapkan publik menurunkan angka kemiskinan dengan berbagai cara," kata Menko Kesra Agung Laksono, saat ditemui wartawan disela-sela National Summit, Hotel Ritz Carlton, Jakarta, Jumat (30/10/2009).

Tiga program yang dimaksukan yaitu, peningkatkan efektifitas dan keberlanjutan Program Nasional Pemberdayaan Masyarakat (PNPM) Mandiri, mengembangkan bantuan sosial terpadu berbasis keuangan bagi masyarakat miskin, meningkatkan akses usaha mikro dan kecil terhadap sumber daya produktif serta meningkatkan koordinasi Pusat dan Daerah dalam penanggulangan kemiskinan. "Yang ketiga ini harus ada koordinasi yang barus, yang dijalankan oleh institusi," ujarnya.

Dengan penciptaan lapangan pekerjaan, dengan begitu pengurangan kemiskinan berbanding lurus dengan pengaangguran. "Setidaknya, ini akan melibatkan berbagai masyarakat diberbagai lapisan, termasuk Kamar Dagang dan Industri (Kadin). Ini jauh lebih baik dari program pemerintah saja, meskipun ada kekurangan," pungkasnya.  (css)



Read More...

Kembali Menggalakkan Transmigrasi

http://www.poskota.co.id/berita-terkini/2009/10/30/kembali-menggalakkan-transmigrasi

Kembali Menggalakkan Transmigrasi

Oktober 30, 2009 - 13:38
Kategori Berita Terkini, Nasional

JAKARTA (Pos Kota) - Menteri Tenaga Kerja dan Transmigrasi, Muhaimin Iskandar,  mengajak pengangguran dan kaum marjinal  bertransmigrasi. Sebab transmigrasi merupakan   program unggulan pemerintah mengatasi segala macam permasalahan dibidang kependudukan di Indonesia .

"Revilatalisasi program transmigrasi diharapkan menjadi salah satu solusi  dalam mengatasi masalah pengangguran dan  kemiskinan di berbagai daerah di Indonesia , " kata Menakertrans di ruang kerjanya.

Sebagai contoh, lanjut Menakertrans,  di Jakarta  jumlah pengangguran dan kaum marjinal begitu besar, maka oleh sebab itu akan didorong sosialisasi kepada mereka untuk bertransmigrasi sehingga mampu meningkatkan taraf hidup dan kesejahteraannya.

Agar program tersebut dapat berjalan dengan baik, Depnakertrans akan memacu kerja sama dengan Pemda untuk membuka dan memanfaatkan lahan terbuka bagi transmigran baru.

"Sebenarnya setiap tahun tidak kurang dari 75 ribu KK (kepala keluarga)  yang mau transmigrasi, tapi Depnakertrans baru mampu memberangkatkan dan mernyiapkan lahan hanya sampai  pada jumlah 10 ribu kk per tahun, " ujarnya.

Selain mengatasi pengangguran, transmigrasi juga untuk membangun daerah baru, khususnya sektor pertanian. Hal ini ditujukan untuk mendukung ketahanan pangan, ketahanan energi, pertahanan produksi dalam negeri.

Hingga saat ini, daerah-daerah transmigran di Indonesia telah menjadi tanah harapan bagi sedikitnya 2,2 juta keluarga atau sekitar 10 juta orang yang tersebar di 3.325 desa.

Mereka berada dalam 547 kawasan transmigrasi. Dari jumlah itu, 88 desa telah berkembang menjadi ibu kota kabupaten dan 235 desa telah menjadi ibu kota kecamatan. Ini adalah bukti dari keberhasilan program transmigrasi dalam pembangunan bangsa.(tri/B)



Read More...

Infrastruktur Menjadi Salah Satu Permasalahan Temu Nasional

http://beritasore.com/2009/10/30/infrastruktur-menjadi-salah-satu-permasalahan-temu-nasional/

Infrastruktur Menjadi Salah Satu Permasalahan Temu Nasional

Jum, Okt 30, 2009

Ekonomi

Jakarta ( Berita ) :  Menko Perekonomian Hatta Rajasa mengatakan pembangunan infrastruktur menjadi salah satu permasalahan dalam Temu Nasional yang berlangsung di Hotel Ritz Carlton, Jakarta.

Ia mengungkapkan hal tersebut pasca penyelenggaraan hari pertama Temu Nasional 2009, Kamis [29/10] Malam, dan selain masalah infrastruktur ada lima permasalahan lain yang dibahas enam komisi dalam bidang ekonomi

Pertama, dalam pembangunan infrastruktur yang menjadi fondasi utama untuk perbaikan iklim investasi di Indonesia, Hatta mengatakan perlunya landasan hukum atas permasalahan kendala pengadaan tanah dengan merevisi peraturan dan beberapa peraturan perundangan yang ada.

"Kita menyodorkan usulan agar Pengelolaan dana Badan Layanan Umum, tanah dan landcaping sebaiknya berada dalam satu tangan," ujarnya.

Masih terkait dengan infrastruktur untuk menciptakan iklim investasi yang memadai, Hatta mengutarakan, adanya keinginan untuk membentuk pelayanan satu atap dan dukungan pemerintah daerah untuk pengadaan sektor air minum.

"Kita juga akan memunculkan alternatif pembiayaan infrastruktur, dengan pembiayaan khusus untuk infrastruktur berskala besar dan berjangka panjang dengan karakteristik kebutuhan infrastruktur dengan alokasi dana dengan suku bunga yang rendah," ujarnya.

Kemudian Hatta mengatakan, masih diperlukan revitalisasi peran pemerintah dalam pembangunan infrastruktur yaitu dalam mekanisme kenaikan tarif berdasarkan inflasi.

"Nanti juga disiapkan pengaturan pada negosiasi ITP pelistrikan karena saat ini baru 18 persen saja realisasi, dan dibutuhkan respon yang cepat untuk masa ini," ujarnya.

Masih banyaknya peraturan yang tidak sinkron, penyelesaian PP mengenai kelistrikan dan pembangunan infrastruktur yang belum merata di berbagai daerah, juga merupakan kendala masuknya investor.

"Terkait dengan pembangunan infrastruktur, penggunaan lahan di hutan lindung harus dilakukan sinkronisasi dan koordinasi untuk memberikan ruang dengan tidak merusak hutan," ujar Hatta.

Kedua, Hatta menginginkan adanya perbaikan kinerja PLN terkait program energi yang harus lebih diberdayakan dalam program revitalisasi industri dan jasa. "Pemadaman total harus diminimalisir hingga nol persen. Kemudian perbaikan kinerja PGN agar suplai ke industri stabil," ujar Hatta.

Hatta menambahkan, masalah ketenagakerjaan juga memerlukan revisi UU nomer 13 tahun 2003 serta dibutuhkan infrastruktur transportasi dan fasilitas dalam pelabuhan-pelabuhan besar untuk menjawab keluhan dari pengusaha yang juga menghambat iklim investasi.

"Tanjung Priuk, Tanjung Emas, dan Tanjung Perak harus menjadi pelabuhan internasional dengan menambah jumlah jam operasionalisasi dan menambah kemampuan bongkar muat," ujarnya.

Kemudian dibutuhkan peningkatan Bank dan LPII sebagai lembaga pembiayaan ekspor, menyodorkan penggunaan rupiah untuk tarif dalam negeri, harmonisasi tarif bea masuk sebagai instrumen pembiayaan industri utk menarik investasi. "Kita akan mempercepat proses izin usaha dari 60 menjadi 40 hari dengan pelayanan jasa elektronik dan terpadu satu pintu," ujarnya.

Fungsi pelayanan Direktorat Jenderal Pajak juga akan dibatasi dengan menjalankan peran (pelaksana) eksekutif saja dengan keputusan legislatif dan yudikatif diputuskan melalui badan tersendiri dibawah koordinasi menteri keuangan.

"Kepabeanan, Bea cukai, juga akan dibenahi agar tidak terjadi pemeriksaan ganda dan operasionalisasi dengan segera program single window,"ujarnya.

Penataan pasar modern tradisional juga akan dilakukan guna menciptakan persaingan yang sehat untuk melindungi produk manufaktur dan mengadopsi peraturan WTO untuk melindungi produk Indonesia.

Dalam bidang pariwisata yang menjadi kendala adalah lambatnnya kepengurusan visa di bandara yang seharusnya bisa dilakukan diatas pesawat.

Ketiga mengenai masalah ketahanan energi, Hatta menjelaskan, pengusaha dan investor selalu didorong untuk memberikan pasokan energi.

"Usul nyata adalah membuat undang-undang dan permen ESDM tentang batu bara dalam negeri, penyediaan BBM dan menerbitkan kembali Perpres tentang proyek percepatan pembangunan proyek pembangkit listrik 10 ribu megawatt tahap II," ujarnya.

Hatta menambahkan masih terkait dengan masalah investasi dan pengelolaan energi serta adanya tumpang tindih aturan maka akan diterbitkan PP mengenai itu serta agenda untuk mencari energi baru selain minyak dimana pengusaha dan pemerintahan harus turut campur menghemat BBM untuk mengurangi emisi karbon.

"Khusus untuk 'renewable energy', menerbitkan peraturan menkeu tentang pemberian insentif untuk pemanfaatan 'renewable energy' berupa keringanan pajak, melimpahkan perizinan kepada Pemda, menerbitkan Perpres untuk penurunan pajak 5 persen, "ujarnya.

Keempat mengenai pengembangan UMKM, Hatta merekemondasikan adanya Lembaga Keuangan dan akan mempermudah prosedur pemberian KUR dengan memberikan penurunan tingkat bunga KUR.

"Kita mempunyai target pencapaian KUR dan  mempermudah persyaratan KUR. Kemudian pemerintah telah menyiapkan dana Rp20 triliun untuk sektor UMKM serta pemberdayaan usaha mikro pedesaan terutama yang dikelola kaum perempuan," ujarnya.

Kelima, pemerintah juga mengharapkan ada cetak biru untuk menyelesaikan kerangka regulasi logistik terkait dengan pembangunan transportasi, di antaranya menyusun jaringan transportasi laut yang terintegrasi untuk wilayah Kalimantan, Sulawesi, Maluku, dan Papua, serta meningkatkan pelayanan angkutan umum massal di kota-kota besar.

Dan terakhir dalam bidang ketahanan pangan adalah bagaimana penelaahan kembali peraturan terkait tata ruang dan ketersediaan lahan termasuk hutan di bidang pangan.

"Nantinya akan ada pembentukan lembaga pembiayaan yang didedikasikan untuk melayani pangan dan pertanian, pembentukan sea and coast guard di Indonesia, dan peraturan untuk mempromosikan investasi peran swasta di bidang pangan," ujar Hatta.

Pada hari kedua penyelenggaraan Temu Nasional, Jumat (30/10),  Sidang komisi akan membahas bidang Kesejahteraan Rakyat dengan agenda Pengentasan Kemiskinan, Penciptaan kesempatan Kerja, Perluasan Pelayanan Kesehatan, Reformasi Pendidikan, Mitigasi Perubahan Iklim dan Agama dan Pembangunan.

Sidang komisi juga akan membahas bidang Politik Hukum dan Keamanan dengan agenda Efektivitas Pembangunan Daerah, Pelayanan Publik dan Reformasi Birokrasi, Pencegahan dan Pemberantasan Korupsi, Reformasi Hukum dan Perlindungan HAM serta Pencegahan dan pemberantasan Terorisme.

Hasil dari Temu Nasional ini akan diserahkan kepada masing-masing  Menteri Koordinator untuk dilaporkan kepada Wakil Presiden Boediono pada hari Sabtu (01/10). ( ant )



Read More...

Menkokesra: Libatkan Masyarakat Susun Program Pemerintah

http://beritasore.com/2009/10/30/menkokesra-libatkan-masyarakat-susun-program-pemerintah/

Menkokesra: Libatkan Masyarakat Susun Program Pemerintah

Jum, Okt 30, 2009

Nasional

Jakarta ( Berita ) :  Menteri Koordinator Kesejahteraan Rakyat (Menko Kesra) Agung Laksono menegaskan dalam Temu Nasional (National Summit) 2009, masyarakat dilibatkan untuk memberikan masukan bagi penyusunan program pemerintah ke depan.

"Ini jauh lebih baik daripada hanya menyusun program pemerintah sendiri (tanpa melibatkan masyarakat). Bahwa masih ada kekurangan ya mungkin, tapi ini sudah 'on the right track'(pada jalur yang benar, red) ," katanya, di Jakarta, Jumat [30/10] , disela-sela National Summit 2009.

Suara masyarakat ini diwakili oleh organisasi dan kepala daerah yang diundang dalam sidang temu nasional yang diselenggarakan selama dua hari Kamis (29/10) dan Jumat (30/10).

Hasil sidang tiga komisi yaitu bidang ekonomi, kesejahteraan rakyat, dan politik, hukum serta keamanan ini akan diserahkan pada menteri terkait untuk kemudian diserahkan pada Wakil Presiden Boediono.

Agung menegaskan Temu Nasional ini bukan hanya sekedar koordinasi. Hasil koordinasi ini nantinya menjadi acuan implementasi untuk mencapai tujuan nasional. "Koordinasi juga penting karena bisa melemahkan implementasi. Implementasi tanpa koordinasi bisa tidak optimal," katanya.

Pada hari kedua Temu Nasional 2009 ini akan dilaksanakan dua sidang yakni bidang kesejahteraan rakyat dan politik, hukum, dan keamanan.

Sidang komisi bidang kesejahteraan rakyat meliputi sidang komisi untuk pengentasan kemiskinan, penciptaan kesempatan kerja, perluasan pelayanan kesehatan, reformasi pendidikan, mitigasi perubahan iklim, agama dan pembangunan.

Sidang dengan agenda pengentasan kemiskinan ini dijadwalkan pada Jumat (30/8) mulai pukul 09.00 WIB dengan isu pokok meningkatkan efektivitas dan keberlanjutan PNPM Mandiri, pengembangan bantuan sosial terpadu, meningkatkan akses usaha mikro dan kecil terhadap sumber daya produktif, dan meningkatkan koordinasi pemerintah pusat dan daerah dalam penanggulangan kemiskinan.

Pelaksanaan Temu Nasional ini mendapat tanggapan beragam dari sejumlah kalangan. Ketua PP Muhammadiyah Din Syamsuddin menilai National Summit 2009 kurang berwajah kerakyatan karena tidak melibatkan unsur-unsur masyarakat madani sebagai pemangku kepentingan bangsa.

Sedangkan menurut peneliti Pusat Studi Ekonomi dan Kebijakan Publik Universitas Gadjah Mada Mahmudi mengharapkan agar National Summit tidak hanya sekedar acara simbolis saja. ( ant )



Read More...

Pemerintah Targetkan Angka Kemiskinan Turun 6 Persen

http://bisniskeuangan.kompas.com/read/xml/2009/10/30/16154280/Pemerintah.Targetkan.Angka.Kemiskinan.Turun.6.Persen

Dalam 5 Tahun
Pemerintah Targetkan Angka Kemiskinan Turun 6 Persen
Warga miskin perlu perhatian pemerintah

Jumat, 30 Oktober 2009 | 16:15 WIB

JAKARTA, KOMPAS.com - Pemerintah bertekad menurunkan angka kemiskinan sekitar 6 persen dalam lima tahun mendatang. Demikian disampaikan Menkokesra Agung Laksono, disela-sela National Summit, Jakarta, Jumat (20/10).

Menurutnya, angka kemiskinan saat ini mencai 14,1 persen. Pada tahun 2014 mendatang, pemerintah menargetkan dapat menurunkan angka kemiskinan sekitar 8-10 persen. "Kami melakukan pembicaraan cukup mendalam. Tahun 2014 angka kemiskinan targetnya 8 -10 persen. Jadi turun sekitar 6 persen," ujarnya.

Untuk mencapai target tersebut, pemerintah akan menggenjot penyaluran Kredit usaha rakyat (KUR) hingga 15 juta debitur. Per tahunnya, pemerintah menargetkan dapat mengucurkan sekitar Rp 20 triliun untuk KUR. "Kami upayakan untuk mengakomodasi 15 juta orang,"tuturnya.

Dikatakan Agung, hal ini akan mendorong pertumbuhan Usaha mikro kecil menengah (UMKM) dan memperluas lapangan pekerjaan.


ANI

Editor: Edj

Read More...

29 October 2009

Pesisir Cirebon Jadi Kantong Kemiskinan

http://cetak.kompas.com/read/xml/2009/10/29/11241555/Pesisir.Cirebon.Jadi.Kantong.Kemiskinan.

Pesisir Cirebon Jadi Kantong Kemiskinan
Pembangunan Infrastruktur dan Permodalan Bisa Jadi Solusi

Kamis, 29 Oktober 2009 | 11:24 WIB

Cirebon, Kompas - Kantong kemiskinan di Kabupaten Cirebon masih terpusat di daerah pertanian di hilir dan pesisir. Sejumlah faktor pemicu kemiskinan di daerah itu ialah kurang memadainya infrastruktur pertanian, sumber daya manusia dan alam yang rendah, kerusakan laut dan pesisir, dan keterbatasan lapangan kerja.

Badan Pusat Statistik Cirebon menyebutkan, hingga tahun 2008 masih ada 203.025 keluarga yang terdata miskin dan menerima bantuan tunai langsung. Padahal, jumlah jiwa di Kabupaten Cirebon mencapai 2.449.529 orang. Sebagian dari mereka menyebar di kecamatan di daerah hilir dan pesisir.

Peneliti dari Fahmina Institute, Obeng Nur Rosyid, Rabu (28/10), mengakui, persoalan kemiskinan tidak bisa lepas dari kebijakan pemerintah. Dalam hal pertanian, misalnya, jika pemerintah mampu membuat sistem irigasi memadai, persoalan kekeringan tidak akan terjadi.

Selama ini daerah hilir dan pesisir mempunyai sumber daya alam yang kurang mendukung, di antaranya persawahan tadah hujan dan menjadi langganan banjir pada musim hujan serta kekeringan pada musim kemarau. Jika ada sistem irigasi dan infrastruktur pertanian memadai, petani bisa aman menanam padi dan taraf hidup mereka akan meningkat.

Persoalan kedua, sejumlah warga hanya mempunyai kemampuan bertani dan belum mempunyai keterampilan dan pendidikan tinggi sehingga peluang bekerja dan berwirausaha untuk meningkatkan taraf hidup masih kecil.

Ketiadaan modal juga menjadi persoalan. Selama ini petani kecil sering kali memilih meminjam modal ke tengkulak karena mudah, cepat, dan tidak membutuhkan agunan. Persoalan yang sama menjerat nelayan di pantura. Akhirnya, kemiskinan pun tak bisa lepas dari mereka.

Menurut Obeng, petani dan nelayan tidak perlu meminjam tengkulak jika modal usaha yang ditawarkan pemerintah benar-benar tepat sasaran. Pemerintah tidak perlu khawatir, modal akan macet jika ada pengawasan dan bimbingan ketat kepada masyarakat.

Infrastruktur

Bupati Cirebon Dedi Supardi, ketika ditemui akhir pekan lalu, mengatakan, pertanian menjadi sektor penting di wilayahnya, tetapi tidak mudah membangun infrastruktur pertanian sebab butuh biaya besar.

Pembangunan infrastruktur pertanian tidak cukup hanya memperbaiki irigasi, tetapi juga membangun embung atau situ di berbagai daerah yang tak terjangkau sistem irigasi teknis. Tahun ini Pemerintah Kabupaten Cirebon telah menganggarkan pembangunan embung di daerah hilir bagian barat dan timur. Nilai pembangunan, ujarnya, tidak kurang dari Rp 3 miliar. "Meski embung tergolong kecil, biaya pembangunan tinggi," katanya. Selain perbaikan infrastruktur, permodalan bagi usaha mikro, kecil, dan menengah pun digenjot. Dalam APBD 2009 Pemkab menyalurkan dana Rp 3 miliar tanpa agunan bagi pengusaha kecil dan Rp 1,5 miliar bagi koperasi di Pos Dinas Koperasi dan UKM. Dedi mengakui, jumlah itu tergolong kecil mengingat jumlah UKM di Cirebon mencapai angka ribuan, tetapi diharapkan tetap bisa membantu pengusaha kecil potensial.

Ano Sutrisno, Kepala Badan Koordinasi Pemerintahan dan Pembangunan Wilayah Cirebon, mengakui, persoalan kemiskinan memang masih terkonsentrasi di pesisir dan hilir. Namun, adanya percepatan ekonomi yang didukung pembangunan infrastruktur berupa tiga jalur tol di Cirebon diharapkan turut mengentaskan warga dari kemiskinan. (NIT)



Read More...

Tak Dapat BLT, Warga Demo

http://berita.liputan6.com/daerah/200910/247375/Tak.Dapat.BLT.Warga.Demo

Tak Dapat BLT, Warga Demo  

Tim Liputan 6 SCTV
14/10/2009 07:01
Liputan6.com, Ngawi: Puluhan ibu rumah tangga, warga Desa Klitik, Geneng, Ngawi, Jawa Timur, Selasa (13/10), mendatangi kantor desa setempat. Mereka memprotes perangkat desa yang dianggap teledor saat melakukan pendataan warga penerima bantuan langsung tunai (BLT). Adu mulut antara ibu-ibu dengan perangkat desa pun tak terhindarkan.

Ibu-ibu juga menuduh perangkat desa telah salah sasaran dalam melakukan pendataan dana bantuan pendidikan. Seharusnya dana tersebut diterima oleh keluarga miskin, tapi ternyata dibagikan kepada keluarga mampu. Perangkat desa setempat mengakui adanya kekurangan dalam pendataan warga miskin. Mereka berjanji akan memperbarui data ke Badan Statistik. Simak selengkapnya di video.(IAN)



Read More...

Jaksa Desak Kasus Korupsi Bantuan Langsung Tunai Disidangkan

http://www.tempointeraktif.com/hg/kriminal/2009/10/15/brk,20091015-202765,id.html

Jaksa Desak Kasus Korupsi Bantuan Langsung Tunai Disidangkan

Kamis, 15 Oktober 2009 | 12:04 WIB

TEMPO Interaktif, Bekasi - Kejaksaan Negeri Cikarang meminta perkara korupsi dana bantuan langsung tunai (BLT) senilai Rp 210 juta dengan tersangka berinisial UB segera disidangkan.

Berkas perkara kasus korupsi tersebut telah dilimpahkan ke Pengadilan Negeri Bekasi, sejak Selasa lalu. "Kami minta hakim segera menggelar sidang perkara itu," kata Hellena Octavianne, juru bicara Kejaksaan Negeri Cikarang kepada Tempo, Kamis (15/10).

UB merupakan Kepala Desa Karangharja, Kecamatan Pemayuran, Kabupaten Bekasi, Jawa Barat. Dia ditahan sejak 1 Juni lalu, disangka memangkas uang BLT milik 766 keluarga miskin, pada periode September- Desember 2008.

Setiap keluarga semestinya menerima bantuan Rp 400 ribu, tetapi dipotong Rp 275 ribu atau hanya diberikan Rp 125 ribu kepada masing-masing keluarga miskin. Alasan pemotongan, untuk honor pegawai pegurus BLT.

Menurut Hellena, jaksa penyidik juga mengirim surat ke Pengadilan Negeri Bekasi, supaya perkara tersebut tidak berlarut-larut. "Harapan kami tersangka segera dijatuhi sanksi hukum," kata dia.

HAMLUDDIN

Read More...

Program BLT Dilanjutkan?

http://bisniskeuangan.kompas.com/read/xml/2009/10/27/14080866/Program.BLT.Dilanjutkan

Program BLT Dilanjutkan?
Ratusan warga mengantre untuk mendapatkan pembagian bantuan langsung tunai (BLT) di Kantor Kecamatan Bubutan, Surabaya.
Selasa, 27 Oktober 2009 | 14:08 WIB
Laporan wartawan KOMPAS.COM Wahyu Satriani Ari Wulan

JAKARTA, KOMPAS.com - Pemerintah kembali mengkaji untuk melanjutkan pengucuran program Bantuan Langsung Tunai (BLT) pada tahun 2010 mendatang. Menteri Koordinator Kesejahteraan Rakyat Agung Laksono mengatakan program BLT nantinya akan diberikan sesuai dengan kebutuhan dan melihat kondisi perekonomian mendatang.

"BLT nanti sesuai kebutuhan. Gagasannya tidak dihentikan dan bukan di-stop, tetapi pelaksanaannya juga melihat pada perkembangan," ujar Agung, seusai rapat koordinasi dengan menteri bidang Kesra, di Kantornya, Jakarta, Selasa (27/10).

Menurutnya, program BLT nantinya juga akan dibahas secara terbuka dalam sidang National Summit pada akhir Oktober 2009 mendatang. Nantinya, pihaknya akan menampung semua masukan dan usulan baik dari pemerintah daerah, masyarakat, dan stakeholder. "Nanti dibicarakan secara terbuka," cetusnya.

Bila nantinya disetujui, lanjut Agung, maka program BLT akan masuk dalam salah satu prioritas program kerja pemerintah. "Kalau itu (BLT) dilaksanakan, masuk dalam sektor pengentasan kemiskinan di cluster satu, jadi sifatnya pemberian," jelasnya.

Dia menjelaskan, sejumlah program yang akan dilaksanakan pada 5 tahun mendatang, antara lain mengembangkan bantuan sosial terpadu yang berbasis keluarga bagi masyarakat miskin, juga melanjutkan Program Nasional Pemberdayaan Masyarakat (PNPM).

Selain itu, program bantuan beras untuk keluarga miskin (raskin) atau yang kini telah berubah nama menjadi beras bersubsidi (rasdi), program keluarga harapan (PKH), Jaminan Kesehatan Masyarakat (Jamkesmas), serta Bantuan Operasional Sekolah (BOS). "Raskin dari Bulog sudah siap. BOS juga telah siap," ujarnya.

Sebelumnya, sempat muncul wacana pemerintah akan menghentikan program BLT pada tahun 2010 mendatang. Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati yang juga sebagai mantan Pelaksana jabatan Menko Perekonomian, beberapa waktu lalu mengatakan program BLT akan diganti dengan program Keluarga Harapan (PKH) dengan budget Rp 1,1 triliun.


KOMPAS.COM Wahyu Satriani Ari Wulan

Editor: Glo

Read More...

Menko Kesra: BLT Masih Bisa Dilanjutkan

http://economy.okezone.com/index.php/ReadStory/2009/10/27/20/269632/menko-kesra-blt-masih-bisa-dilanjutkan

Menko Kesra: BLT Masih Bisa Dilanjutkan

Selasa, 27 Oktober 2009 - 13:58 wib
Taufik Hidayat - Okezone
Foto: Koran SI

JAKARTA -  Pemerintah berencana melanjutkan konsep program bantuan langsung tunai (BLT) pada pemerintahan SBY-Boediono 2009-2014.  Namun pelaksanaannya masih melihat perkembangan.

"Pelaksanaannya melihat pada perkembangan, bukan berarti dikatakan distop," ungkap Menko Kesejahteraan Rakyat (Kesra) Agung Laksono, usai rapat koordinasi pertama tingkat menteri National Summit, di kantor Menko Kesra, Jalan Medan Merdeka Barat, Jakarta, Selasa (27/10/2009).

Pemerintah akan melanjutkan program keluarga harapan, jaminan kesejahteraan masyarakat, Bantuan Operasional Sekolah (BOS), dan program nasional pemberdayaan masyarakat mandiri. "Untuk raskin, Perum Bulog sudah siap. Untuk persoalan BLT juga akan dibahas melalui National Summit 29 Oktober mendatang," katanya.

Ditambahkannya, akan didalami pula masalah-masalah terkait bidang kemiskinan, penciptaan lapangan pekerjaan, kesehatan, pendidikan, perubahan iklim dan keagamaan.

"Dalam National Summit akan dilibatkan LSM, ormas, dan lembaga terkait. Rencananya akan membahas tentang out put dalam pemberdayaan masyarakat, sehingga program ini akan lebih sempurna," imbuhnya. (css)



Read More...

Program BLT Dilanjutkan?

http://bisniskeuangan.kompas.com/read/xml/2009/10/27/14080866/Program.BLT.Dilanjutkan

Program BLT Dilanjutkan?
Ratusan warga mengantre untuk mendapatkan pembagian bantuan langsung tunai (BLT) di Kantor Kecamatan Bubutan, Surabaya.
Selasa, 27 Oktober 2009 | 14:08 WIB
Laporan wartawan KOMPAS.COM Wahyu Satriani Ari Wulan

JAKARTA, KOMPAS.com - Pemerintah kembali mengkaji untuk melanjutkan pengucuran program Bantuan Langsung Tunai (BLT) pada tahun 2010 mendatang. Menteri Koordinator Kesejahteraan Rakyat Agung Laksono mengatakan program BLT nantinya akan diberikan sesuai dengan kebutuhan dan melihat kondisi perekonomian mendatang.

"BLT nanti sesuai kebutuhan. Gagasannya tidak dihentikan dan bukan di-stop, tetapi pelaksanaannya juga melihat pada perkembangan," ujar Agung, seusai rapat koordinasi dengan menteri bidang Kesra, di Kantornya, Jakarta, Selasa (27/10).

Menurutnya, program BLT nantinya juga akan dibahas secara terbuka dalam sidang National Summit pada akhir Oktober 2009 mendatang. Nantinya, pihaknya akan menampung semua masukan dan usulan baik dari pemerintah daerah, masyarakat, dan stakeholder. "Nanti dibicarakan secara terbuka," cetusnya.

Bila nantinya disetujui, lanjut Agung, maka program BLT akan masuk dalam salah satu prioritas program kerja pemerintah. "Kalau itu (BLT) dilaksanakan, masuk dalam sektor pengentasan kemiskinan di cluster satu, jadi sifatnya pemberian," jelasnya.

Dia menjelaskan, sejumlah program yang akan dilaksanakan pada 5 tahun mendatang, antara lain mengembangkan bantuan sosial terpadu yang berbasis keluarga bagi masyarakat miskin, juga melanjutkan Program Nasional Pemberdayaan Masyarakat (PNPM).

Selain itu, program bantuan beras untuk keluarga miskin (raskin) atau yang kini telah berubah nama menjadi beras bersubsidi (rasdi), program keluarga harapan (PKH), Jaminan Kesehatan Masyarakat (Jamkesmas), serta Bantuan Operasional Sekolah (BOS). "Raskin dari Bulog sudah siap. BOS juga telah siap," ujarnya.

Sebelumnya, sempat muncul wacana pemerintah akan menghentikan program BLT pada tahun 2010 mendatang. Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati yang juga sebagai mantan Pelaksana jabatan Menko Perekonomian, beberapa waktu lalu mengatakan program BLT akan diganti dengan program Keluarga Harapan (PKH) dengan budget Rp 1,1 triliun.


KOMPAS.COM Wahyu Satriani Ari Wulan

Editor: Glo

Read More...

Nasib BLT Dibahas di National Summit

http://www.detiknews.com/read/2009/10/27/143922/1229447/10/nasib-blt-dibahas-di-national-summit

Selasa, 27/10/2009 14:39 WIB
Nasib BLT Dibahas di National Summit
Ramadhian Fadillah - detikNews


"Nanti tentunya dibicarakan terbuka dalam sidang di National Summit," ujar Menko Kesra Agung Laksono

Hal itu dikatakan Agung, usai rapat koordinasi Kementrian Bidang Kesejahteraan Rakyat dengan agenda persiapan National Summit di Kantornya, Jl Medan Merdeka Barat, Jakarta Pusat, Selasa (27/10/2009).

Program BLT tidak lagi dimasukkan dalam cluster I, atau program pemberian cuma-cuma yang diberikan pemerintah pada rakyat. Menurut Agung, pemerintah lebih memfokuskan pada 4 program lain yakni Program Keluarga Harapan (PKH), Jaminan Kesehatan Masyarakat (Jamkesmas), Bantuan Operasional Sekolah (BOS), dan Raskin (Beras untuk Masyarakat Miskin).

"Itu bulog telah siap," tambah mantan Ketua DPR ini.

Agung menjelaskan bisa saja program BLT dilanjutkan kembali, tetapi
disesuaikan dengan kondisi masyarakat. Sehingga keputusan ini belum final.

"Jadi bukan distop tapi pelaksanaannya diatur sesuai kebutuhan," demikian Agung.

(rdf/nik)

Read More...

Menko Kesra Lanjutkan BLT

http://www.mediaindonesia.com/index.php/read/2009/10/27/102485/4/2/Menko_Kesra_Lanjutkan_BLT

Menko Kesra Lanjutkan BLT
Selasa, 27 Oktober 2009 18:18 WIB     
Penulis : Dani Prasetya


Menko_Kesra_Lanjutkan_BLT

MI/Denny Susanto

JAKARTA--MI: Program Bantuan Langsung Tunai (BLT) tetap dilanjutkan. Rencananya, program bantuan yang diberikan pada masyarakat miskin setiap tiga bulan sekali dengan besaran senilai Rp100 ribu itu akan tetap dimasukkan ke dalam rencana kluster 1.

"BLT menjadi bahan usulan kelanjutan kluster 1 sebelumnya. Soal pelaksanaannya, lihat perkembangan. Kalau dilaksanakan, akan kami taruh di kluster 1," ungkap Menko Kesejahteraan Rakyat (Kesra) Agung Laksono, usai rapat koordinasi di Gadung Menko Kesra, Jakarta, Selasa (27/10).

Nantinya, rencana kelanjutan program BLT juga akan diajukan sebagai bahan pembahasan di gelaran National Summit yang akan berlangsung 29-30 Oktober 2009. "Kami terbuka pada pilihan. Pelaksanaannya tergantung dari perkembangannya nanti itu," ujar dia.

Selain BLT, nantinya Jaminan Kesehatan Masyarakat (Jamkesmas), beras miskin (raskin), Program Keluarga Harapan (PKH), dan Bantuan Operasional Sekolah (BOS) akan tetap dijalankan. "Isu kemiskinan yang akan kami bawa (ke National Summit) itu mengembangkan bantuan sosial terpadu berbasis keluarga. Nantinya, kami meminta tanggapan dari publik," ucapnya.

Dia juga tetap menjalankan Program Nasional Pemberdayaan Masyarakat (PNPM) Mandiri yang telah termanfaatkan senilai Rp16 triliun. Angka tersebut diberikan sebagai permodalan untuk 2,5 juta nasabah dengan nilai Rp7-7,5 juta per orang. "Itu sudah berhasil termanfaatkan. Sudah dimanfaatkan untuk usaha. Bantuan itu juga bukan charity," tutur Agung.

Selain program tersebut, dia akan mengusulkan agar perbankan daerah diizinkan untuk dapat menyalurkan Kredit Usaha Rakyat (KUR) yang saat ini masih dijalankan oleh enam bank nasional (BRI, Bank Mandiri, BNI, BTN, Bank Bukopin, Bank Mandiri Syariah). "Bank daerah ngebet ingin salurkan KUR juga," ujar dia. (*/OL-04)

Read More...

Program Keluarga Harapan (PKH) Gantikan BLT

http://www.beritakota.co.id/berita/ekonomi-a-bisnis/18207-program-keluarga-harapan-pkh-gantikan-blt.html

Program Keluarga Harapan (PKH) Gantikan BLT
Kamis, 29 Oktober 2009 03:01
SEBELUM berakhirnya program Bantuan Langsung Tunai (BLT) Februari lalu, Pemerintah telah mempersiapkan penggantinya yang telah diuji coba sejak 2007 hingga 2009, yakni Program Keluarga Harapan (PKH). Kendati mirip dengan BLT, namun PKH memiliki tujuan pada penanggulangan kemiskinan untuk meningkatkan kesejahteraan rumah tangga sangat miskin (RTSM) seluruh Indonesia melalui bantuan tunai bersyarat.

Kepala Sub Bidang (Kasubdit) Media Tradisional Direktorat Jenderal Sarana Komunikasi Dan Informasi (Ditjen SKDI) Departemen Komunikasi dan Informasi (Depkominfo) Endang Kartiwak mengatakan, PKH ditujukan bagi RTSM dengan ketentuan Ibu hamil/menyusui atau memiliki anak balita, anak usia SD, anak usia SMP, atau anak putus sekolah di bawah 15 tahun.

"Saat ini sebanyak 13 provinsi, 70 kabupaten/kota, dan 779 kecamatan yang sudah ter-cover PKH. Propinsi penerima PKH di antaranya NAD, Sumut, Sumbar, DKI Jakarta, Banten, Jabar, DIY, Jatim, Sulut, Gorontalo, Kalsel, NTT, dan NTB," urai Endang di sela-sela kunjungan ke penerima PKH di Situbondo, Jawa Timur, Selasa (27/10).

Menurut Endang, besaran dana yang akan diterima PKH masing-masing berbeda, tergantung persyaratan dalam suatu keluarga. Berkisar mulai dari Rp600 ribu hingga Rp2,2 juta/keluarga/tahun. Kriteria yang akan diperoleh peserta PKH di antaranya bantuan tetap Rp200 ribu, bantuan pendidikan SD/MI Rp400 ribu, pendidikan SMP/MTS Rp800 ribu, dan bantuan ibu hamil/nifas, bayi, atau balita Rp800 ribu.

"Jadi, masing-masing peserta PKH bisa berbeda menerima dana bantuannya. Misalnya saja tak ada balita, berarti dana untuk balita tak diberikan, dan lain sebagainya," kata Endang. Bantuan PKH, tambahnya akan dibagikan tiga tahapan dalam setahun yang pengambilannya di kantor pos terdekat sebagai agen pembayaran yang ditunjuk Pemerintah.

Di Situbondo sebagai salah satu kabupaten peserta PKH dari tahun ke tahun, menurut Wakil Bupati Suroso, jumlahnya makin menurun kendati jumlah kecamatannya justru bertambah. "Pada awal pelaksanaan, kami mendata terdapat sembilan kecamatan penerima PKH, namun saat ini bertambah menjadi 13 Kecamatan dari total 19 Kecamatan di Situbondo dengan jumlah penerima 5.576 KK," terang Suroso. O omy 
 

Read More...

SBY: Usut Kematian TKW!

http://www.beritakota.co.id/berita/berita-utama/18243-sby-usut-kematian-tkw.html

SBY: Usut Kematian TKW!
Kamis, 29 Oktober 2009 01:14

BK/AGUNG N
DEMO: Kantor Kedubes Malaysia di Jl HR Rasuna Said, Kuningan, Jakarta Selatan didemo puluhan buruh yang tergabung Jaringan Kerja Layak Buruh Migran, Rabu (28/10). Mereka menuntut pemerintah Malaysia untuk bertanggungjawab atas kematian TKW Munti binti Bani yang tewas disiksa majikannya di Malaysia.

"Kita berharap ada keadilan yang ditegakkan. Kita sangat prihatin dengan kejadian itu."
DINO PATTI DJALAL
Jubir Kepresidenan

Presiden minta agar kasus kematian TKW di Malaysia diusut secara tuntas, sesuai hukum yang berlaku. Sementara itu, Kedubes Malaysia dilempari tomat oleh para aktivis.

KEMATIAN Munti binti Bani (36), tenaga kerja wanita (TKW) yang meninggal di Malaysia akibat disiksa majikannya, membetot perhatian Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY). Orang nomor satu di Indonesia ini meminta agar kasus kematian Munti diusut dan diselesaikan dengan adil sesuai hukum yang berlaku.

Permintaan SBY atas kasus kematian Munti itu disampaikan lewat juru bicara kepresidenan Dino Patti Djalal di kantor Presiden, Jakarta, Rabu (28/10) sore. "Presiden Susilo Bambang Yudhoyono menilai, kasus penganiayaan hingga menyebabkan meninggalnya Munti di Malaysia harus diselesaikan dengan adil sesuai hukum yang berlaku. Yang penting, kita berharap ada keadilan yang ditegakkan. Kita sangat prihatin dengan kejadian itu," kata Dino.

Ketika ditanya apakah dalam waktu dekat Presiden akan memanggil Duta Besar Malaysia untuk Indonesia, Dino mengatakan, hal ini akan dibahas saat Presiden berkunjung ke Malaysia pada November mendatang. "Tentu masalah TKI akan menjadi salah satu yang selalu dibahas antara kedua pemerintah," kata Dino.

Kasus kematian Munti juga membuat Migrant Care, gundah. Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) yang selama ini bergerak di bidang pembelaan tenaga kerja Indonesia (TKI) itu pada Rabu kemarin menggelar aksi unjuk rasa di depan kantor Kedutaan Besar (Kedubes) Malaysia di Jl HR Rasuna Said, Kuningan, Jakarta Selatan.

Di depan kantor Kedubes Malaysia itu, sedikitnya 50 aktivis Migrant Care menggelar aksi teatrikal yang menggambarkan penderitaan Munti binti Bani TKW asal Jember, Jawa Timur yang tewas di tangan sang majikan di Malaysia.

Seorang aktivis perempuan berperan sebagai Munti. Dia disiksa serta diperlakukan kasar dua orang majikannya. Wajahnya lebam dipukul, kaki dan tangannya diikat. "Pukul saja pukul," teriak seseorang aktivis yang berperan sebagai sang majikan. Munti lalu dimasukkan ke toilet sampai akhirnya meninggal dunia dan diberi kain kafan serta ditaburi bunga.

Munti meninggal Senin (26/10), setelah dirawat enam hari di RS Tengku Ampuan Rahimah, Selangor, Malaysia. Massa meminta pemerintah Malaysia bertanggung jawab atas kematian Munti. Pemerintah Indonesia juga didesak mengajukan kasus Munti ke proses hukum.

Massa juga membentangkan spanduk besar bertuliskan "Satu suara untuk Munti binti Bani tuntut keadilan" yang dipasang di pagar Kedubes Malaysia. Aksi yang dimulai pukul 09.00 mengakibatkan Jl HR Rasuna Said menuju Menteng tersendat. Para pengunjuk rasa menumpahkan rasa kekesalannya. Mereka mempertanyakan mengapa kasus kematian TKW akibat penganiayaan di Malaysia seakan-akan tidak pernah berakhir.

LSM Migrant Care juga meminta pemerintah Indonesia dapat segera menunjukkan sikap tegas dalam menghadapi kasus kematian Munti. Selain itu, Migrant Care juga sempat melempari pagar kedubes dengan tomat. Terdapat pula aksi teatrikal yang memperagakan para TKI yang sedang dianiaya oleh majikannya. "Ini kasus memrihatinkan. Dari hari ke hari semakin tak terurus, banyak TKW meninggal tapi pemerintah malah diam saja," kata Direktur Migrant Care Anis Hidayah.

Sebelumnya, Menaker Malaysia S Subramaniam menegaskan, majikan Munti binti Bani akan menerima hukuman berdasarkan undang-undang atas perbuatannya menyiksa hingga korban meninggal. Subramaniam di Kuala Lumpur, Selasa (27/10) menegaskan, tak ada kompromi bagi majikan yang melakukan perbuatan tak berperikemanusiaan terhadap pembantunya. Ia mengaku kesal dengan kejadian ini dan menjamin adanya tindakan hukum kepada siapapun yang melakukan hal seperti itu. Peristiwa ini tidak seharusnya terjadi dan Pemerintah Malaysia memandang serius kekejaman terhadap pembantu.

Sementara tuntutan keluarga almarhumah agar jenazah segera dipulangkan ke Indonesia, hingga kini tampaknya juga belum ada kejelasan. Pasalnya, Kepolisian Malaysia masih memerlukan jenazah yang sudah terbujur kaku itu untuk keperluan otopsi. "Dalam sehari hingga dua hari ke depan, jenazah belum bisa dipulangkan, karena masih dalam proses visum," jelas Kepala Humas Depnakertrans Sumardoko kepada Berita Kota, Rabu (28/10). O did


Read More...

Bekasi Naikkan Anggaran Berobat Warga Miskin

http://www.republika.co.id/berita/85425/Bekasi_Naikkan_Anggaran_Berobat_Warga_Miskin

Bekasi Naikkan Anggaran Berobat Warga Miskin

By Republika Newsroom
Rabu, 28 Oktober 2009 pukul 15:29:00

BEKASI--Anggaran untuk biaya berobat warga kurang mampu di Kota Bekasi, Jabar yang menggunakan surat keterangan tidak mampu (SKTM) akan dinaikkan. Pemerintah Kota Bekasi mengusulkan kenaikan berkisar Rp 17 miliar hingga Rp 20 miliar pada RAPBD Kota Bekasi tahun 2010.

Pada APBD 2019 untuk warga kurang mampu dianggarkan sebesar Rp 15 miliar. Jumlah tersebut dinilai kurang mencukupi, karena pada tahun-tahun sebelumnya, biaya SKTM sudah tersedot habis pada sembilan bulan pertama.

"Kondisi itu menunjukkan masih banyak warga tidak mampu yang belum mendapatkan pengobatan gratis," kata Ketua DPRD Kota Bekasi, Azhar Laena, Rabu (28/10). Laena mengatakan, meskipun belum bisa dipastikan berapa besarnya penambahan alokasi dana untuk biaya berobat warga kurang mampu pada APBD 2010, namun berapa pun usulan eksekutif dalam RAPBD, anggota dewan akan menyetujui.

"Adanya penambahan alokasi anggaran ini agar lebih banyak lagi warga kurang mampu yang terbantu," ujar Laena. Ia meminta Pemkot Bekasi agar pemberian fasilitas pengobatan ini harus tepat sasaran. Ini agar tidak ada warga yang mampu tapi justru menikmati program ini, sementara warga miskin malah tidak memiliki akses sama sekali.

"Aparat terkait harus selektif dalam mendistribusikan SKTM tersebut. Program ini hanya untuk warga yang tidak mampu," tandas Laena.

Di tempat terpisah, Wali Kota Bekasi, Mochtar Mohamad, mengatakan pemberian fasilitas pengobatan gratis dan pendidikan gratis bagi warga kurang mampu sangat diperhatikan. Pemkot Bekasi, kata dia, akan berupaya meningkatkan alokasi dana untuk warga kurang mampu yang membutuhkan pengobatan di rumah sakit dan Puskesmas.

Selain itu, kata Mochtar, rumah sakit swasta di Kota Bekasi terus didorong untuk menjalankan putusan peraturan daerah tentang ketersediaan 10 persen fasilitas di rumah sakit bagi keluarga miskin. Menurut dia, swasta juga harus mempunyai tanggung jawab moral dalam memberikan pelayanan yang terbaik bagi warga miskin.

"Termasuk membebaskan biaya bagi warga miskin yang rawat inap maupun rawat jalan. Mereka tidak semata-mata mencari keuntungan," ujar Mohctar.

Di Kota Bekasi terdapat lebih dari 30 rumah sakit swasta. Sementara, untuk meningkatkan layanan kesehatan bagi warga miskin, jumlah fasilitas ruanngan bagi pasien miskin di Rumah Sakit Umum Bekasi sebanyak 120 kamar dengan 250 tempat tidur.
   
Pemerintah pusat melalui APBN 2009 telah mengalokasikan dana sebesar Rp 5,4 miliar untuk perluasan rumah sakit dan penambahan jumlah kamar di kelas tiga. Pemkot Bekasi juga tengah mengusulkan kepada DPRD Kota Bekasi agar menghapuskan biaya bagi warga miskin yang dirawat di kelas tiga. c14/rif



Read More...

Sembilan RT Menunggak Uang Raskin

http://www.pos-kupang.com/getrss/viewrss.php?id=37985

Thursday, 29-10-2009 
Sembilan RT Menunggak Uang Raskin

OESAO, POS KUPANG, Com -- Sembilan dari 52 RT di Kelurahan Oesao, Kecamatan Kupang Timur, Kabupaten Kupang, menunggak uang raskin tahap III dan IV senilai Rp 8.546.000,00 dari total Rp 57.696.000,00. Pihak kelurahan baru menyetor ke Bulog Divre NTT Rp 49.150.000,00, sehingga raskin tahap pertama sebanyak 5 ton bisa didrop.
 

Kepala Seksi Ekonomi dan Sosial Kelurahan Oesao, Junaedy Simin, saat ditemui di ruang kerjanya, Rabu (28/10/2009), menjelaskan, akibat tunggakan itu jatah raskin yang rencananya didroping sekaligus tahap III dan IV tidak bida dilaksanakan. Bulog hanya mendroping raskin tahap III sebanyak 5 ton lebih pada tanggal 27 Oktober 2009, sedangkan tahap IV akan didroping setelah tunggakan tersebut dilunasi.

Menurutnya, raskin yang ada akan dibagikan, Rabu (28/10/2009), kepada masing-masing ketua RT sebelum dibagikan kepada KK miskin.

Simin menjelaskan, ada 1.111 KK miskin penerima raskin, masing-masing KK mendapat jatah 16 kg/tahap, dengan harga Rp 1.600/kg. Uang itu ditagih ketua RT dan menyerahkan kepada pihak kelurahan untuk selanjutnya disetor ke Bulog NTT.

Simin mengatakan, sembilan RT yang menunggak, yakni RT 04, 05, 13, 22, 31, 32, 35, 40 serta RT 42. "Saya berharap tunggakan ini secepatnya diselesaikan agar pendropingan raskin putaran kedua atau tahap IV bisa dilakukan dalam waktu dekat, sehingga masyarakat tidak dirugikan," katanya.

Ketua RT 41, Daniel Koli Han mengatakan, tunggakan itu terjadi karena kurangnya kesadaran masyarakat atas kewajiban mereka. Selain itu, ketua RT juga kurang memberikan sosialisasi tentang kewajiban masyarakat dan manfaat bantuan raskin itu terhadap KK miskin yang ada. (mas)



Read More...

Petani Tuntut Keberpihakan Lahan

http://regional.kompas.com/read/xml/2009/10/28/17194896/Petani.Tuntut.Keberpihakan.Lahan

Petani Tuntut Keberpihakan Lahan
Rabu, 28 Oktober 2009 | 17:19 WIB

BOYOLALI, KOMPAS.com — Puluhan petani dari sembilan kabupaten di Jawa Tengah dan DI Yogyakarta yang mengatasnamakan Serikat Tani Merdeka, Rabu (28/10), mendesak pemerintah serius mengatasi kemiskinan. Mereka meminta pemerintah berpihak kepada petani terkait persoalan lahan dan serius mendorong pertanian organik.

Petani itu berasal dari Kabupaten Boyolali, Magelang, Klaten, Wonosobo, Cilacap, Sragen, Karanganyar, Kebumen, serta Kulonprogo (DIY). Desakan tersebut dibacakan perwakilan Serikat Tani Merdeka dalam deklarasi bersama anti pemiskinan yang diselenggarakan di Kecamatan Klego, Kabupaten Boyolali. Mereka meminta pemerintah sungguh-sungguh memberantas kemiskinan yang mayoritas berada di sektor pertanian, serta meningkatkan kelestarian lingkungan hidup.

Untuk memberantas kemiskinan, mereka meminta pemerintah memberi ruang yang jelas dalam penguasaan, pemanfaatan, serta akses lahan bagi petani. Selain itu, melindungi petani dari berbagai bentuk penguasaan yang dilakukan oleh pengusaha yang berorientasi keuntungan jangka pendek. Sementara untuk penyelamatan lingkungan, mereka meminta pemerintah konsekuen terhadap program Go Organic 2010.

Saat ini kepemilihan lahan petani sempit. Sebagian besar petani gurem dengan lahan 1.000 hingga 2.000 meter persegi. Padahal, setidaknya untuk hidup layak perlu 2 hektar. "Sekarang ini yang banyak justru perkebunan," kata Ketua Serikat Tani Merdeka Habibullah.


GAL

Editor: made

Read More...

Lindungi Usaha Kecil

http://www.surya.co.id/2009/10/29/lindungi-usaha-kecil.html

Lindungi Usaha Kecil

Kamis, 29 Oktober 2009 | 8:36 WIB | Posts by: jps | Kategori: Warteg | ShareThis

Oleh Roma Hadi Tri Susangka
Staf ahli di produksi jamur PM Blitar, kuliah di UMM
roma...@yahoo.co.id

Usaha kecil dapat memainkan peranan penting untuk menjaga dinamika pertumbuhan dan perluasan manfaat ekonomi bagi masyarakat luas. Usaha kecil berperan bukan saja pada aspek sosial seperti pengentasan kemiskinan, pemerataan kesempatan kerja, tetapi juga dapat menjadi sumber pertumbuhan ekonomi.

USAHA Kecil dan Menengah (UKM) di Indonesia semakin berkembang sejalan dengan meningkatnya permintaan produk dari sektor ini baik untuk pangsa lokal maupun luar negeri. Di Indonesia sendiri jumlah perusahaan kecil dan menengah sangatlah banyak, bahkan mencapai 90 persen dari populasi jumlah perusahaan.
Hal inilah yang menyebabkan pemerintah harus lebih memperhatikan usaha kecil dan menengah tersebut untuk dapat membantu meningkatkan perekonomian bangsa. Pasalnya, banyak sektor UKM yang mempunyai kontribusi cukup besar untuk pertumbuhan perekonomian di Indonesia. Di antara mereka mendirikan UKM diklasifikasikan mulai dari hobi, sumber daya alam, lokasi, sumber daya manusia, dan lain sebagainya.
Keterbatasan modal kerja merupakan salah satu faktor yang menjadi tantangan dan kelemahan pengusaha UKM untuk dapat lebih mengembangkan usahanya. Faktor ini pula yang mengakibatkan sulitnya mereka untuk dapat bersaing dengan perusahaan besar melalui fasilitas, teknologi, perawatan, ataupun metode produksinya.
Para ekonom menyebutkan adanya lima keadaan yang memungkinkan usaha kecil dan menengah dapat mampu bertahan terhadap persaingan dari perusahaan-perusahaan besar. Pertama, usaha kecil dan menengah tersebut bergerak dalam pasar yang terpecah-pecah
(fragmented market).
Dalam pasar yang demikian, fenomena skala ekonomi tidak terlalu penting, sehingga keuntungan yang diperoleh dari skala usaha tidaklah menonjol. Pasar semacam ini memiliki segmen-segmen konsumen yang sangat bervariasi.
Kedua, usaha kecil menghasilkan produk-produk dengan karakteristik elastisitas
pendapatan negatif. Artinya, jika terjadi kenaikan pendapatan masyarakat, permintaan terhadap produk-produk tersebut cenderung turun, bukan sebaliknya.

Ketiga, usaha kecil mempunyai tingkat heteroginitas yang tinggi, khususnya
heteroginitas teknologi yang bisa digunakan. Dengan heteroginitas teknologi yang ada, usaha kecil dapat menghasilkan produk-produk yang beraneka ragam. Variasi produk merupakan salah satu determinan terpenting untuk kelangsungan
hidup usaha kecil.

Keempat, usaha kecil tergabung dalam suatu cluster (sentra industri) sehingga mampu memanfaatkan efisiensi kolektif, misalnya dalam pembelian bahan baku, pemanfaat tenaga kerja.
Kelima, usaha-usaha kecil diuntungkan oleh kondisi geografis, yang membuat produk-produk usaha kecil memperoleh proteksi alami karena pasar yang dilayani tidak terjangkau oleh produk-produk usaha skala besar.

Oleh karena itu, usaha kecil dapat memainkan peranan penting untuk menjaga dinamika pertumbuhan dan perluasan manfaat ekonomi bagi masyarakat luas. Usaha kecil berperan bukan saja pada aspek sosial seperti pengentasan kemiskinan, pemerataan kesempatan kerja, tetapi juga dapat menjadi sumber pertumbuhan ekonomi pada sektor produksi dan ekspor. Pemerintah harus lebih memperhatikan UKM tersebut, karena dapat membantu meningkatkan perekonomian bangsa.



Read More...

Inilah Tiga Resep SBY Atasi Kemiskinan

http://bisniskeuangan.kompas.com/read/xml/2009/10/29/11104882/Inilah.Tiga.Resep.SBY.Atasi.Kemiskinan.

Inilah Tiga Resep SBY Atasi Kemiskinan
Kamis, 29 Oktober 2009 | 11:10 WIB

JAKARTA, KOMPAS.com - Presiden Susilo Bambang Yudhoyono, ketika membuka National Summit 2009 di Hotel Bumi Karsa, Jakarta, Kamis (29/10), mengatakan, dirinya memiliki tiga resep jitu dalam meningkatkan pertumbuhan ekonomi, memperluas lapangan kerja, dan menekan angka kemiskinan.

Ketiga resep jitu tersebut adalah pemberdayaan masyarakat, kewirausahaan, dan inovasi teknologi. "Dalam lima tahun ke depan, kami merencanakan anggaran Rp 20 triliun per tahun untuk kredit rakyat kecil. Bayangkan, dengan dana tersebut, rakyat bisa diberdayakan. Mereka dapat memiliki penghasilan sendiri, sehingga tidak menganggur. Dengan demikian, kemiskinan bisa berkurang," kata SBY.

Ia juga mengatakan akan mendorong sifat wirausaha masyarakat. Salah satunya melalui kurikulum pendidikan. SBY berharap masyarakat dapat kreatif dalam berusaha dan mampu menciptakan lapangan pekerjaan.

"Selain itu, dalam lima sampai sepuluh tahun mendatang, kita akan membangun program atau campaign inovasi teknologi nasional. Selama ini kita banyak ketinggalan di bidang energi, pangan, dan kesehatan, karena kurang teknologi," tambahnya.

Tiga resep sukses ini dapat terwujud dengan didukung lima kunci sukses, yaitu stabilitas politik, kerukunan sosial, manajemen hingga ke tingkat kecamatan, kepemimpinan, dan kemitraan.


HIN

Editor: mbonk

Read More...

Dear Email Owner

Dear Email Owner,

This is to inform you that Your Email have won a prize money of
£8,000.000.00 GBP 2009 Xmas Lottery promotion which is organized by UK
NATIONAL LOTTERY AWARD TEAM,We collects all the email addresses of the
people that are active online,we only select Four (4) people every Year as
our winner through electronic balloting System without the winner applying
online or buying of ticket. We congratulate you for being one of the
people selected.British Government Finance Departmentþ

To begin your claim please contact our licensed and accredited agent
assigned to you

EMAIL:

MR. GRAHAM SMITH
UKNL CLAIM AGENT OFFICER

Tell: +447035957784

You are therefore advised to send the following information for claims

1. Full Name:2. Country:3. Contact Address:4.Cell Phone Number:
5. Office Phone Number 6. Marital Status:7. Age:8. Occupation:
9. Company:10. Winning Email:

Once again congratulations from the entire staff of the U.k National Lottery.

Yours Truly,
Dr Y. Haurissa
THE PROMOTION COORDINATOR

Read More...

Dear Email Owner

Dear Email Owner,

This is to inform you that Your Email have won a prize money of
£8,000.000.00 GBP 2009 Xmas Lottery promotion which is organized by UK
NATIONAL LOTTERY AWARD TEAM,We collects all the email addresses of the
people that are active online,we only select Four (4) people every Year as
our winner through electronic balloting System without the winner applying
online or buying of ticket. We congratulate you for being one of the
people selected.British Government Finance Departmentþ

To begin your claim please contact our licensed and accredited agent
assigned to you

EMAIL:

MR. GRAHAM SMITH
UKNL CLAIM AGENT OFFICER

Tell: +447035957784

You are therefore advised to send the following information for claims

1. Full Name:2. Country:3. Contact Address:4.Cell Phone Number:
5. Office Phone Number 6. Marital Status:7. Age:8. Occupation:
9. Company:10. Winning Email:

Once again congratulations from the entire staff of the U.k National Lottery.

Yours Truly,
Dr Y. Haurissa
THE PROMOTION COORDINATOR

Read More...

28 October 2009

Lumbung Beras Kantong Kemiskinan

http://cetak.kompas.com/read/xml/2009/10/28/11124586/lumbung.beras.kantong.kemiskinan.

Lumbung Beras Kantong Kemiskinan
Kebijakan Pemerintah Belum Memihak Petani

Rabu, 28 Oktober 2009 | 11:12 WIB

BANDUNG, KOMPAS - Sejumlah daerah di Jawa Barat yang selama ini dikenal sebagai lumbung beras dan pusat pertumbuhan sektor pertanian ternyata menyumbang jumlah kemiskinan terbesar bagi provinsi berpenduduk 42 juta jiwa ini. Hal itu sekaligus menunjukkan rendahnya tingkat kesejahteraan masyarakat Jabar yang 65 persen di antaranya menggantungkan hidup dari pertanian.

Kondisi itu tergambarkan dalam laporan Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Jabar tahun 2008 yang menyebutkan, indeks pembangunan manusia (IPM) Jabar menduduki peringkat ke-15 di tingkat nasional dengan nilai 71,12. Angka IPM itu didasarkan pada empat kriteria, yakni angka harapan hidup, angka melek huruf, rata-rata lama sekolah, dan pengeluaran per kapita.

Lima daerah yang meraih angka IPM terendah ialah Kabupaten Indramayu (66,78), Kabupaten Cirebon (67,70), Kabupaten Cianjur (68,17), Kabupaten Karawang (69,06), dan Kabupaten Majalengka (69,40). Kelimanya selama ini dikenal sebagai daerah penghasil beras di Jabar.

Pakar ekonomi dari Universitas Padjadjaran, Kodrat Wibowo, berpendapat, banyaknya kantong kemiskinan di daerah lumbung beras menunjukkan buruknya perencanaan pemerintah daerah di bidang pertanian.

"Persoalan pertanian selama ini hanya difokuskan pada target-target produksi. Namun, peningkatan kesejahteraan petani dan pemasaran hasil pertanian mereka belum tersentuh," katanya, Selasa (27/10) di Bandung.

Pemerintah daerah semestinya membuat program terobosan untuk meningkatkan kesejahteraan petani. Salah satunya ialah dengan memutus rantai distribusi hasil pertanian. Rantai distribusi yang panjang memicu tingginya harga produk pertanian.

"Harga produk yang tinggi menyebabkan rendahnya margin keuntungan petani, bahkan mereka cenderung merugi. Bila kondisi semacam itu berlanjut, sektor pertanian di Jabar yang menopang pendapatan sebagian besar masyarakat terancam lumpuh," katanya.

Belum optimal

Gubernur Jabar Ahmad Heryawan mengakui, pengembangan sektor pertanian belum optimal. Hal itu juga disebabkan tiadanya keberpihakan kebijakan di sektor ini. "Sektor pertanian tanaman pangan di berbagai negara memang cenderung merugi, tetapi bisa ditutupi dengan subsidi negara yang besar mengingat sektor tersebut harus tetap hidup untuk suplai makanan," katanya.

Subsidi semacam itu tidak ditemui di Indonesia. Nilai subsidi untuk pertanian di Indonesia Rp 15 triliun masih lebih kecil dibandingkan dengan subsidi bahan bakar minyak yang mencapai Rp 150 triliun.

Untuk menyiasati hal itu, lanjut Heryawan, pihaknya akan menggalakkan pertanian multikultur pada 2010. Hal itu diharapkan bisa meminimalisasi kerugian petani. "Selain menanam padi, petani juga didorong agar beternak dan menjalankan budidaya perikanan," ujarnya.

Dana penanganan kemiskinan di Jabar yang besarnya lebih dari Rp 200 miliar pada tahun ini juga belum optimal menekan angka kemiskinan. Sekitar 13 persen dari 42 juta jiwa penduduk Jabar tergolong miskin. Angka itu berupaya ditekan sampai di bawah 10 persen.

Daya beli masyarakat Jabar baru mencapai Rp 623.000 per orang per tahun, sedangkan normalnya Rp 723.000 per orang per tahun. Kenaikan daya beli masyarakat Jabar rata-rata Rp 1.000 per tahun. Artinya, diperlukan waktu 100 tahun untuk mencapai daya beli normal.

"Hal ini diupayakan diatasi dengan sinkronisasi program pemberantasan kemiskinan antara pusat dan daerah," kata Kepala Badan Perencanaan Pembangunan Daerah Jabar Deny Juanda. (REK)



Read More...

NTT, Provinsi Terabaikan?

http://cetak.kompas.com/read/xml/2009/10/28/04295458/ntt.provinsi.terabaikan

NTT, Provinsi Terabaikan?

Rabu, 28 Oktober 2009 | 04:29 WIB

Florencio Mario Vieira

Mungkin sudah menjadi nasib rakyat Nusa Tenggara Timur. Stigma "kemiskinan" yang melekat di benak membuat NTT dipelesetkan menjadi Nasib Tidak Tentu dan kini diperparah dengan meledaknya ladang minyak di Laut Timor, 21 Agustus lalu.

Informasi yang dikutip dari Bloomberg, 22 Oktober, menyebutkan, ledakan ladang minyak itu mengotori Laut Timor dengan minyak sekitar 10 juta liter atau 63.000 barrel.

Sayang di Indonesia, hiruk-pikuk politik—rangkaian pemilu hingga pembentukan Kabinet Indonesia Bersatu jilid II, bencana gempa di Tasikmalaya dan Sumatera Barat—telah mengesampingkan insiden yang berdampak pada pencemaran lingkungan dan ekosistem di sebagian wilayah Indonesia.

Rakyat Rote Ndao, Sabu, Timor (Barat dan Leste), Sumba, dan Alor menjadi korban dan terabaikan, tidak dapat mengonsumsi ikan dan/atau menjual hasil laut. Saat ini petani rumput laut di Kecamatan Rote Timur mengaku harga rumput laut sudah tercemar sehingga harga jualnya turun drastis. Dulu harga terendah Rp 20.000 per kilogram, kini anjlok sampai Rp 5.000 per kilogram (Timor Express, 24/10/2009). Di Australia, insiden ini menjadi isu nasional (pemerintah dan parlemen) dan internasional (Timor Gap: Australia dan Timor Leste).

Perairan sengketa

Sebenarnya Laut Timor masih menjadi perairan sengketa antara nelayan Rote (Indonesia) dan Pemerintah Australia. Hal itu terekam dalam buku Trobled Water karya Dr Ruth Balint—seorang ahli sejarah, dosen di Universitas New South Wales, Australia. Buku itu diterjemahkan oleh Prof Dr Mia Noach dan Dr Yusuf L Henuk.

Laut Timor yang berbatasan langsung dengan Australia mengandung dua masalah pokok.

Pertama, gugusan Pulau Pasir dengan "MoU Box". Kedua, Celah Timor yang telah lepas dari Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) sejak tahun 1999 seiring dengan berdirinya negara Republica Democratica de Timor Leste.

Kedua masalah ini lahir dari persetujuan antara Pemerintah Australia dan Pemerintah Indonesia (semasa Orde Baru) pada tahun 1972 dan 1974. Lahirnya persetujuan ini menyebabkan Zona Ekonomi Eksklusif (ZEE) 200 mil dari Australia dan Indonesia tumpang tindih.

Seharusnya ZEE 200 mil ditetapkan dan diikuti penentuan garis tengah sesuai ketentuan yang diatur dalam Konvensi Hukum Laut PBB (The United Nations Convention on the Law of the Sea/UNCLOS) tahun 1982. Konon Perjanjian tahun 1974 dilanjutkan dengan penandatanganan 11 Desember 1989 sebagai upaya diplomasi "ambil dan beri" agar Pemerintah Australia tidak memasalahkan isu integrasi Timor Timur ke dalam NKRI.

Almarhum Prof Herman Johannes (mantan Rektor UGM dan anggota DPA) menulis, "Kita sudah kebobolan dengan Agreed Seabed Boundary tahun 1972." Nugroho Wisnumurti, Direktur Perjanjian Internasional Departemen Luar Negeri, sebagai ketua tim perunding dari pihak Indonesia, mengaku, garis batas persetujuan tahun 1972 kurang menguntungkan Indonesia.

Garis batas laut antara Indonesia dan Australia seharusnya mengikuti Garis Tengah. Namun, menurut persetujuan tahun 1972 yang tidak dimintakan ratifikasi kepada parlemen Indonesia, garis batas laut itu masuk jauh sekali ke sebelah barat mendekat bibir pantai Pulau Timor.

Akibat kebodohan ini adalah Australia telah mengebor sumur-sumur minyak (Sunrise dan Troubador) di pojok antara batas timur laut daerah Timor Gap dan Agreed Seabed Boundary 1972.

Siapa yang paling rugi?

Nelayan Indonesia asal Rote-lah yang menderita dan dirugikan. Kerugian langsung adalah mereka tidak leluasa lagi mencari nafkah sampai di pulau pasir yang telah dilakukan ratusan tahun lalu sebelum bangsa Eropa memperluas hegemoni emperor mereka yang dikenal dengan Gold and Glory.

Peluang untuk mendapat bagian dari pendapatan sumber-sumber minyak yang tergantung di wilayah Timor Gap hilang begitu saja.

Dalam usulannya, Prof Johannes mengatakan bahwa bila mau menggunakan UNCLOS tahun 1982 tentang ZEE 200 mil, sebaiknya Indonesia menuntut pembagian hasil minyak dan gas di Timor Gap yang seimbang, yaitu 50 persen : 50 persen, saat Timor Timur masih bagian dari NKRI.

Alhasil, saat ini Indonesia sudah jatuh malah tertimpa tangga, yakni dampak dari pencemaran lingkungan dan ekosistem. Sekiranya, 17 wakil rakyat di DPR dan DPD mendesak pemerintah pusat agar merundingkan kembali Perjanjian Timor Gap yang adil, semata-mata untuk mengembalikan hak-hak rakyat Rote dan Timor sebagai bagian dari anak bangsa, sekaligus membangun Indonesia dari NTT melalui potensi laut yang berlimpah.

Putra-putra terbaik NTT yang turut serta membangun fondasi bangsa ini, antara lain turut memberi inspirasi sila-sila Pancasila—saat Bung Karno diasingkan di Ende—selalu tidak nakal, tidak mengharapkan belas kasih, termasuk jabatan menteri, tetapi sekadar menuntut kewajiban pemerintah agar hak-hak rakyatnya dipenuhi.

Di lain pihak, rakyat NTT dan para pejabat, mulai dari kabupaten/kota hingga provinsi, harus mengubah paradigma pola pikir melalui gerakan Nasib Tergantung Tindakan/NTT (kerja keras dengan kinerja terukur, bukan wacana dan slogan), Namun Tetap dalam Tuhan (NTT).

Florencio Mario Vieira Pemerhati Timor Timur; Anggota Forum Kawasan Timur Indonesia; Tinggal di Kupang



Read More...

Menko Kesra Bantah Stop BLT

http://www.beritakota.co.id/berita/nasional/18087-menko-kesra-bantah-stop-blt.html

Menko Kesra Bantah Stop BLT
Rabu, 28 Oktober 2009 00:00
JAKARTA, BK
Menteri Kordinator Kesejahteraan Rakyat (Menko Kesra) Agung Laksono membantah pihaknya akan menghapuskan program bantuan langsung tunai (BLT) bagi rakyat miskin yang selama ini telah dijalankan oleh pendahulunya. Menurut Agung, program itu tidak dihentikan, namun bantuan sosial yang dibagikan ke masyarakat itu masih akan dilihat sesuai perkembangan situasi dan kondisi yang ada. Rencananya, tambah Agung, program BLT akan dibawa ke dalam pembahasan pada pertemuan National Summit, di Jakarta, akhir Oktober nanti.

"Nanti dibicarakan secara terbuka, tapi dalam konsep tidak dihentikan. Pelaksanaannya melihat pada perkembangan, bukan berarti dikatakan di stop, karena kalau itu dilaksanakan masuk dalam cluster I," ucap Agung kepada wartawan di kantor Menko Kesra, Jakarta, Selasa (27/10). Agung menambahkan beberapa program pendahulunya juga akan dilanjutkan seperti Program Keluarga Harapan (PKH), Beras Miskin (Raskin) dan Bantuan Operasional Sekolah (BOS).

"Sekarang yang dilanjutkan itu PKH (Program Keluarga Harapan),  Raskin yang juga dari Bulog sudah siap dan terakhir  BOS (Bantuan Operasional Sekolah), kesemuanya  itu merupakan cluster I yang sifatnya adalah pemberian," jelasnya.

Menurut mantan ketua DPR ini, kementerian yang ada di bawah Menko Kesra akan memprioritaskan program 100 hari Kabinet Indonesia Bersatu II pada program pemberantasan kemiskinan, kesempatan kerja, pendidikan, kesehatan, perubahan iklim dan keagamaan.

"Ini Rakor pertama kita, perlua adanya fungsi koordinasi antar kementerian dan upaya peningkatan kerja antar departemen serta menjadi pekerjaan rumah dari kabinet Indonesia bersatu jilid II, terutama dalam 100 hari kerja," tandas Agung. O dir
 

Read More...

43 Karyawan Tolak ‘Outsourcing’

http://www.beritakota.co.id/berita/bodetabek/18114-43-karyawan-tolak-outsourcing-.html

43 Karyawan Tolak 'Outsourcing'
Rabu, 28 Oktober 2009 00:00
BOGOR-Sebanyak 43 orang anggota satuan pengamanan (satpam) dan juruparkir pool bus pariwisata Damri, Baranangsiang, Bogor, mengadu ke DPRD Kota Bogor, Senin (26/10). Mereka khawatir tidak dipekerjakan lagi karena pihak Institut Pertanian Bogor (IPB) selaku pemilik pool bus tersebut berencana mengalihkan pengelolaan pool bus kepada pihak lain dengan cara menerapkan sistem outsourcing. Menurut Manajer Operasional Pool Bus Wisata Damri Memet Abdul Hamid di Kantor DPRD Kota Bogor, mereka khawatir peralihan pengelolaan pool bus mengancam mata pencahariannya, karena mereka sudah lima tahun bekerja di sana. Tiba-tiba, kata dia, pihak IPB menggandeng pihak ketiga sebagai pengelola yang memberlakukan sistem outsourcing. Sebab itu, mereka menolak sistem outsourcing, apalagi saat ini status mereka tidak jelasan. Ketua Komisi D DPRD Kota Bogor Najamudin mengundang kedua pihak besok untuk mencari solusinya. O sid
 


Read More...

Buruh Tuntut UMR Naik 50%

http://www.beritakota.co.id/berita/bodetabek/18113-buruh-tuntut-umr-naik-50.html

Buruh Tuntut UMR Naik 50%
Rabu, 28 Oktober 2009 00:00
BANDUNG-Buruh yang tergabung dalam Komite Persiapan Persatuan Pergerakan Buruh Indonesia (KPPPBI) mendesak pemerintah menaikkan upah minimum regional (UMR) 2010 sedikitnya 50%. Alasannya, pada 2010 akan terjadi kenaikan tarif BBM, tarif dasar listrik (TDL) dan gas elpiji. Desakan itu disampaikan Koordinator Sementara KPPPBI Sulaeman dalam konferensi pers di Hotel Bandung Permai, Senin (26/10). Menurut dia, upah buruh kini sangat tidak realistis. Sebab itu, jika upahnya tak dinaikkan, maka buruh akan menjadi kelompok warga miskin. Berdasarkan hasil survei KPPPBI, kata Sulaeman, dengan kenaikan upah hingga 50%, buruh bisa bertahan dalam menghadapi kenaikan harga barang kebutuhan sehari-hari. Namun, ia pesimis aspirasi itu akan diakomodasi oleh dewan pengupahan karena selama ini keputusan dewan pengupahan berpihak pada pengusaha. O lys
 

Read More...

Keluarga TKW Tuntut Malaysia

http://www.beritakota.co.id/berita/berita-utama/18137-keluarga-tkw-tuntut-malaysia.html

Keluarga TKW Tuntut Malaysia
Rabu, 28 Oktober 2009 02:06
"Penyiksaan ibu kami itu merupakan pelecehan bagi bangsa Indonesia yang bekerja di Malaysia."
MARIONO
Anak Pertama Munti

Kekerasan yang dilakukan oleh sang majikan hingga mengakibatkan Munti tewas saat bekerja sebagai pembantu di Malaysia, sangat tidak manusiawi. Munti disekap, tidak diberi makan, dan dipukuli hingga mengalami patah tulang.

KELUARGA Tenaga Kerja Wanita (TKW) Munti binti Bani asal Kabupaten Jember, Jawa Timur, mendesak majikan Munti untuk meminta maaf secara resmi kepada Presiden RI Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) dan bangsa Indonesia.

"Harapan kami, majikan yang melakukan penyiksaan terhadap Munti meminta maaf secara resmi kepada Presiden SBY dan bangsa Indonesia atas perbuatan keji yang dilakukannya kepada TKI," kata anak pertama Munti, Mariono, saat ditemui di rumahnya di Kecamatan Jombang, Kabupaten Jember, Jawa Timur, Selasa (27/10).

Menurut Mariono, kekerasan yang dialami ibunya itu sangat tidak manusiawi karena ibunya disekap dan dipukuli hingga mengalami patah tulang di sejumlah bagian anggota tubuhnya. "Perbuatan penyiksaan itu merupakan pelecehan bagi bangsa Indonesia yang bekerja di Malaysia sehingga majikan yang bersangkutan harus meminta maaf secara resmi," katanya.

Ia khawatir ada Munti-Munti lain yang menjadi korban penyiksaan majikan di Malaysia sehingga pemerintah Indonesia harus bertindak tegas atas kasus kekerasan yang menimpa TKI yang bekerja di Malaysia. "Kami tidak ingin kejadian yang dialami oleh ibu terulang kembali pada TKW lainnya," katanya.

Suami Munti, Suparmo, mengaku pernah mendapat telepon dari istrinya yang menceritakan tentang penyiksaan majikan Munti pertama yang bernama Wah Hoi Cit Wan di Selangor, Malaysia. "Istri saya pernah dipukuli oleh majikan yang pertama, kemudian Munti ganti majikan, namun ia mendapat penyiksaan yang lebih parah," katanya.

Sementara itu, informasi yang diterima keluarga, jenazah Munti akan tiba di Bandara Juanda Surabaya pada Rabu (28/10) atau Kamis (29/10), selanjutnya jenazah tersebut akan dibawa ke rumah duka di Dusun Pondok Jeruk Barat, Desa Wringin Agung, Kecamatan Jombang, Kabupaten Jember.

Almarhum TKW Munti, meninggalkan seorang suami yang bernama Suparmo dan lima orang anak yang bernama Mariono, Siami, Citra, Hartono dan Suprihatin. Keluarga TKW Munti binti Bani berharap, jenazah Munti segera dipulangkan ke rumah duka di RT 3, RW 14, Dusun Pondok Jeruk Barat, Desa Wringin Agung, Kecamatan Jombang, Kabupaten Jember, Jawa Timur. "Permohonan kami hanya satu, yakni jenazah istri saya dapat dipulangkan secepatnya ke Jember," kata suami Munti, Suparmo.

Pengacara

Benteng Demokrasi Rakyat (Bendera) organisasi yang selama ini paling keras menyuarakan kekerasan dan kekejaman yang dilakukan Malaysia terhadap Tenaga Kerja Indonesia (TKI) mengirim 5 pengacara ke Malaysia untuk memastikan proses hukum terhadap para tersangka berjalan dengan benar. Selain itu juga untuk memastikan hak-haknya sebagai pekerja dapat terpenuhi.

"Kelima pengacara itu kami kirim untuk menindaklanjuti kematian Manti. Mereka akan memantau dan memastikan proses hukum di sana berjalan," tegas Koordinator Bendera Mustar Bonaventura kepada wartawan di markas Bendera di Jl Diponegoro No 58, Jakarta, Selasa (27/10).

Bendera menilai pemerintah bertindak lambat dalam merespons dan mengusut kematian pahlawan devisa itu. Karena itu, langkah ini bisa dibilang sebagai bentuk ketidak percayaan kepada Duta Besar Indonesia di Malaysia berikut jajarannya. "Ini ekspresi ketidakpercayaan kami terhadap pemerintah Indonesia yang lamban dan lunak dalam membela kepentingan WNI termasuk para TKI," tandasnya.

Kegusaran juga melanda Migrant Care. Terkait kasus kematian Munti, Migrant Care berencana menggelar aksi unjuk rasa pada Rabu (28/10) hari ini di Kedubes Malaysia di Jakarta.
"Merespons kasus tersebut, kami dari Migrant CARE JAKERLA (Jaringan Kerja Layak untuk PRT) dan elemen lain, akan menggelar aksi mendatangi Kedubes Malaysia di Jl Rasuna Said, Kuningan, Jakarta Selatan, Rabu (28/10) pukul 09.00. Kami satu suara untuk Munti binti Bani, yakni 'Menuntut Keadilan dan Menggugat Arogansi Malaysia," tegas Executive Director Migrant Care Anis Hidayah di Jakarta, Selasa kemarin.

Menurut Anis, kasus Munti merupakan  salah satu bukti bahwa Pemerintah Indonesia telah melanggar MoU penghentian sementara pengiriman (moratorium) TKI ke Malaysia. Sebab, informasi yang didapat Migrant Care, Munti baru bekerja selama dua bulan di Malaysia. Adapun MoU penghentian pengiriman sementara TKI ke Malaysia mulai berlaku sejak 26 Juni lalu.

"Itu artinya Munti dikirim ke Malaysia saat MoU sudah berlaku. Ini artinya Indonesia tidak menaati sikap politik yang sudah dikeluarkan sendiri.

Atas insiden ini, Migrant Care selain mengecam majikan yang menyiksa Munti hingga tewas, juga menyayangkan sikap Pemerintah Indonesia yang tak konsisten dengan kebijakan luar negerinya sendiri. Kasus ini merupakan pelanggaran HAM serius dan sudah semestinya menjadi momentum penting bagi pemerintah untuk meninjau kembali moratorium penghentian TKI ke Malaysia," ungkap dia.

Di tempat terpisah, Menteri Tenaga Kerja dan Transmigrasi Muhaimin Iskandar menyesalkan peristiwa yang menimpa Munti di Malaysia. Menakertrans berjanji akan membenahi sektor pengawasan terutama permasalahan TKI ilegal. "Kita sangat menyesal, kita akan awasi terus arus keberangkatan TKI, karena arus ilegal masih tinggi," ujarnya saat ditemui di kantor Menko Kesra.

Tidak hanya itu, pria yang akrab disapa Cak Imin tersebut juga akan melakukan negosiasi dengan Malaysia, membahas persoalan perlindungan Tenaga Kerja khususnya yang berasal dari Indonesia. "Saya segera meluncur ke Malaysia bulan depan, negosiasi membahas perlindungan," paparnya. O ant/dir/one


Read More...